Investigasi Terjadinya ledakan di Flare sebelumnya perlu diklarifikasi terlebih dahulu operasional Flare tersebut : 1. Apakah pada saat Flare operasi normal; 2. Apakah pada saat stop ( perbaikan atau Turn Around atau Normal Shutdown ). Pada prinsipnya Flare dirancang untuk membakar gas yang tidak dapat termanfaatkan atau berlebih atau gas yang bersifat korosif ( Sour Gas ). dengan harapan gas tidak menyebar yang berakibat timbulnya bahaya kebakaran atau pencemaran udara. Pada saat Flare beroperasi timbulnya ledakan ada kemungkinan terjadi beban berlebih ( overload ) dimana kapasitas design Flare tidak dapat membakar gas yang begitu besar kuantitasnya ( tetapi umumnya bukan meledak tetapi api yang ditimbulkan akan sangat besar dan panas yang ditimbulkan melebihi kemampuan spesifikasi material sehingga Flare rubuh / meleot ).

Re : Topside Piping Design

Pembahasan – djoko siswanto

Dear Pak Sulaeman,

Mengenai flare amannya harus tetap nyala, tapi juga harus hati-hati, kalo kebetulan ada maintenance. Ada semacam korek api yg terlelak di di puncak flare yg dapat dioperasikan dari bawah. sudah 3 kali terjadi kecelakaan fatal, terakhir di kaltim saya ngak sebut companynya ya, terjadi beberapa ledakan yg beruntun ketika sedang dilakukan maintenance bejana condensat yg salurannya nyambung ke flare karna api pilot flare tetap nyala, maka apinya nyamber ke bawah karna di bawah (tabung kondensat masih ada sisa-sisa gas atau hidrocarbon yg menempel pada dinding bejana bgn dalam menguap akibat panas matahari)….

Tanggapan 1 – Hari, Suprayitno

Pak Djoko, ini saya ganti topiknya.

Kalau anda tahu persis kejadiannya atau barangkali salah satu dari anggota Milis ini yang tahu kejadian seperti ini ada baiknya diinformasikan detailnya sehingga bisa diantisipasi (diambil pelajaran) untuk tidak terjadi lagi di tempat lain. Detail2 yang perlu dikemukakan antara lain kronologinya, flare tip-nya (type, merek), konfigurasi flare system-nya, ukuran flare line-nya dll. Dan untuk karyawan perusahaan yang bersangkutan diharapkan untuk tidak segan menginformasikan hal2 seperti ini ke publik (terbatas tentunya) atau kalau nggak mau nama perusahaannya tercantum di Milis, bisa minta tolong orang lain untuk mem-posting di sini tanpa menyebutkan nama perusahaannya.

Tanggapan 2 – hari.h.syofyedi

Mas hari,

Yang di utarakan oleh Mas djoko tsb, bukan karena tipe atau flare tipnya siapa yg buat. tapi procedure pengoperasiannya yang salah.

Kronologinya sangat sederhana, mungkin seperti ini ( salah satunya ) :

Ada shutdown periode untuk maintenance, salah salah item pekerjaannya adalah perbaikan beberapa bagian luar dari salah satu vessel ( hot work). Atas permintaan site Manager dan persetujuan seluruh discipline, di sepakatilah pilot flare tetap nyala. Maka dilakukannlah pekerjaan repair di salah satu vessel ( isolasi valve tidak tersedia guna mengisolasi vessel ini ke flare header). Pekerjaan ini di dukung penuh dengan procedure, pengosongan, purging, etc,. termasuk pengetesan kadar HC di dalam vessel sebelum pekerjaan pengelasan di lakukan.

Pengelasan/perbaikan pertama sukses, perbaikan pada bagian kedua, terjadilah ledakan /explosion !!!!!

Sederhana saja, pada waktu repair bagian pertama kerak2 crude/condensate yang masih nempel di dinding vessel mulai mencair dan seterusnya menguap /menjadi gas dan mengisi ruang mulai dari vesel itu sendiri dan sepanjang flare header. Pada waktu pengelasan kedua dilakukan, penguapan condensate menjadi gas makin banyak dan semakin bermesraan dengan manisnya dengan udara yang datang baik dari flare tip sendiri maupun dari celah2 vessel ( flanges, etc.. ). Setelah campuran gas dan udara bergumul hingga di flare tip,, maka langsung disambar oleh api yang berasal dari pilot flare tsb.

Jadi ini adalah semat kesalahan procedure bukan design atau pun tipe flare nya yang salah.

Tanggapan 3 – Hari, Suprayitno

Justru itu yang mestinya diungkapkan, biar nggak terjadi lagi di tempat lain maka prosedurnya harus diperbaiki. Nah ini kan pelajaran yang berharga buat yang lain2nya. Nggak tahu kalau prinsipnya biar yang lain ikut merasakan hal yang sama (sorry bercanda).

Disamping itu kenapa saya anggap perlu mengemukakan type dan merek, soalnya kan flare tip ada beberapa type dan harusnya kalau yang bener kan api tidak bisa turun ke bawah (flare line) karena flare tip didisain juga sebagai flame arrestor (tolong dikoreksi kalau salah). Gitu lho pak Hari juga.
Kecuali sumber apinya dari bawah yaitu dari pengelasan itu tadi. Jadi kalau begini masalahnya maka memang yang salah adalah prosedurnya. Nah untuk itulah kita mesti tahu secara detail permasalahannya supaya kita bisa tahu dimana letak kesalahannya.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: