Pada industri MIGAS, situasi tekanan berlebihan (over-pressure) haruslah dijaga dan dikelola dengan baik karena menyangkut faktor keselamatan terhadap personil, lingkungan, peralatan utama dan aset. Umumnya katup pelepas tekanan (Pressure Relief Valve/PRV) dan sistem pebakaran gas (Flare) digunakan untuk mengatasi kelebihan tekanan tersebut. PRV yang di-set sesuai dengan design pressure peralatan mechanical akan bertindak sebagai weak point dari sebuah sistem proses. Apabila tekanan melebihi setting pressure, maka pressure relief valve akan membuka untuk meneruskan fluida proses ke sistem flare, sehingga sistem proses terlindungi dari over-pressure.

Pembahasan – Moderator MIGAS

Pada industri MIGAS, situasi tekanan berlebihan (over-pressure) haruslah dijaga dan dikelola dengan baik karena menyangkut faktor keselamatan terhadap personil, lingkungan, peralatan utama dan aset. Umumnya katup pelepas tekanan (Pressure Relief Valve/PRV) dan sistem pebakaran gas (Flare) digunakan untuk mengatasi kelebihan tekanan tersebut. PRV yang di-set sesuai dengan design pressure peralatan mechanical akan bertindak sebagai weak point dari sebuah sistem proses. Apabila tekanan melebihi setting pressure, maka pressure relief valve akan membuka untuk meneruskan fluida proses ke sistem flare, sehingga sistem proses terlindungi dari over-pressure.

Ada kecenderungan pada situasi sekarang untuk meminimalkan pelepasan atau pembakaran gas. Lagipula biaya untuk merancang dan memasang sebuah sistem pembakaran gas dengan kapasitas besar, semakin mahal. Untuk itu perlu dicarikan suatu alternatif lain yang menggunakan sistem instrumentasi yang keandalannya melebihi sistem konvensional Pressure Relief Valve + Flare. Sistem itu sekarang dikenal sebagai HIPS yaitu High Integrity Protection System.

Penggunaan HIPS sebagai sebuah sistem proteksi terhadap kelebihan tekanan telah direkomendasikan oleh beberapa organisasi internasional yang telah diakui reputasinya, diantaranya adalah : American Petroleum Institute (API), American Society of Mechanical Engineers (ASME), International Society of Measurement and Control (ISA), International Electrotechnical Commission (IEC), dll.

Safety Instrumented Systems (SIS) dari HIPS umumnya mempunyai SIL (Safety Integrity Level) tingkat 3 (99.90 – 99.99% probabilitas) karena kritisnya konsekuensi yang bisa ditimbulkan apabila terjadinya kegagalan. HIPS umumnya terdiri dari 3 bagian dasar yaitu : field input devices, logic solver and final elements. Field Input devices umumnya menggunakan 3 transmitter dengan konfigurasi 2oo3 (two-out-of-three). ANSI/ISA S84.01-1996 dan draft IEC 61508 mempersyaratkan bahwa safety logic dari HIPS harus terpisah dan independent dari Basic Process Control System (BPCS). Final elements haruslah mempunyai respon yang sangat cepat, dalam dua detik dapat mengisolasi suatu sub-sistem dari sistem keseluruhan. Untuk tetap terjaga keandalannya, perlu dilakukan sistem diagnostic dan testing yang kontinu pada HIPS.

Sekedar catatan tambahan, untuk project Conoco Belanak Wellhead Platform di Natuna yang sedang dikerjakan oleh PT. J. Ray McDermott Indonesia, ada keuntungan lain dari penggunaan HIPS ini yaitu menurunkan pressure rating dari peralatan proses yang terletak dibagian downstream. Tegasnya, sistem upstream HIPS memiliki pressure rating ANSI 1500 sedangkan bagian downstream bisa menggunakan pressure rating ANSI 600.

Untuk pak Don Sardjono dari McDermott, ada komentar tambahan ?.

Pak Cahyo dari Premier, bagaimana bila dibandingkan dengan inherently safer plant ?.

Untuk syi 20 dari IPTN, ada kesamaan dengan sistem pesawat terbang ?.

Untuk yang lainnya, SELAMAT BERDISKUSI.

Tanggapan 1 – stephanus sulaeman

Terima kasih atas informasinya mengenai HIPS ini, cuman saya mempunyai banyak ganjalan mengenai hal tersebut. Hal ini mungkin karena penjelasannya yang ada kurang banyak, sehingga didalam melakukan change of mind saya ada yang kurang.
Pertama-tama saya ingin tanya aplikasi penggunaan HIPS ini meliputi rangkaian apa saja, dipasangnya dibagian mana, metode perhitungan pressure wave propagation target medium bagaimana, bagaimana sebaiknya perbandingan kecepatan response instrumentasi terhadap wave propagation ( karena pada banyak kasus wave propagation amat sangat cepat, terutama kalau terjadi kebakaran ). Sedang pertanyaan selanjutnya sesudah pertanyaan tersebut diatas terjawab.
Terima kasih.

Tanggapan 2 – Bob H. A. S.

Apakah pak Moderator atau rekan – rekan lain ada yang bisa memberikan gambaran tentang bentuk P&ID dari system ini, sehingga saya bisa lebih mengerti tentang cara kerja sistem ini?

Terimakasih.

Tanggapan 3 – Moderator

Mas Bob,

Saya punya P&ID, vendor’s quotation dan presentasi dalam MS powerpoint untuk sistem HIPS ini, tapi sayangnya ada di kantor semua. Untuk sementara sebenarnya bila anda melihat gambar-gambar yang ada di dalam attachment tersebut, sudah jelas kok.

Pada prinsipnya ada 3 buah pressure transmitter sebagai field devices yang akan mendeteksi over-pressure. Jika kondisi tersebut terjadi maka logic solver akan memerintahkan shutdown valve (final element) untuk segera menutup dalam waktu kurang dari 2 detik, sehingga downstream akan terlindung dari overpressure tersebut.

Hanya masalahnya disini adalah setiap saat HIPS aktif maka tidak ada output yang dihasilkan karena sistem benar-benar terisolasi. Jadi bisa dibayangkan kerugiannya apabila HIPS seringkali aktif. Pada titik ini seringkali terjadi diskusi yang tidak berkehabisan antara safety dan production department.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: