Analisa struktur yang mengandung crack masuk dalam kategori fracture mechanic. Nah bicara fracture mechanic, maka kita bicara tentang life prediction based on Paris Law, yaitu seberapa lama struktur yang mengandung crack akan bertahan. Dengan kata lain, stress analysis structur yang mengandung crack dan tidak mengandung crack akan sangat berbeda sehingga analisa sebelumnya tidak valid lagi dan tidak bisa digunakan. Banyak code yang sudah mengatur ini, dan sudah memasukkan analisa fracture mechanic dalam prosedur perhitungan stressnya dan juga life predictionnya.

Tanya – sugeng_walj

Banyak kasus, metoda finite element digunakan tanpa dukungan inspeksi teknis untuk mengetahui ada tidaknya retak pada material. Material diasumsikan sempurna dan local stresses akibat discontinuity dimasukkan sebagai unsur safety factor. Sepengetahuan saya, ini tidak berlaku untuk retak (crack).

Pertanyaanya:

Sekali ditemukan retak pada suatu struktur, apakah hasil analisis FEM (CAESAR, SAP2000, NASTRAN, etc) yg telah dilakukan sebelumnya menjadi tidak dapat diterima lagi? any code deals with this?

Terima kasih jawabanya.

Tanggapan 1 – wisnu.bayu.sakti@power.alstom

Pak Sugeng,

Untuk kasus FEM pada struktur yang mengalami crack, Anda bisa menggunakan ANSYS..

Saya sudah pernah mencoba untuk analisa struktur yang mengalami crack dan berhasil… dan dapat dilihat distribusi tegangan maupun displacement-nya..

Kalo pake NASTRAN saya belum pernah.

Waktu pemodelan 3D-nya saya menggunakan software Unigraphics NX3, soalnya pemodelan 3D di ANSYS susah.

Semoga bisa membantu…

Tanggapan 2 – Dy Prabowo

Pak Sugeng,

Saya coba memberikan pendapat saya, menurut saya, kalo material misal tubular, beam didapati crack/retakan maka analysis yg sebelumnya (kondisi tidak ada crack) menjadi tidak valid lagi.

Analisa FEM hanya untuk mengecek apakah dengan kondisi crack masih mampu menerima load ataukah tidak, tentunya crack tersebut juga harus dimodelkan sesuai kondisi di lapangan. Code ??? Selama masih berhubungan dengan steel structure, biasanya pake API, AISC, ASTM, AWS.

Tanggapan 3 – pje704748 @batamec

Tambahan sedikit , kalau material dan welding-an sesuai dengan AWS, API dan ASTM, structure with crack itu hukum-nya haram atau bebas dengan crack setelah dipastikan dengan visual dan NDT. Material dan welding-an dengan Crack tersebut harus di ganti dan repair dengan gauging di welding-an yang terdapat crack dan di weld lg.

Mohon pencerahan.

Tanggapan 4 – amal ashardian

Dalam welding joint normal adanya porosity asal quantity nya masih masuk dalam toleran. Itu salah satu kelemahan welding joint. Sayang aku ngga punya sample RT. (bagi yang punya mohon di share) Tapi yang namanya porosity itu pasti ada, ngga mungkin 100% bebas porosity.

Porosity ini adalah sumber dari stress consentration yang ahkirnya memicu terjadinya crack. Saat pertama di weld tentu saja ngga boleh ada crack. Tapi seberapa lama weld joint ini bisa bertahan tanpa timbul cracking?? Code dan berbagai standard telah menyediakan aturan untuk menjamin sampai usia pakai habis crack ini ngga bakalan muncul dengan memberikan batasan dan cara hitungan untuk fatigue assessment.

Structural analysis dengan mensimulasikan crack, biasa dilakukan dengan Solid element analysis tujuannya untuk mencari batasan bentuk dan arah crack yang masih bisa di toleransi.

Tanggapan 5 – M. Teguh

Pak Sugeng,

Salah satu metode untuk melakukan assessment dan menentukan acceptance criteria mungkin bisa dengan menggunakan API RP 579 di section 9 ‘ assessment of crack like flaws’.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia Pembahasan Bulan Mei 2009 ini dapat dilihat dalam file berikut: