Umumnya sebuah project dimulai dengan adanya LOI antara owner dan contractor. Disini sudah jelas dideskripsikan scope of work yang harus dikerjakan oleh pihak kontraktor. Kompleksitas dari suatu SOW ini sangat bergantung dari sifat project itu sendiri. Yang paling komplit adalah EPCI (Engineering, Procurement, Contruction dan Installation). Tentunya disini kontraktor yang memenangkan tender tersebut akan bekerja berdasarkan requirements yang diinginkan oleh pihak owner, terms & condition, project specification, project schedul, dll. Kan nggak mungkin kalau pihak pemilik menginginkan spesifikasi kijang kemudian oleh pihak kontraktor diberikan BMW, tentu budget dari pihak kontraktor akan jebol. Akan tetapi project specification ini juga bukan harga mati, pihak kontraktor dapat melakukan addendum terhadapnya, tentu dengan persetujuan dari pihak pemilik. SOW juga bukan harga mati, kadang-kadang dalam perjalanan suatu proyek, seringkali terjadi Change Order yang dilakukan oleh pihak pemilik akibat adanya masukan dari berbagai pihak.

Tanya – stephanus sulaeman

Saya mau numpang tanya, bagaimana prosedur manufacturing peralatan migas yang umum dipergunakan oleh para kontraktor. Pertanyaannya secara detail adalah sbb: Bila suatu perusahaan migas ingin melakukan modifikasi atau pembangunan suatu unit peralatan,setelah owner menentukan design basis, bagaimana prosedur kerja didalam kontraktor konsultan yang mendapatkan proyek tersebut. Apakah proses engineer melakukan basic engineering calculation berupa perhitungan general condition dan general equipment design dahulu ( dengan menggunakan soft-ware Hysim, Chemshare atau Provision, misalnya ), baru kemudian diberikan kepada mechanical engineer untuk dilakukan detail mechanical designnya ( mengacu API atau ASME, dsb ), material specification ( ANSI, ASTM, JIS atau DIN, dsb )dan equipment manufacturing procedure ( welding procedure, inspection procedure, etc ), setelah itu diberikan kepada civil engineer untuk dipersiapkan structurenya.
Atau apakah dilakukan kerjasama yang intensif antar proses engineer dan mechanical engineer, sehingga terjadi feed back dari kedua belah fihak, dikarenakan produk dari soft-ware process tidak mencantumkan secara detail mechanical requirements ? Atau apakah dilakukan integrated design approach dimana hasil calculasi sudah menghasilkan detail equipment design.

Tanggapan 1 – Moderator

Pada dasarnya apa yang anda utarakan di email sebelumnya, sebagian besar sudah benar. Pada umumnya (tergantung kompleksitas dari project tersebut tentunya) pekerjaan yang akan dilakukan melibatkan multi-discipline baik dari pihak Owner maupun Contractor. Sebenarnya philosofi dasar dari pendirian milis Migas Indonesia sangat didasari oleh kondisi tersebut di atas dimana semua bidang keahlian berinteraksi secara intensif untuk dapat menghasilkan sebuah karya bangsa di industri Migas.

Umumnya sebuah project dimulai dengan adanya LOI antara owner dan contractor. Disini sudah jelas dideskripsikan scope of work yang harus dikerjakan oleh pihak kontraktor. Kompleksitas dari suatu SOW ini sangat bergantung dari sifat project itu sendiri. Yang paling komplit adalah EPCI (Engineering, Procurement, Contruction dan Installation).

Tentunya disini kontraktor yang memenangkan tender tersebut akan bekerja berdasarkan requirements yang diinginkan oleh pihak owner, terms & condition, project specification, project schedul, dll. Kan nggak mungkin kalau pihak pemilik menginginkan spesifikasi kijang kemudian oleh pihak kontraktor diberikan BMW, tentu budget dari pihak kontraktor akan jebol. Akan tetapi project specification ini juga bukan harga mati, pihak kontraktor dapat melakukan addendum terhadapnya, tentu dengan persetujuan dari pihak pemilik. SOW juga bukan harga mati, kadang-kadang dalam perjalanan suatu proyek, seringkali terjadi Change Order yang dilakukan oleh pihak pemilik akibat adanya masukan dari berbagai pihak.

Begitu sebuah proyek mulai dilaksanakan, tentunya semua disiplin ilmu segera bergerak karena mereka semua dibatasi oleh waktu. Akan tetapi memang load yang paling berat pada awal proyek jatuh pada disiplin project management dan process, karena product mereka yang berupa mile stone dan P&ID (Process & Piping Diagram) menjadi acuan utama dari disiplin ilmu lainnya seperti : piping, instrument, electrical, dll.
Diskusi yang intensif antar disiplin harus sering dilakukan karena hasilnya dapat merupakan feedback bagi disiplin lainnya. Contohnya : structure engineer membutuhkan data berat dari semua mechanical skid, piping engineer membutuhkan dimensional drawing dari in-line instrument, instrument engineer membutuhkan process data untuk dapat melakukan kalkulasi, electrical engineer membutuhkan load dari semua rotating equipment, PLC, DCS, dll. Project management membutuhkan data dari apa yang sudah atau akan dikerjakan oleh semua disiplin. Data sheet yang dibuat oleh seorang engineer tertentu selalu diawali dengan IDC ‘Inter Discipline Check’. Jadi semua disiplin ilmu akan memberikan comment-nya atas dispiln yang lainnya. Pokoknya bila anda terlibat dalam sebuah project, baru anda akan merasakan semua interaksi antar disiplin di atas.

Bila pihak engineering telah membuat sebuah data sheet yang telah disetujui oleh pihak owner, maka segera dibuat RFQ (Request for Quotation) untuk dikirimkan ke semua vendor yang tercantum di dalam PML (preffered Manufacturer List). Vendor akan merespon RFQ ini dengan membuat sebuah Quotation (penawaran) yang ditujukan ke pihak procurement / purchasing. Setelah dilakukan TBE (Technical Bid Evaluation) oleh engineer yang bersangkutan maka akan dilanjutkan dengan pembuatan MR (Material Requisition) dan PO (Purchase Order).

Seringkali untuk peralatan yang kompleks seperti misalnya Compressor, Turbine Generator, Mechanical Skid, DCS, PLC, dll, harus dilakukan sebuah prosedur tambahan yang dinamakan FAT (Factory Acceptance Test) yang dalam hal witness-nya dilakukan oleh pihak pemilik, kontraktor dan pihak ke tiga. Apabila FAT sudah disetujui baru barang dikirim ke yard-nya kontraktor untuk di-install.

Proses instalasi semua peralatan migas tentunya berdasarkan construction drawing yang telah dibuat oleh pihak engineering, khususnya dari disiplin drafting. Bila proses instalasinya sudah dilaksanakan oleh kontraktor maka dilakukan proses verifikasi pekerjaan seperti : Precommissioning, Commissioning dan Start-up. Semua pekerjaan yang dilakukan pada tahap ini dikumpulkan pada sebuah dossier yang berisikan diantaranya : check list, test sheet, punch list dan clearance sheet. Apabila semua punch list yang timbul selama pekerjaan konstruksi bisa diselesaikan oleh kontraktor tersebut dengan baik, maka akan dilakukan serah terima proyek dengan diterbitkannya mechanical completion. Umumnya pihak kontraktor masih memberikan guarantee terhadap pekerjaannya selama setahun.

Selanjutnya pihak kontraktor akan memperlengkapi pihak pemilik dengan satu set job data book yang berisikan dokumen as-built (apa yang tertera di data sheet telah sesuai dengan barang yang terpasang di lapangan). Tentunya selama masa garansi, pihak kontraktor mempunyai kewajiban moral dalam membantu pihak pemilik apabila timbul masalah pada pengoperasiannya.

Mohon maaf apabila ada yang kurang, soalnya memang sangat sulit menerangkan sebuah alur pekerjaan dalam sebuah email yang singkat. Akan tetapi saya yakin bahwa kekurangan ini akan ditutupi oleh teman-teman yang lain dari milis Migas Indonesia.

Tanggapan 2 – stephanus sulaeman

Kembali lagi mengenai interdiscipline approaches, apakah tidak lebih baik berupa integrated discipline design and procedure, karena interdiscipline approaches belum tentu menghasilkan kondisi yang optimum, sedang integrated discipline design and procedure lebih menuju kesana ( walaupun belum 100 % optimum ). Contohnya sebagai berikut :

Kita menginginkan suatu unit destilasi yang terdiri dari anggaplah dua buah kolom dengan temperatur flash 300 derajat dan 180 derajat, sebuah heater, dua seri unit preheat exchanger ( masing-masing untuk setiap kolom ), dua seri unit condenser ( idem ), dua seri inter cooler ( idem ), dua seri pompa feed, dua seri pompa produk, dua seri pompa intercooler, dst.nya. Proses engineer kemudian beroperasi dengan softwarenya, sehingga didapatlah kondisi operasi yang optimum untuk proses operasi, dengan mengeluarkan data-data seperti laju alir dalam kolom, diameter, jumlah tingkatan; beban condenser, reboiler dan heater, jumlah baffle, jumlah tube, orientasi tube, jenis exchanger, laju alir; beban pompa, kapasitas heat exchanger, tekanan dan temperatur operasi dari setiap peralatan; equipment profile, dst.nya. Semua data-data tersebut tentu tidak terlalu dibantah oleh mechanical engineer sehingga menjadi acuannya didalam mendisain detail mechanical equipment. Dengan laju alir yang diperoleh tadi, mechanical engineer kemudian menghitung tebal pelat internal part column, berdasarkan gaya-gaya yang terjadi, baik dari beban statis, beban dinamis, jumlah dan kekuatan sambungan pengikat; dimensi support berdasarkan beban dari media dan static parts, momen lentur pada dudukan, profil dari support; kekuatan sambungan las pada sambungan support dengan material column, panjang pengelasan, methode inspeksi yang wajib apakah radiography menyeluruh atau tidak, dst. nya. Hal ini dilakukan juga terhadap equipment yang lain, dst.nya.
Kemudian construction engineer mulai menghitung beban kolom itu, berapa kecepatan angin sessuai tinggi kolom, kekuatan gempa, slenderness, jenis tanah diareal pondasi, dsb untuk menentukan pondasi yang diperlukan. Dst. nya. Nah apabila kita melakukan pola pendekatan demikian akan terlihat bahwa tidak akan tercapai kondisi yang mendekati optimum secara sistim, karena mengacu pada satu titik pada setiap persimpangan berikutnya. Apabila kita melakukan pendekatan integrated discipline design and procedure maka terdapat banyak titik pada setiap persimpangan berikutnya, sehingga lebih diperoleh kondisi optimum, dengan bantuan trending ( untuk mudahnya ) ataupun statistik ( lebih
kompleks ). Hal ini diinformasikan oleh seseorang, dimana telah dilakukan oleh suatu konsultan-kontraktor international ( mereka telah memasukkan aspek safety pula kedalam sistim tersebut ). Menurut informasi itu, memang pada saat penerapan pertama membuat banyak pekerjaan tambahan, tetapi akhirnya mereka hanya membutuhkan tambahan waktu yang sangat sedikit dibandingkan pendekatan umum, karena setiap discipline telah mengetahui arah dari setiap data yang diberikan dan waktu untuk interaksi berkurang. Data-data tersebut kemudian dikumpulkan dan akhirnya menjadi tabel bagi mereka.

Tanggapan selengkapnya dari rangkuman diskusi Mailing List Migas ini dapat dilihat dalam file berikut: