Paling simple dan sepele tetapi bila di teliti secara cermat ternyata cukup pelik, susah, yang ada pun belum tentu sudah memadai. Banyak para designer yang sudah melakukan pengabaian-pengabaian sehingga sering hasil rancangannya menjadi sia-sia meskipun sudah dibeli dengan harga mahal dan mengahabiskan waktu yang cukup lama, orang awam sudah punya anggapan bahwa proteksi yang terpasang sudah memadai guna mengantisipasi suatu kondisi yang diramalkan bisa terjadi. Dalam masalah programmable logic controller, safety and protectionsystem, dunia ini rasanya sudah mencapai masa yang bisa dibilang sangat maju. Akan tetapi, ternyata dalam bidang detection device / measurement kadang masih jauh tertinggal terbelakang, sehingga ada masa dimana orang menganggap suatu system yang sangat canggih, tetapi gagal menjalankan misinya, saat dibutuhkan untuk bekerja, hanya karena detection device atau alat ukurnya nya tidak bisa cover kebutuhan yang dimaksud.

Pembahasan – Tahzudin Noor

Tulisan ini mengenai Instrumentasi & Control.
Bagi Bapak & Ibu yang tak tertarik ya tulisan ini di delete saja.

Paling simple dan sepele tetapi bila di teliti secara cermat ternyata cukup pelik, susah, yang ada pun belum tentu sudah memadai.

Banyak para designer yang sudah melakukan pengabaian-pengabaian sehingga sering hasil rancangannya menjadi sia-sia meskipun sudah dibeli dengan harga mahal dan mengahabiskan waktu yang cukup lama, orang awam sudah punya anggapan bahwa proteksi yang terpasang sudah memadai guna mengantisipasi suatu kondisi yang diramalkan bisa terjadi.

Dalam masalah programmable logic controller, safety and protectionsystem, dunia ini rasanya sudah mencapai masa yang bisa dibilang sangat maju. Akan tetapi, ternyata dalam bidang detection device / measurement kadang masih jauh tertinggal terbelakang, sehingga ada masa dimana orang menganggap suatu system yang sangat canggih, tetapi gagal menjalankan misinya, saat dibutuhkan untuk bekerja, hanya karena detection device atau alat ukurnya nya tidak bisa cover kebutuhan yang dimaksud.

Salah satu contoh adalah line break detection system, yang biasa diperlukan pada pipeline atau flow line system. Ada para designer yang memanfaatkan pressure switch low ( bahkan salah satu item dalam API’s recommended practice ) sebagai detector untuk mendeteksi pipa bocor atau pecah. Ada para designer yang menggunakan differential pressure switch untuk mendeteksi laju penurunan tekanan pipa ( rate of pressure drop) atau dengan nama-nama lain yang prinsipnya adalah perubahan differentialpressure. Dari kedua type detector itu ternyata masih mengandung kelemahan yang bila dicermati cukup merepotkan dan bahkan kadang membingungkan.

Tanggapan 1 – Moderator MIGAS

Mas Tahzudin Noor,

Bisa tolong lebih diperjelas lagi mengenai pengalaman anda mengenai kegagalan sistem detector yang anda gunakan dalam mendeteksi kebocoran pada sebuah pipeline atau flow line system. Saya kebetulan mempunyai pengalaman dalam pendesainan suatu sistem pengaman pada sebuah pipeline dengan menggunakan Shaffer product.

Sistem Shaffer yang saya gunakan menggunakan deteksi pada laju penurunan tekanan pipa yang dapat kita set sesuai dengan pengalaman para operator di lapangan. Jadi bila laju penurunan tekanan pipa sebesar 10 psig / menit misalnya, seperti yang biasa terjadi pada proses pengiriman gas, sistem tidak bekerja. Bila lebih besar dari setting laju penurunan tekanan pipa yang ditetapkan, seperti pada misalnya jalur pipa tertabrak truk, maka sistem bekerja untuk menutup atau mengisolasi jalur pipa tersebut.

Sistem yang terpasang sangat sederhana kok karena self actuated dan tidak menggunakan peralatan yang canggih-canggih seperti misalnya PLC. Pergerakkan valve menggunakan tekanan downstream pipa itu sendiri. Dan telah terbukti bekerja pada beberapa kejadian.

Kalau anda ingin detailnya, nanti saya carikan. Untuk sementara sekian dulu karena mau sahur.

Tanggapan 2 – Ary Retmono

Soal flowline, kalau pakai PSL dan Shaffer-nya Budhi masih belon marem, padahal ini yg paling murah dan praktis. Memang, dua sistem tsb proven kalau bocornya besar (diseruduk truck?), dan sensing pressure atau dP-nya bisa tersasa oleh PSL/Shaffer. Nah, kalau bocornya kecil (diseruduk kambing?), maka fluidanya setelah tercecer ke mana2 baru SDV-nya nutup.

Ada cara lain yg tampaknya belum ada yg jual, tapi bisa di-bikin2 sendiri, yaitu pake prinsip hukum kekekalan massa. Memang, peralatan yg dibutuhkan sangat elaborate. (Mungkin gara2 ini orang lain ogah bikin, dan meng-API-kan.) How does it work? Ukur total flow di start dan di end pipe, lalu dikorelasikan. (Bayangkan, Anda perlu sets of flow, pressure, temperatur meter, komunikasi, dan komputer).

Dg prinsip, kalau jumlah yg dikirim lebih besar dari yg diterima, pasti ada yg korupsi di tengah2nya. Sistem ini akan mengetahui pula berapa kebocoran yg terjadi. Coba2 mau bikin? Nanti tak bantuin.

Tanggapan 3 – Hemi RH Midjaya

Mohon maaf sebelumnya, mudah-mudahan saya tidak menyesatkan.

Saya tertarik sekali dengan topik diatas, apa yang mas Ary jelaskan pertama dan kedua mungkin dua hal yang berbeda, yang pertama adalah Line Break Control yang setahu saya berfungsi selain untuk melindungi PipeLine dari kebocoran dan juga untuk menjaga kestabilan pressure di PipeLine pada saat terjadi sesuatu di Station Penerima atau di Station Pengirim (Shut Off / Loss Pressure), sehingga pemompaan pada saat start kembali mendapatkan beban yang normal (tidak seperti keadaan kosong sama sekali).

Sedangkan yang kedua itu mungkin termasuk kategory Flow Quantity monitoring Control yang pada PipeLine Commercial musti sudah dilengkapi oleh Custody Meter di kedua Station (Pengirim/Penerima) yang bisa di link antara kedua FQI sehingga dengan tambahan faktor retention time tertentu akan didapat balance Quantity untuk mengontrol Loss Quantity (Tercecer dijalan) untuk detail masalah ini saya yakin anda lebih expert.

Tanggapan 4 – Gostombang

Pak Ary,

Kalau bisa ikut nimbrung, kalau Line Break (‘breaking the line’), rate of pressure dropnya mungkin harus sesuai dengan kemampuan dari diaphgram valvenya untuk mensensing minimum dp/t.

Tapi kalau boleh tahu, kira2 yang ‘diseruduk kambing’ biasanya dp/t berapa Pak ?. Mungkin saya bisa men-check system line break yang baru ke principal saya.

Tanggapan 5 – Jimmy Laksaginta

Satu lagi cara deteksi kebocoran.

Untuk deteksi kebocoran di pipa flow line, salah satu system deteksi yang pernah saya tahu adalah dengan fiber optic cable(FOC) yang berfungsi sebagai mikrofon.
FOC dipasang sepanjang pipa dgn jarak 0.5 mtr disamping pipa, diujung-ujung cable dipasang monitoring system, bila ada kebocoran , nada yang terjadi dalam range dB yang bisa dideteksi oleh FOC akan diteruskan ke monitor, system ini bukan hanya mendeteksi kebocoran tetapi juga bisa mendeteksi adanya gangguan phisik terhadap line pipe(spt diseruduk truck, digali pencoleng, atau hanya memberikan signal bahwa ada orang berjalan diatasnya, atau mobil lewat ataupun ada kambing mengembik didekat pipa saja, semuanya dengan klasifikasi dB yang timbul dari gangguan tsb) dan operatornya bisa mengetahui posisi kebocoran dengan akurat serta menjalankan perintah perintah lanjutan seperti shutdown dsb.
Terlampir disini brief product presentasi-nya.

Tanggapan 6 – Ary Retmono

Pak Hemi, (dan juga Pak Gostombang),

Harus dibedakan lho, antara line break control dan flow (pressure) control. Kalau yg pertama, memang direkomendasikan oleh API 14C, tapi yg kedua ‘direkomendasikan’ oleh gejala fisik + pabrik pompa. Flow control bisa mbumpet flow, tapi nggak boleh ditujukan untuk mbumpet flow pd event yg diintensikan oleh Pak Tahz.

Tidak semua pipeline ada custody meternya. Deteksi line break dg 2 meter ini cuman akal2an ‘melayu’ yg mungkin bisa jadi alternatif kalau PSL/Shaffer belum memenuhi hasrat.

Ttg dP/t yg ditanyakan Pak Gostombang, secara spesifik susah dibilang, karena within some range dP yg terjadi dilawan/dikembalikan lagi olehpressure controller di upstreamnya kebocoran. (Contoh klasik tapi tetap populer dan mudah dibayangkan adalah kebocoran di pipa PDAM.)

Kalau Pak Gostombang punya eBrosur shaffer, pls kirim ke japri buat future reference.