Select Page

Masalah utama di areal peat (gambut) yang utama adalah sifatnya yang sangat compressible dimana lapisannya akan memiliki potensi settlement (penurunan) yang sangat besar ketika dibebani di atasnya. Semakin tebal lapisan gambutnya, semakin besar settlement yang dapat terjadi. Gambut di Indonesia (contoh Kalimantan Tengah) merupakan salah satu daerah yang memiliki lapisan gambut yang besar di dunia (s.d 15-20m). Nah, metode2 aplikatif yang dapat diterapkan berkaitan dengan konstruksi suatu struktur di atasnya akan sangat bergantung pada beberapa aspek, misalnya tebal gambut, strength lapisan tanah di bawah gambut, sifat konstruksi di atasnya, dan tentu saja properties dari peat itu sendiri. Jika lapisan gambutnya cukup tipis, 0-2m, cara yang paling gampang adalah dengan membuang atau mengupas lapisan gambut tersebut dan menggantinya dengan material yang lebih baik. Jika kedalamannya tidak terlalu dalam (3-4m), konstruksi dengan menggunakan cerucuk kayu (dolken atau curdoray) dapat pula menjadi pilihan. Sedangkan jika lapisan gambutnya sangat dalam/tebal, maka konstruksi dengan tiang pancang maupun dengan menggunakan material alternatif yang ringgan seperti EPS (Expanded Polyesthyrine) dapat menjadi pilihan. Namun tentu kita harus pula memperhitungkan segi biayanya pula.

Tanya – suparman@ptsofresid

Rekan2 milis,

Telah sering saya baca milis bicara tentang process, tentang vessel, kali ini saya mengundang para pakar dan praktisi sipil untuk bicara. Banyak lokasi proyek2 MIGAS yang berada di daerah dan tanahnya disebut sebagai PEAT. Ada suatu proyek dengan type tanah peat, mereka memasang kordoroy sampai tumpuk 4 M sebagai fundasi alhasil tetap tenggelam. Ada yang punya pengalaman dengan fundasi didaerah Peat Soil?? Bagi2 dong pengalamannya.

Tanggapan 1 – tamee250@cyberlib.itb.ac.id

Pak Suparman,

Masalah gambut memang sangat sulit sekali di kendalikan apalagi konsolidasi yang terjadi sangat panjang dimana gambut adalah bahan organik.

Setahu saja (saya bukan pakar lho pak), dosen saya pernah melakukan perbaikan jalan di lahan gambut menggunakan kayu yang ditumpuk hingga 4 lapis. kenapa kayu? karena mudah sekali diperoleh di kalimantan dan cukup tahan lama ‘bila terendam air’. selain itu memang tetepa menggunakan geotekstil agar kayu tersebut menyatu satu dengan yang lainnya dan agar lapisan grade tidak terbawa oleh air.

Melihat dari slide yang diberikan dosen saya (masyhur irsyam, lab geoteknik PPAU-IR ITB), memang jalannya tidak sebaik jalan pada lapisan
tanah pada umumnya, tapi setidaknya alat berat dapat melewatinya.

Dapat juga menggunakan sistem plat JHS. nanti saya coba carikan brosurnya. namun teknik ini dipatenkan. sistemnya adalah seperti ini, ada
plate beton kira2 2x2m (kalo tidak salah) dimana pada tengah2 nya ada 1 mini pile. kemudian plate tersebut di susun memanjang. teknik ini pernah dilakukan untuk jakarta utara seingat saya ring roadnya di daerah merunda.

Mungkin segini dulu nanti saya tambah infonya.

Tanggapan 2 – ismail.umar@conocophillips

Mas (atau Akang sih) Suparman,

Kalau saya nggak salah duga, yang dimaksud dengan PEAT oleh mas Suparman mungkin tanah gambut ya?

Saya kebetulan bukan orang civil tapi juga kebetulan pernah bekerja pada lapangan migas yang bergambut setebal kurang lebih 12 meter hampir diseluruh area konsensi perusahaan tersebut. Lokasinya di Selat Panjang di bawah atau bagian selatan Riau Daratan.

Di atas lahan bergambut tersebut kami pernah membangun kantor, mess, Mushalla, pondasi rig, jalan, dll lain-lainnya.

Untuk pondasi rig kami menggunakan piling yang cukup (sangat) dalam menggunakan pipa sedangkan untuk bangunan lain kami menggunakan piling kayu. Baru diatas piling ini kami bikin skid untuk menarok bangunan di atasnya. Begitu pula untuk process equipment atau facilitas produksi, kalau bebannya terlalu berat (dari hitungan) kamai gunakan piling besi selebihnya piling kayu.

Sedangkan untuk jalan, jetty, dan lay down (open storage) area kami menggunakan anyaman kayu korodorai yang dianyam dengan kawat 5 mm secara keseluruhan. Dengan demikian hamparan kayu kordorai ini seolah-seolah mengapung di atas gambut – seperti rakit lah kurang lebih. Dengan demikian beban yang beratpun dapat melewati jalan tersebut. Kami pernah waktu itu mendatang moveable (truck) work over rig, kalau nggak salah ingat, beratnya 75 ton (atau kapasitasnya yang 75 Ton). Pokok-e itu work over rig truck tidak ngejeblos ke dalam gambut dan naik ke pondasi rig dengan selamat.

Demikian Mas Suparman, mungkin teman2 CPI di Riau dan Petronusa di Selat Panjang bisa menambahkan lebih detailnya.

Buat teman2 dari civil tolong analisa teoritisnya dong, karena selama ini karena perusahaannya kecil – perkerjaan ini dikerjakan oleh orang isntrument yg terorinya tentang ini kagak cukup atau kagak ada. Dibantu vendor sipil juga sih padawaktu itu, cuman kagak tahu benar salah nya?

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut:

Share This