Select Page

Adalah suatu fakta bahwa yang dicakup oleh RCM ( secara teoritis, karena aplikasi software secara langsung sangat terbatas untuk industri Migas di Indonesia, sepengetahuan saya ) lebih luas daripada RBI ( Apalagi apabila RBI yang diterapkan secara serampangan dan tanpa data-data serta investigasi yang baik, disamping pengetahuan interpretasi yang didukung oleh pengetahuan dan pengalaman !! ). Ada dua jenis inspeksi yang terjadi dalam RBI yang kemudian diperluas aplikasi pemakaiannya kedalam resiko, yaitu inspeksi pemeriksaan fakta ( untuk mendapatkan sebagian data yang diperlukan didalam kompilasi soft-ware, yang juga disediakan oleh soft-ware sebagai default teoritis berdasarkan pengalaman dan statistik) dan inspeksi interpretasi hasil pemeriksaan fakta ( mencakup kaidah-kaidah inspeksi apakah memenuhi syarat methode yang dipakai ). Oleh karena itu RBI seharusnya menjadi tolok ukur dari DITJEN MIGAS didalam mengontrol sistim kerja pengoperasian peralatan static industri Migas, tetapi bukan menjadi tolok ukur dari industri Migas itu sendiri.

Tanya – Enda D.Layuk Allo

OK lah karena kita terus-terusan berhai-haian, saya mau mulai dulu dengan diskusi ttg. RCM vs RBI. (Topic ini pernah didiskusikan oleh beberapa diantara kita dimilist http://groups.yahoo.com/group/IRMEC beberapa bulan yang lalu.

Saya ingin mulai dengan beberapa pertanyaan:

1. Mengapa migas cenderung menggunakan pendekatan RBI (apakah hanya untuk memenuhi regulasi dari API) dan bukan mulai dari RCM? Untuk saya RBI kurang rigorious. Dengan RBI versi siapa yang jadi standard, kalau pakai standard API, ingat konseksuensinya RBI yang dipakai ilaha RBInya yang didevelop oleh DNV (tentunya beserta API). Seperti kalau kita ikut SAE standard maka standard RCM yang dipakai ialah standard yang mengacu pada RCM Mourbay.

2. Mengapa ada kecenderungan memilah bahwa RBI dipakai untuk static, dan RCM dianggap untuk rotating equipment?

3. Sampai seberapa serious industri MIGAS melaksanakan risk based inspection?

Tanggapan 1 – Umar, Ismail

Saya pingin tahu juga tuh.

Cuma kalau boleh, karena saya dari Instrument , tolong jangan langsung ke pertanyaan dong. Yang mbok ada description dari terori2 tersebut kemudian singkatan yang dipakai itu artinya apa saja?

Kalau dibaca dari tulisan di bawah RBI kependekan dari Risk Based Inspection, dan seingatku RCM artinya Reliability Center Maintenance. Lantas, apa hubungannya RBI dengan API dan SAE dengan RCM.

Anyway, saya akan mencoba mengikuti diskusi ini. Silahkan dilanjut.

Tanggapan 2 – Elwin Rachmat

Pertanyaan yang menarik, saya berusaha menjawabnya (sebatas yang saya tahu) sambil menunggu penjelasan lebih jauh dari kelompok kerja RBI ditjen MIGAS.

1.RBI di ditjen MIGAS lebih mengutamakan merubah sistim inspeksi yang sekarang ini yaitu time based inspection.
Time based inspection (certification) dinilai kurang tepat guna karena tidak mempertimbangkan kondisi operasi, jadi RBI diharapkan dapat memberikan nilai tambah kepada industri.

Disamping itu dengan sistim time based inspection terkesan ditjen MIGAS menjadi inspection body, padahal ditjen MIGAS adalah regulatory body. Dengan RBI ditjen MIGAS mengukuhkan fungsinya sebagai regulatory body dengan membuat aturan main dimana ditjen MIGAS akan melakukan audit pada inspection (atau tepatnya verification)
companies yang sudah diakreditasi serta pengguna.

2.Pertanyaan tentang RCM belum dapat saya jawab.

3.Agar RBI dapat diterapkan sudah pasti memerlukan keseriusan dari pihak industri. Didalam kelompok kerja yang dibentuk oleh ditjen MIGAS sudah terdapat unsur pengguna, inspektor, pendidik/peneliti dll.
Pada saat ini sedang dijajaki kemungkinan melakukan 2 pilot projects masing-masing untuk operasi di on shore dan off shore. Sementara itu dari beberapa workshop yang diselenggarakan ditjen MIGAS, tanggapan industri cukup positif.

Tanggapan 3 – stephanus sulaeman

Perkenalkan sekali lagi saya seorang inspektor industri migas yang berkecimpung dalam bidang korosi dengan latar belakang teknik kimia. Kebetulan saya pernah mengikuti kursus dan penerapan RBI yang dilakukan oleh DNV. Sedang mengenai RCM saya baru membaca buku dari Mourbay dan ditambah pengenalan RCM oleh DNV dan Lloyd’s London. Adalah suatu fakta bahwa yang dicakup oleh RCM ( secara teoritis, karena aplikasi software secara langsung sangat terbatas untuk industri Migas di Indonesia, sepengetahuan saya ) lebih luas daripada RBI ( Apalagi apabila RBI yang diterapkan secara serampangan dan tanpa data-data serta investigasi yang baik, disamping pengetahuan interpretasi yang didukung oleh pengetahuan dan pengalaman !! ). Ada dua jenis inspeksi yang terjadi dalam RBI yang kemudian diperluas aplikasi pemakaiannya kedalam resiko, yaitu inspeksi pemeriksaan fakta ( untuk mendapatkan sebagian data yang diperlukan didalam kompilasi soft-ware, yang juga disediakan oleh soft-ware sebagai default teoritis berdasarkan pengalaman dan statistik) dan inspeksi interpretasi hasil pemeriksaan fakta ( mencakup kaidah-kaidah inspeksi apakah memenuhi syarat methode yang dipakai ). Oleh karena itu RBI seharusnya menjadi tolok ukur dari DITJEN MIGAS didalam mengontrol sistim kerja pengoperasian peralatan static industri Migas, tetapi bukan menjadi tolok ukur dari industri Migas itu sendiri. Dengan aplikasi RBI pada DITJEN MIGAS maka mereka dapat menklarifikasikan apakah telah dilakukan inspeksi terhadap peralatan dalam industri Migas sesuai kaidah inspeksi atau tidak, dan bukan industri Migas melakukan aplikasi RBI sendiri sebagai tolok ukurnya, yang kemungkinan akan terjadi bias yang sangat besar. Sedang RCM yang dikembangkan oleh John Mourbay sangat terlalu luas aplikasinya dengan interpretasi penggunaan yang sedikit berbeda dengan RBI, sehingga kemungkinan menimbulkan kesalahan penerapan dalam lingkungan static yang sangat besar. Error yang ditimbulkan oleh penerapan RBI, menurut saya, masih
cukup besar dan berisiko ( apalagi kalau terjadi kendala seperti diatas ), walaupun mereka telah menurunkan resiko dibandingkan tanpa penerapan RBI.
Sekian dulu.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut:

Share This