Secara singkat, ilmu dasar yang diperlukan oleh seorang ‘calon’ drilling engineer adalah sbb: 1. Fisika Dasar: yang menyangkut ilmu gaya dan prinsip2 tekanan (U-Tube, Hidrostatic Pressures, Pressure Gradient, dsb) –> semua ini sudah anda pelajari sejak di SMP; 2. Geometry: untuk mengukur dimensi ruang dari berbagai bentuk struktur (silinder, kotak, dan berbagai bentuk lainnya) –> ini seharusnya tidak jadi masalah buat seorang mechanical engineer; 3. Analisa dimensi –> karena berhubungan dengan unit / satuan yang nantinya akan menghasilkan ‘conversion factor’. Apalagi di dunia drilling ada yang memakai satuan Amerika (American units, seperti: inch, feet, gallon, lbs, bbls, deg F, psi, dsb) dan ada yang memakai Satuan International (SI), seperti SG, meter, Pascal, deg C.

Tanya – Anto Supardi

Mohon pencerahan tentang ‘Rejection Rate’ & acuannya.
Misal,
Welder mengelas 100 join, di RT 50% repair 5. Rejection rate u/. welder tsb.

5/50 apa 5/100 % ?

Tanggapan 1 – grasidin

Dear Pak Anto,

Rejection Rate biasanya sepengetahuan Saya ada beberapa cara untuk menghitungnya yaitu:

1. Membandingkan antara Panjang cacat welding yang di baca pada film dengan panjang film yag dipakai dikali 100%

2. Seperti yang Bapak sampaikan Biasanya jumlah film yang repair dibagi dengan jumlah film yang dipergunakan dikali 100% (5/50 x 100% =10%)

3. Mungkin ada cara lainnya yang disepakati bersama antara client dengan contractor.

Semoga dapat membantu.

Tanggapan 2 – adi yudistira

Dear Pak Anto,

Tema pertanyaannya jarang2 nih boleh coba jawab ya Pak.. Kalau jawaban saya sih 5/50.

Tapi mungkin harus dilihat dulu overview ttg rejection rate ini supaya enak memahaminya..
Yang saya ketahui, ada yg dinamakan Rejection Rate/Repair Rate dan ada yg dinamakan Welder Performance/Welder Control.

1. Rejection Rate/Repair Rate lebih kepada untuk mengukur, menilai, mengontrol/indikator kualitas dari production welding secara keseluruhan dengan cara menampilkan dalam bentuk persentasi antara total joint/length yg reject terhadap total joint/length yg di NDT (bukan terhadap total joint/length yg diwelding seperti yg dibingungkan oleh bapak). Kalau dikembangakn lebih lanjut lagi, maka akan muncul pertanyaan berikutnya : berapa maksimum rejection rate yg diperbolehkan, apa yg harus dilakukan jika rejection rate yg ada lebih dari yg diijinkan?

2. Welder Performance/Welder Control lebih kepada untuk mengukur, menilai, mengontrol/indikator performance/kinerja dari setiap masing2 welder dengan beberapa cara misalnya :

2.1 menampilkan dalam bentuk persentasi antara total joint/length reject (by NDT) yg dibuat oleh masing2 welder tsb terhadap total joint/length yg dibuat dan di NDT. Kalau dikembangakn lebih lanjut lagi, maka akan muncul pertanyaan berikutnya : berapa maksimum rejection rate yg
diperbolehkan, apa yg harus dilakukan thd welder yg memiliki rejection rate lebih
dari yg diijinkan?

2.2 Ada juga yg mengambil sample joint secara random, biasanya welder mengambil joint yg dicurigai kemudian di NDT jika hasil NDT reject maka diambil lagi joint yg lain sebagai penalty. Pertanyaan berikutnya masih sama berapa maksimum penalty yg diijinkan? apa yg harus dilakukan thd welder yg melewati batas maksimum penalty tsb?

Mohon dibetulkan kalo ada yg kurang atau salah…

Semoga membantu…

Tanggapan 3 – yusuf chamdani

Pak anto sebelumnya salam kenal dulu….,yg di RT 50 Joint ( 50 % ), kalau di tempat kami bekerja ya 5/50 jd rejection ratenya 10%, maksud acuan apa ya pak?

Tanggapan 4 – nuriyanto_b

Pak Anto…lam kenal

Emang benar, kalo menurut joinan yang di Xray ya berarti jumlah yang repair di bagi jumlah joint yang dihasilkan welder tersebut. misalnya welder sehari dapat 10 joint terus repairnya 2 katakan. jadi repair rate welder tersebut adalah = 2/10 X 100% =20%
saya kira itu yang paling fair..barangkali ada yang lebih bisa fair lagi…monggo ditambahin..

Tanggapan 5 – evan baharudin

Untuk menentukan ‘ rejection rate ‘ ato kami bisa menamai dengan ‘ repair rate ‘
ada 2 metode yang biasa kami gunakan :

1. linear basis, berdasarkan panjang defect welding dibagi panjang welding yang di RT x 100 %.

2. butt joint basis, berdasarkan akumulasi total joint yang repair dibagi total joint yg di RT x 100%.
Mungkin ada rekan lain yg menambahkan.

Tanggapan 6 – Rizky K

Bpk Anto

1. RT coverage = 50%

2. Rejection Rate 5/50 x 100% = 10%

3. untuk acuan bisa mengacu ke client spesification

Tanggapan 7 – Reffianto Zubir @gunanusa

Karena lagi pada bahas rejection rate/repair rate/welder performance/welder control yang dapat dihitung terhadap joint dan length dari pengelasan.

Disini saya mau menanyakan kalau 2 welder melaksanakan pengelasan yang masing-masing diameternya berbeda dan thicknessnya sama contoh :

Welder A :

Melakukan pengelasan dia 6” dengan thickness ½” dengan process GTAW dan ada defect las dari radiography yaitu TI sepanjang 2mm.

Welder B :

Melakukan pengelasan dia 24” dengan thickness ½” dengan process GTAW dan ada defect las dari radiography yaitu TI sepanjang 2mm juga.

Kalau kita tinjau dari panjang pengelasan, maka repair rate welder B lebih rendah dari welder A,

Tapi kalau kita lihat dari joint pengelasan welder A = welder B yaitu repair ratenya 100%.

Yang jadi pertanyaan untuk joint pengelasan untuk repair rate apakah welder A = welder B, karena kalau kita lihat dari lama pengelasan, waktu pengelasan dan total db pengelasan welder B lebih banyak dari welder A,

Jadi kalau kita hitung rapair rate berdasarkan joint kita anggap sama antara welder A dan welder B, maka saya rasa tidak adil dong… untuk welder B.

Mohon pendapatnya… apakah ada ekivalen perhitungan repair rate terhadap joint pengelasan jika diameternya berbeda untuk welder yang berbeda seperti kasus diatas ?

Tanggapan 8 – adi yudistira

Dear Pak Reffianto,

Menurut saya, kalo bapak bertanya yg lebih accurate dan proporsional (adil ya?) daripada repair rate by joint jawabannya adalah repair rate by length… itu udah merupakan bentuk lain cara perhitungan repair rate yg lebih ‘adil’ toh length (keliling) joint dengan diameter joint juga kaitannya erat.

Menurut pendapat saya juga, Kalo mau melihat repair rate yg proporsional & accurate bisa dilihat by length, kalo mau lihat supaya lebih mudah membayangkan repair progress statusnya mungkin bisa dilihat repair rate by joint. Itu kenapa banyak project yg minta untuk ditampilkan dua2nya.

Tanggapan 9 – Gunawan Hendra

Dear milister,

Rejection rate berdasarkan Panjang reject pengelasan biasanya dilakukan untuk weldingan structure, memang memungkinkan untuk pengelasan piping dan juga berdasarkan panjang rejection akan lebih baik ( nilai persentase akan lebih detail ) dibandingkan by joint.
Tapi kalau sudah berjalan berdasarkan BY JOINT, apa bisa diganti ke BY LENGHT ya???
Client accept apa kaga?

Tanggapan 10 – adi yudistira

Dear Pak Gunawan,

Kalau tdk ada yg mengharuskan diubah menjadi by length based line untuk apa diubah? apalagi kalau yg sudah berjalan menggunakan by joint based line. Not worthd at all menurut saya..
Kemungkinan permintaan client itu bukan merubah dari joint ke length tapi mungkin minta dua2nya ada. Kalau pun memang harus ditambah juga repair rate by length, bisa saja tapi tidak bisa di convert dari joint base menjadi length base.. sepertinya kita harus flash back lagi dari film2 yg ada kemudian dihitung panjang defect dan panjang filmnya… dan ini pekerjaan yg merepotkan kalau ditengah jalan harus buat ini lagi…

Mohon maaf kalo jwbnnya kurang memuaskan..

Tanggapan 11 – Gunawan Hendra

Bener2 pak. saya setuju. rejectnya berdasarkan drawing atau perwelder? baca bener2 SPEK klient.

Tanggapan 12 – hadi muttaqien

Kalau pengalaman saya sih, Rejection Rate berdasarkan kesepakatan bersama antara Kontraktor dan Owner , waktu itu ditentukan berdasarkan prosentase dari jumlah joint perhari (waktu itu ditentukan 3% maksimum), dan tidak berdasarkan panjang las-an. kemudian di buatkan tabel defect apa yang terjadi (berdasarkan pembacaan NDT). Dari pembacaan NDT kita akan tahu defect terbanyak yang terjadi. Kemudian dilakukan peninjauan lokasi untuk analisa penyebab kegagalan welding apakah faktor tempat, lokasi, peralatan atau weldernya. Hasil analisa dilakukan perbaikan, dan bila weldernya melakukan defect terbanyak maka dilakukan training lagi, dipindah tugaskan atau di pensiunkan (ini keputusan yang paling berat).