Berikut ini adalah procurement options untuk Design-build delivery method : Sole source, Qualification-based selection, Negotiated source selection, Competitive negotiation, Weighted criteria; Fixed budget/ best design, Adjusted low bid, Two-step sealed bidding, Lowest cost bidder.

Tanya – Joi Surya Dharma

Yth. rekan-rekan anggota milist Hamki dan Oil&Gas,

Apakah ada diantara saudara2 yang bisa memberikan info ke saya tentang alternatif untuk Procurement Method dalam kaitannya dengan pemilihan konsultan, kontraktor atau design-build firm.

Sebagai contoh misalnya dalam pemilihan kontrakor ada yang memilih melalui two phase : P/Q dan Bidding process, sedangkan P/Q terdiri dari technical dan financial evaluation.

Saya ingin mengetahui semua alternatif yang ada dan sedikit informasi tentang itu, sehingga saya bisa melakukan comparison among the alternatives dan kemudian bisa memilih metoda mana yang cocok untuk suatu proyek konstruksi.

Saya menanyakan ini sehubungan degan course assignment saya.

Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

Tanggapan 1 – Joi Surya Dharma

Terima kasih atas masukan rekan2 anggota milist yang disampaikan kepada saya baik melalui milist ataupun japri.

Atas masukan saudara2 dan sumber lain yang saya dapatkan.

Berikut ini adalah procurement options untuk Design-build delivery method :

ü Sole source

ü Qualification-based selection

ü Negotiated source selection

ü Competitive negotiation

ü Weighted criteria

ü Fixed budget/ best design

ü Adjusted low bid

ü Two-step sealed bidding

ü Lowest cost bidder

Tanggapan 2 – migas_indonesia

Pak Joi Dharma,

Bisa diterangkan secara singkat mengenai deskripsi dari istilah-istilah procurement options tersebut biar saya bisa lebih memahami ?.

Tanggapan 1 – Joi Surya Dharma

Secara umum pertimbangan pemilihan method-nya melihat preference-nya :

Sole source

ini bisa karena si EPC firm satu2nya yg capable, atau si owner sudah mempunyai hubungan jangka panjang dg si EPC firm

Qualification-based selection

EPC firm submit qualification statement in response to Owner’s RFQ. Terus si owner review statement itu, dan rank berdasarkan past performance, technical competence, capability and mungkin juga geographic location.
Setelah itu owner negosiasi price dengan rank #1, jika tidak sepakat, owner negosiasi price dengan rank berikutnya.

Negotiated source selection

Ini bisa dilakukan dengan atau tanpa diskusi. Disini owner mengeluarkan RFP.

Competitive negotiation

Disini tujuan si owner adalah award kepada most favorable proposal oleh bidder.
Owner akan lihat kebutuhannya dan mengevaluasi berdasaran technical and management capability, past performance, cost dan faktor penting lainnya.

Weighted criteria

Owner meminta propsal terpisah untuk qualitative dan price. Qualitative berisi technical information. Setelah pertimbangan qualitative dari EPC firm, kemudian proce proposal dibuka. Nah pemenang pemenang #1 adalah yg price proposalnya paling rendah, dan pemenang berikutnya di rank berdasarkan price-nya.

Fixed budget/ best design

Disini owner sudah menetapkan nilai kontrak/ proyek sebelum RFP, sehingga EPC firm hanya nge-bid untuk technical saja. Dan owner memilih pemenang berdasarkan technical proposal ini.

Adjusted low bid

Ini hampir sama dengan weighted criteria, Namun disini disini qualitative dan price proposal ada bobot porsi-nya. Untuk menentukan pemenangnya, mula2 bidder di beri score berdarkanqualitative-nya (0.0 – 1.0, lebih baik dalam decimal) kemudian price dari masing2 bidder dibuka. Price msg2 ini dibagi dengan qualitative scorenya. Rank #1 adalah yg nilai total score-nya paling kecil.

Two-step sealed bidding

Disini ada beberapa aliternatif : lolos Technical kemudian di seleksi berdasarkan harga, Option lain: lolos technical… kemudian ada di negosiasi technical, dan kemudian bidder kirim price proposal, yang kemudian di rank berdasarkan scoring system dari si owner. Di sistem ini variasi-nya bisa banyak.

Lowest cost bidder

Pemenang berdasarkan price proposal terendah. Tapi dengan cara ini cenderung menghilangkan kreativitas dan inovatif secara technial dari bidder.

Penetapan sistem yang mana yang lebih sesuai memang sangat tergantung pada internal environment dari project tersebut, misalnya tingkat pengalaman dari si owner thdp project serupa. Dan faktor external seperti source of funding, karena setahu saya, kalau project itu di biayai oleh ADB atau Worldbank, maka kita harus mematuhui Procurement Guideline dari Bank tersebut.