Untuk lighting pada pekerjaan confined space harus menggunakan listrik DC maksimum 24 volts, hal ini aman dan pada setiap pekerjaan confined space yang saya lakukan menggunakan lampu jenis ini. Untuk prosedur memasuki confined space haruslah terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap atmospher di dalamnya. Gunakan gas detector untuk mengecek kadar O2, LEL, CO, H2S (minimum 4 gases tersebut). ataupun detector lainnya apabila dicurigai ada toxic lainnya seperti mercuri. Temperatur di dalam vessel maksimum 50 derajat Celcius, namun pada beberapa kasus temperatur tidak dapat turun mencapai temperatur tersebut dan entry dilakukan pada temperatur hingga 60 derajat Celcius.

Tanya – Imam Shoberi

Teman-teman,

Saya ada sedikit masalah yang berhubungan dengan pekerjaan di confined space (vessel) dengan menggunakan lighting, antara lain :

1. Berapa ampere dan watt yang diperboloehkan?

2. Apakah AC atau DC?

3. Standard apa yang digunakan pada kedua permasalahan tersebut?

Kita ketahui bahwa sebelum bekerja di vesssel harus di bersihkan dulu, tetapi untuk lebih amannya Saya beranggapan masih ada flammable gas yang mungkin berasal dari gas yang terjebak atau sisa-sisa kerak crude oil yang menguap karena kena panas dll. Bila gas tersebut bertemu dengan panas/spark dari lighting, maka terjadilah peledakan.
Mohon bantuan penyelesaiannya.
Terima kasih,

Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah

Coba discuss dgn vendor peralatan safety mungkin anda perlu lighting explosion proof atau class 1 div 1 lighting. Lain2 perlu discuss yg lebih detail. Tks

Tanggapan 2 – Stephen Rahmat (FGM)

Just sharing experience saja,

Di perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya cukup banyak pekerjaan dalam cofined space dan ruangan tersebut sangat berpotensi mengeluarkan flammable gases dan toxic gases. Sebelum peraturan diperketat, voltage listrik AC sampai 220 V diperbolehkan dengan syarat lampu maupun fitting nya masuk kategori explosion proof. Namun dengan berjalannya waktu, setelah banyak belajar dan sharing info dengan plant sejenis si seluruh dunia, maka diputuskan dengan seragam bahwa yang boleh dipakai adalah listrik AC maupun DC, namun batas tegangan maksimum adalah 24 V, dan batas maksimum lampu yang dipakai adalah 100 Watt, yang intinya membatasi seandainya ada kabel yang lecet, maka si pekerja yang kena stroom hanya berakibat shock sejenak saja tetapi tidak menimbulkan kematian.

Mudah-mudahan membantu.

Tanggapan 3 – Akh. Munawir

Pak Imam,

Saya coba jawab ‘wan bai wan’:

1. Saya kira bukan current atau power-nya yang anda butuhkan, tetapi berapa besarkan Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan anda agar baik, apakah 10 lux atau 150 lux atau bahkan 300 lux? barulah dipikir required current & power dan supply nya.

2. Sedangkan AC atau DC, itu tidak menjadi soal. Toh dua2nya available di pasaran tinggal mana yang mudah didapatkan dan murah :).

3. Resiko ledakan bisa diangkat sebagai area of safety concern, maka anda bisa meng-adopsi IEC60079-Part10 yang saya kira inside vesel adalah Zone 0, berdasarkan asumsi bahwa Ventilation Grade and Availabilitynya adalah Poor (Low). Untuk itu peralatan-peralatan yang ada di dalam Vessel kudu incompliance/suitable untuk Zone 0 (e.g lampu, connection, etc).

Tanggapan 4 – sarmen napitupulu

Saya coba tambahkan,

Harus menggunakan Fixtures Lamp yang untuk Hazardous area, dan ball Lamp, Flash Light (lampu pijar), 24 Volt, (50 watt & 100 Watt), Type lampu ini sudah khusus dan kita namakan lampu untuk Safety.

Tanggapan 5 – Imam Hidayat@depriwangga

Saya pernah terlibat dalam proyek pembersihan vessel yaitu kolom destilasi, lampu yang dipakai adalah lampu khusus/lampu safety.

Lampu safety ini power-nya dari udara tekan/kompressor yang dialirkan ke body lampu. Didalam body lampu terdapat kumparan yang digerakan oleh udara bertekanan ini.

Selain lebih aman, udara yang keluar dari lampu menjamin ketersediaan oxigen di dalam vessel dan bisa mengusir flamable gas dari dalam vessel.

Tanggapan 6 – Hari Subono

Untuk lighting pada pekerjaan confined space harus menggunakan listrik DC maksimum 24 volts, hal ini aman dan pada setiap pekerjaan confined space yang saya lakukan menggunakan lampu jenis ini.

Untuk prosedur memasuki confined space haruslah terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap atmospher di dalamnya. Gunakan gas detector untuk mengecek kadar O2, LEL, CO, H2S (minimum 4 gases tersebut). ataupun detector lainnya apabila dicurigai ada toxic lainnya seperti mercuri.
Temperatur di dalam vessel maksimum 50 derajat Celcius, namun pada beberapa kasus temperatur tidak dapat turun mencapai temperatur tersebut dan entry dilakukan pada temperatur hingga 60 derajat Celcius.

Karakterestik dari media yang ada di dalam vessel harus juga diketahui, beberapa type spent katalis/ molecular sieve/ karbon aktiv malah tidak boleh terkena Oksigen yang akan membuatnya heating up hingga terbakar. Untuk type ini haruslah menggunakan gas inert (Nitrogen) dan gas detector harus selalu memonitor keadaan atmospher di dalam vessel.
Entry personnel juga harus menggunakan B/A dan proper PPE lainnya.

Untuk pekerjaan yang tidak bermasalah dengan kandungan oksigen/ fresh air – juga harus menggunakan air mover/ exhaust dan kandungan oksigen, gas beracun dan LEL harus dimonitor secara berkala.
Jadi walaupun kita menggunakan lampu yang aman namun LEL (Low Explosive Limit) dalam kadar yang tidak aman – orang tidak boleh melakukan aktivitas apapun kecuali melakukan air circulation dengan menggunakan air mover/ exhaust.
Air circulation harus dilakukan terus menerus dikarenakan adanya kemungkinan gas hydrocarbon/ toxic yang terjebak.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 7 – Wicaksono Budi

Ada satu hal lagi pertimbangan bekerja di dalam confined space, sesudah gas test dan temperature dianggap lolos, jangan lupa ada minimal satu orang standby watch person yang standby di dekat manhole. Orang ini harus dilengkapi dengan SCBA (Self Containing Breathing Apparatus) dan alat komunikasi Handy Talkie, untuk selalu bisa berkomunikasi dengan yang di dalam maupun dengan Control Room. Jika terjadi sesuatu dengan rekan yang masuk ke Confined Space, maka standby watch person ini harus segera mengenakan SCBA dan memberikan pertolongan dalam arti mengeluarkan korban dari ruang Confined Space tersebut. Sesegera mungkin dia juga harus berkomunikasi meminta bantuan ke Contro Room selaku Emergency Controller.Bekerjalah dengan selamat.

Tanggapan 8 – Bakti Kumoro

Jadi pengen ikutan nyamber juga….

Kalau semisal dipakai LED gimana yah ?? artinya adalah rangkaian LED yang
banyak khan bisa terang juga tuh (saya nggak tau juga apakah jenis lampu ini sudah di rekomendasikan / ada standard n code-nya….).
mohon petunjuknya juga……..

Tanggapan 9 – Admin Migas

KMI Banten pernah mengadakan Seminar & Workshop Hot Work in Confined Space pada tanggal 22-23 Februari 2008.
Dari seminar ini saya malahan melihat banyak kecelakaan justru terjadi pada standby watch person.
Penasaran…. silahkan berkunjung ke URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=153&Itemid=42

Anda bisa mendownload softcopy dari Seminar & Workshop di atas.

1. KMI Banten 2003-2008 – Swastioko Budhi

2. RPP Pengaturan dan Pengawasan Keteknikan Dalam Kegiatan Usaha Migas – Suyartono

3. Persiapan dan Pengawasan Memasuki Ruang Terbatas – Arief B. Arjuna

4. Confined Space Rescue Action Plan – Amiroel Pribadi Madoeretno

5. Pedoman dan Pembinaan Teknis Petugas K3 Ruang Terbatas – Muchamad Yusuf

6. Sosialisasi Kepdirjen Binwasnaker Kep. 113/DJPPK/IX/2006 – Amri A.K.

7. Hot Work in Confined Space – Ramzy S. Amier

8. What Went Wrong Hot Work in Confined Space – Deddy Syam

Tanggapan 10 – Imam Shoberi

Terimakasih atas masukan teman-teman dan Saya akan gunakan input dari temen-teman yang sesuai dengan Saya pekerjaan di lapangan dan terimakasih juga kepada Pak Budi S atas literaturnya.