Saya tidak dapat menerima tidak adanya flare atau setidaknya vent di anjungan offshore. Tanpa flare atau vent, tidak memungkinkan dilakukannya depressurizing anjungan pada saat rig atau construction barge merapat ke anjungan serta pengosongan anjungan dari hidrokarbon dalam keadaan darurat. Anjungan tersebut tidak akan dapat melakukan intervensi besar seperti drilling, work over atau intervensi konstruksi yang berarti. Disamping itu sumur yang berada dianjungan tidak akan pernah bisa di start ulang pada saat sumur tersebut mati. Pada saat sumur harus distart, diperlukan mengalirkan efluent sumur kepermukaan pada tekanan yang serendah-rendahnya. Bila tidak ada flare dan vent, kemana effluent tersebut dialirkan ? Tentunya kita tidak boleh membuangnya kelaut sehingga mencemari laut.

Re : Pengembangan Inteeligent Pig untuk Sub Sea

Pembahasan – Hari, Suprayitno

Maaf topiknya saya ganti karena kelihatan sedikit bergeser.

Mungkin karena saya nggak nyampe bahasanya jadi saya sederhanakan saja. Policy-nya adalah tidak ada flare atau vent di offshore, jadi topside piping-nya harus didisain sesuai dengan shut-in wellhead pressure. Mengenai letak spec break saya katakan masih mungkin jadi belum final.

Tanggapan 1 – Cahyo Hardo

Pak Hari, saya mau ikutan nimbrung yach, sekalian ikut belajar dari bapak2.

Kalau menilik pembicaraan bapak, apakah berarti akan diterapkan desain yang mengikuti pola passive protection atau bapak mau menggunakan filosofi HIPPS (high integrity pressure protestion system) atau ada terobosan baru?

Kalau memang tidak mau ada flare atau vent stack, mestinya mengikuti kaidah passive protection? Betul atau salah yach? atau saya yang tidak nyambung kali he..he…

Tanggapan 2 – Hari, Suprayitno

Memang akan didisain sekuat-kuatnya (based maximum possible anticipated pressure), tanpa ada kekawatiran ada over pressure.

Tanggapan 3 – Cahyo Hardo

Pak Hari, setahu saya, ada kejadian yang bisa mengakibatkan tekanan berlebih, tapi bukan karena
faktor dalam (SITHP of wells, compressors, dst). Ada juga faktor luar yaitu external fire dan thermal.
Apakah ini juga diantisipasi?

Kalau fire, tekanan berlebihnya bisa berlipat2 dari SITHP wells? Desainnya sampai ke sini, atau ada juga rencana memasang fire-based PSV, atau mengeliminasinya sama sekali?

Kalau ini juga diperhitungkan, berapa tebalnya pipanya nanti…

Maaf kalau terkesan seperti audit, to be honest, justt curious…

Tanggapan 4 – Elwin Rachmat

Karena sudah menyinggung flare dan vent, maka saya ikut nimbrung.
Saya tidak dapat menerima tidak adanya flare atau setidaknya vent di anjungan offshore. Tanpa flare atau vent, tidak memungkinkan dilakukannya depressurizing anjungan pada saat rig atau construction barge merapat ke anjungan serta pengosongan anjungan dari hidrokarbon dalam keadaan darurat. Anjungan tersebut tidak akan dapat melakukan intervensi besar seperti drilling, work over atau intervensi konstruksi yang berarti. Disamping itu sumur yang berada dianjungan tidak akan pernah bisa di start ulang pada saat sumur tersebut mati. Pada saat sumur harus distart, diperlukan mengalirkan efluent sumur kepermukaan pada tekanan yang serendah-rendahnya. Bila tidak ada flare dan vent, kemana effluent tersebut dialirkan ? Tentunya kita tidak boleh membuangnya kelaut sehingga mencemari laut.
Untuk kasus anjungan sumur gas pada akhirnya dalam filosopi dan desain dasarnya saya gunakan sonic vent dan removable burner. Sebaliknya saya tidak memerlukan topside piping didesain setinggi tekanan shut-in sumur. Tekanan setinggi itu cukup diterima oleh christmas tree yang memiliki 2 automatic (pneumatik atau hidrolik) valves (biasanya sebuah master valve dan sebuah wing valve) yang berhubungan dengan sistim ESD anjungan. Sedangkan rating piping sesudah christmas tree cukup untuk menahan tekanan sumur tertinggi pada saat berproduksi.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Tanggapan 5 – Hari, Suprayitno

Sekalian jawab pak Rachmat dan pak Cahyo.

Kita tetap berpegang pada API 14C, bahwa PSV itu bisa ditiadakan selama MAWP-nya lebih besar dari SITP. Dengan tetap menerapkan primary protection PSH, jadi kalau ada peningkatan tekanan apapun penyebabnya maka akan berlanjut dengan shutdown. Sedangkan second-nya yaa itu tadi pasive protection sebagai pengganti PSV. Sedangkan yang dimaksud dengan No vent No flare itu adalah tidak ada continuous vent/flare, sedangkan untuk emergency dan maintenance tetap diantisipasi termasuk drain. Ini semua karena policy-nya adalah minimize hydrocarbon discharge to atmosphere.

Tanggapan 6 – Elwin Rachmat

Jawaban pak Hari bisa jadi valid pada kasus single well platform dimana fasilitas lainnya dapat dibuat didarat. Hal ini berarti juga bahwa sealine harus dapat dikosongkan didarat. Jadi single well platform tersebut tidak terlampau jauh dari darat sehingga tidak membutuhkan sealine yang panjang (mahal). Atau bila kedalaman air dangkal saja (delta atau sungai), lokasi sumur dapat saja ditimbun tanah sebelum dibor (directional atau horizontal well) sehingga menjadi on shore tidak lagi off shore yang dapat menghemat banyak pada biaya setiap sumurnya. Namun untuk kasus multiwell platform dimana kedalaman air cukup dalam (sehingga tidak dapat ditimbun), vent atau flare tetap harus ada (walaupun penggunaannya intermittent) untuk menjaga pada keadaan darurat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Dengan demikian pertanyaan bagaimana rig atau construction barge merapat juga sudah ada solusinya. Untuk setiap kali menstart sumur mati terpaksa didatangkan kapal yang khusus untuk itu .
Pada posting pak Hari lainnya dikemukakan bahwa diplatform tidak memiliki pressure vessel. Hal ini juga valid untuk single well platform. Pada multi well platform diperlukan adanya test separator untuk menguji produksi setiap sumur secara berkala. Bila arus, angin dan ombak tidak terlampau besar test separator tidak perlu dipasang diplatform tapi dipasang diatas barge atau kapal yang didatangkan pada paltform yang bersangkutan. Test separator dapat juga dihilangkan bila ditemukan three phase flowmeter yang ketelitian dapat terima (ini yang sulit). Pilihannya menjadi mana yang lebih ekonomis (dan juga safe).
Bagaimanapun juga saya percaya pak Hari mempertimbangkan tidak hanya ekonominya saja melainkan juga aspek safety dan operability dari platform tersebut dari awal produksi sampai tetes minyak atau gelembung gas terakhir dari sumur yang terdapat pada platform tersebut.

Tanggapan 7 – Cahyo Hardo

Pak Hari,

Tidak ada continues flare? Saya kurang jelas nih… Kalau vent yang intermittent saya lumayan kebayang, tapi flare yang tidak kontinues???

nyala pertama kali waktu kejadian emergency bagaimana yach? Apakah ditembak dulu pake fire gun? atau ada cara baru yang cepat tapi aman dan reliable?

Lalu bagaimana dgn mandatory dari ASME pressure vessel yang tetap pengen ada PSV fire-based untuk proteksi dirinya dari external fire?

Mohon pencerahan….

Tanggapan 8 – S. Sulaeman

Saya sangat setuju dengan statement anda, memang kita tidak harus menyalakan terus flare, karena tidak ekonomis. apabila kita dapat memaintain tekanan dibawah MAWP, mengapa harus diventing ? Dan apa salahnya kalau pipa kita didesign sesuai dengan shut-in well head pressure , kalau lebih ekonomis ? Bravo !

Tanggapan 9 – Sulaeman

Memang tidak perlu ada continuos flaring, kita hanya butuh pilot flare. PSV fire based tidak dipergunakan secara kontinyu, kalau terpakai kontinyu berarti operasinya ngawur !

Tanggapan 10 – Hari, Suprayitno

Pak Cahyo,

Karena memang tidak ada pressure vessel satupun di offshore.

Tanggapan 11 – Cahyo Hardo

Oh begitu tokh, jadi tidak ada pressure vesselnya.
Berarti saya sudah tersesat nih. Jadi mohon dimaafkan.

Ngomong2 dgn Pak Sulaeman, bukankah pilot flare itu harus selalu menyala?? berarti khan kontinues?

Tanggapan 12 – Sulaeman

Kalau flare itu berdiameter 10 inch, maka pilot berkisar 1,5 inch.

Tanggapan 13 – Cahyo Hardo

Dear Pak Sulaeman,

mohon maaf,
bukankah topik kita itu kontinues flare? dan bukan dimensi flare tip atau pilot or I miss something here?

Tanggapan 14 – Sulaeman

Topik kita adalah top-side piping design, jadi saya agak salah membahas mengenai dimensi pilot dibandingkan dengan dimensi flare itu sendiri. Bukan continous flare. Terima kasih.He, he, he….

Tanggapan 15 – djoko siswanto

Dear Pak Sulaeman,

Mengenai flare amannya harus tetap nyala, tapi juga harus hati-hati, kalo kebetulan ada maintenance. Ada semacam korek api yg terlelak di di puncak flare yg dapat dioperasikan dari bawah. sudah 3 kali terjadi kecelakaan fatal, terakhir di kaltim saya ngak sebut companynya ya, terjadi beberapa ledakan yg beruntun ketika sedang dilakukan maintenance bejana condensat yg salurannya nyambung ke flare karna api pilot flare tetap nyala, maka apinya nyamber ke bawah karna di bawah (tabung kondensat masih ada sisa-sisa gas atau hidrocarbon yg menempel pada dinding bejana bgn dalam menguap akibat panas matahari)….

Tanggapan 16 – Hari, Suprayitno

Kalau mau membahas topik flaring, ya kayak saya tadi, tinggal ganti saja topiknya. Nggak apa-apa pak, toh ini untuk kemajuan kita bersama, nanti yang ahli di bidang ini biar ikut nimbrung dan tambah seru. Topic ini awalnya kan leak detection, yang tercampur dengan Inteligent Pig application.