FMEA merupakan metodologi proactive maintenance untuk menghilangkan atau mengurangi kegagalan yang sama terjadi kembali dengan analisis untuk mencari apa saja penyebabnya, bagaimana efeknya, tentunnya bagaimana cara mencegahnya (hal ini yang nantinya menghasilkan maintenance task-nya). metodologi FMEA banyak bersebaran, literaturnya dapat dibaca di internet. Metodologi FMEA yang berkembang biasanya mengikutsertakan beberapa parameter lainnya sebagai pembeda dengan metodologi FMEA lainnya.

Tanya – ridho irwansyah

Pada semester ini saya mengambil mata kuliah maintenance & condition monitoring, pada akhir semester ini saya mendapat tugas untuk menyusun makalah mengenai Failure Mode Effect Analysis (FMEA), saya berharap anggota milist sekalian kiranya sudi memberi masukan dan berbagi pengalaman mengenai penggunaan FMEA pada keseharian di dunia kerja.

Tanggapan 1 – Cak Tris

Pak Ridho,

Coba dicari di google banyak kok,
Kalau mau, saya juga ada materi trainingnya.

Tanggapan 2 – rosli normansyah

Mas Ridho,

FMEA itu awalnya banyak dipakai untuk program-program reliability peralatan mekanikal. Namun dalam perkembangan selanjutnya FMEA ini banyak digunakan untuk Risk Management bagi setiap aktifitas yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Ada 6 langkah yang sering dijadikan acuan dalam menganalisis reliability atau risk dengan FMEA ini adalah :

– Failure Model

– Failure Source

– Failure Frequency

– Failure Consequency

– Risk Rating

– Failure Control

Format templete terserah, yang penting bisa dipahami oleh siapapun yang ingin memanfaatkan data analysis FMEA ini.

Untuk lebih jelas saya sarankan mas Ridho membaca ‘Risk and Reliability Management’ karangan TR Moss, PhD. Disitu dijelas mengenai FMEA secara gamblang.

Mudah-mudahan sedikit penjelasan saya ini bisa sedikit membantu pemahaman mas Ridho.

Tanggapan 3 – Shanty Shanty

Hai Mas Ridho,

Mau nambahin ya..

Sepertinya untuk makalah failure analysis bisa aja kita ambil dari kehidupan sehari2. Misalnya, mur dan baut yang terkorosi, handle pintu yang retak karena fatigue, panci aluminium bocor, atau mungkin yang agak heboh seperti korosi CO2 di pipa atau korosi pd pipa PVC, etc. Dari situ nanti di analisa dari jenis perpatahan, structure micro, NDT sampai akhirnya menemukan alasan kenapa terjadi failure.

good luck!

Tanggapan 4 – Endri Prasetyo

Mas Ridho,

Saya nambahin.

Failure: kondisi yang tidak diharapkan, penyimpangan atau ketidaksesuaian

Mode: Mengindentifikasi hal2 yang menyebabkan ketidaksesuaian. Effect: akibat dari ketidaksesuaian sebagaimana efek terhadap customer, baik internal maupun eksternal.
Analysis: menginvestigasi, mencari cara pencegahan atau setidaknya mendeteksi.

Salah satu benefitnya adalah mengindentifikasi potential problem sebelum terjadi.
Setidaknya ada 3 factor yang diolah dalam FMEA ini yaitu SEVERITY, OCCURENCE dan DETECTABILITY. Ketiga factor ini nantinya ditabulasikan dalam analisa dan sebagai inputan dalam menghitung Risk Priority Number (RPN). RPN didapatkan dari perkalian ketiga faktor tsb.

RPN ini nantinya dibuatkan rangking, untuk yang nilainya besar akan menjadi prioritas dalam implementasi FMEA.
Saya rasa akan mudah dipahami jika anda membaca buku FMEA.

Tanggapan selengkapnya dari diskusi di Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan April 2009 ini dapat dilihat dalam file berikut: