Pemerintah meminta PT Pertamina tetap menjadi pemimpin pasar bahan bakar minyak, kendati telah banyak perusahaan minyak asing yang merambah bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah terus mengawasi perkembangan industri SPBU di Indonesia.

Tanya – hendrikawan@pertamina-up2

Pemerintah Ingin Pertamina Pimpin Pasar SPBU

Pemerintah terus mengawasi perkembangan industri SPBU di Indonesia.

Senin, 23 Maret 2009, 13:39 WIB

Hadi Suprapto, Ferial

SPBU Pertamina (VIVAnews/Tri Saputro)

BERITA TERKAIT

a.. Total Bangun SPBU di Depok, Bogor dan Bekasi

b.. Pertamina Siap Hadang Ekspansi Total

c.. Total Terus Ekspansi SPBU di Indonesia

web tools

VIVAnews – Pemerintah meminta PT Pertamina tetep menjadi pemimpin pasar bahan bakar minyak, kendati telah banyak perusahaan minyak asing yang merambah bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah terus mengawasi perkembangan industri SPBU di Indonesia.

‘Kami tidak diam. Kami memperhatikan perkembangan pasar SPBU, karena kami ingin Pertamina tetap memimpin pasar ini,’ kata Purnomo di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin 23 Maret 2009.

Menurut Purnomo, banyaknya SPBU asing yang beroperasi di Indonesia menjadi hal yang positif. Karena bisa memberi pelajaran kepada pasar dengan memberi banyak pilihan, selain Pertamina. Apalagi, pasar BBM nasional akan dilepas ke pasar sehingga nantinya sudah tidak ada lagi subsidi BBM.

‘Di Malaysia sudah terjadi, tujuh pemain SPBU hidup di sana. Tapi Petronas tetap menjadi pemimpin,’ tuturnya.

Purnomo menilai, sekarang ini usaha Pertamina dalam menjaga eksistensinya cukup baik, terbukti SPBU milik Pertamina sudah semakin banyak.

Tanggapan 1 – d7uN6!R

Pak Hendrik dan rekan-rekan yg saya hormati, saya ada sedikit pertanyaan:
Mengenai keberadaan SPBU-SPBU asing/non-Pertamina, Sebenarnya, minyak dari
Depot siapa yg akan mereka jual di SPBU-SPBU mereka?

tanggapan 2 – Herry Putranto@cendrawasih

Keberadaan SPBU Non Pertamina di Jabodetabek maupun di Medan sudah mulai terlihat tapi memang penjualannya masih sangat minim karena masih terbatas dengan BBM yang bisa dipasarkan tanpa Subsidi yaitu Mogas 92 dan 95 (Setara Pertamax) serta ADO.
Nah karena penjualannya sangat minim tersebut (kecuali SHELL yang memiliki Depot BBM di Merak) maka Petronas dan Total membeli MOGAS 92 dan 95 untuk saat ini dari Pertamina (diambil dari Depot Plumpang), kecuali ADO dari Depot mereka masing2 yaitu Petronas di Bumi Merak Terminalindo (Merak) dan Total di Dover Chem (Merak).

Memang bisa saja terjadi kerjasama pemasaran misalnya pengadaan BBM di Jabotabek dilakukan oleh Pertamina dan mungkin saja Pertamina di Sumut mengambil BBM dari Petronas untuk efisiensi. semuanya terkait dengan skema Bisnis yang saling menguntungkan. Kecuali Shell memang mereka tetap percaya diri untuk head to head dengan Pertamina dan kondisi ini menguntungkan konsumen karena harga bisa berkompetisi dengan sehat.

Tapi memang kondisi Pertamina dan AKR yang cukup kuat di pemasaran BBM solar /HSD menyebabkan player asing tersebut juga kewalahan dan penjualan HSD nya cenderung menurun, belum lagi Niaga2 yang dapat izin dari Dirjen Migas juga cukup banyak spt Medco Downstream, Humpuss, Patra Niaga dll.

Tanggapan 3 – basukiwidodo2002

Shell impor dari singapore

Petronas impor dari Singapore

Tanggapan 4 – Aroon Pardede

Kayaknya bukan cuma pemain asing yang impor BBM dari luar, pertamina sendiripun beli BBM dari luar….. karena kapasitas refineriesnya enggak sebanding dengan konsumsi dalam negeri….

Tanggapan 5 – Hotler Na70

Sori kawan, saya sebagai pekerja di Refinery ingin koreksi, jadi bukan kapasitas Refineries nya yang kurang tapi supply crude yang kurang akibat produk kita lebih banyak dijual keluar indonesia (mungkin perbedaan kurs)shg kebutuhan dalam negeri tdk terpenuhi,inilah alasan yg dianggap legal(?)oleh pemain dlm negeri (bisa juga org dlm sendiri) utk impor crude dgn standar MOPS/Singapore.
Belum lagi masalah nilai Octane produk BBM kita yang kadang lebih tinggi dari standar yang ditetapkan,mis.ON standar 88 tapi kita produksi 88,08 (berapa besar kerugian yang timbul akibat perbedaan tsb?)bila dikalikan (mis.produk Refinery Bpp=260.000 MBSD) itu baru dari satu Refinery! sementara kita punya 7 Refinery!! Wow ruar biasa!
Belum lagi potensi kelebihan nilai octane yg berpotensi besar dimanfaatkan oleh kompetitor kita(Petronas,Shell,dsb)untuk di Blending kemudian dijual oleh SPBU asing tsb.tentu ini disenangi oleh(inlander)di negeri indonesia ini.hahaha…jeruk makan jeruk maka indonesia akan slalu terpuruk selama kita tdk pernah berani mengungkap kebobrokan disekitar kita oleh karena kepentingan (jabatan) kita jadi kerdil!!
Salam prihatin.

Tanggapan 6 – Zaki

Saya rasa statemennya kurang pas.

Berapa total kapasitas refinery kita? Saya kira tidak sampai 1 juta barrel/day (yg merupakan angka kira2 produksi crude oil kita). Kalaupun kita bisa meningkatkan produksi crude oil, tidak bisa semuanya diolah di kilang2 dalam negeri.
Berapa total konsumsi kita? Lebih dari 1 juta barrel/day. Artinya memang kita kurang produksi crude dan kapasitas pengilangan.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Maret 2009 ini dapat dilihat dalam file berikut: