FPSO = Floating Production Storage Offloading adalah fasilitas produksi, penimbunan/penyimpanan dan pengapalan/export terapung, merupakan marine teriminal, disini, hasil produksi minyak/gas di kapalkan utk di export/jual. Oleh karenanya sebagai marine terminal atau pelabuhan terapung FPSO tunduk pada ketentuan ISSP Code. Karena di Indonesia aturan2 spt ini masih abu2 alias beljes – belum jelas, maka penerapan ISSP code masih tergantung dari ‘the man behind the table’ dan kesadaran Operator.

Tanya – Didik Pramono

Rekan milist yth,

Untuk memenuhi International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code, salah satu issuenya adalah mengenai Port Facility Security Officer (PFSO).

Mohon pencerahan nih mengenai PFSO, apakah ada ketentuan mengenai kewajiban PFSO onboard of FSO/FPSO karena FSO/FPSO di consider sebagai special port? Kalau ada mekanisme assignment-nya bagaimana? Apakah ditunjuk oleh Administrator Pelabuhan terdekat yang sudah menerapkan ISPS code atau operator FSO/FPSO bisa mengajukan kandidat yang tentunya memenuhi persyaratan sebagai PFSO?

Mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – hasanuddin_inspector

Mas Didik,

Rasanya, yg harus digarisbawahi adalah bahwasanya menurut IMO term FPSO adalah ship dan bukan merupakan port. Yg menyebut FPSO sebagai port kan pihak Hubla?? IMO tidak mengkategorikan FPSO sebagai port ya..

Back to ISPS codes, IMO mempersyaratkan bhw tiap ships (including any floaters/FPSO) harus memenuhi syarat :

– SSP (ship security plan)

– SSO (ship security officer)

– CSO (company security officer)

– certain onboard equipment

PFSO sendiri, menurut IMO hanya dipersyaratkan ada di port. So, nurut saya cukup jelas bahwa tidak perlu ada PFSO onboard F(P)SO.

Pls correct me if I’m wrong..

Tanggapan 2 – Martin@seahorse

Saya sependapat atas informasi yang disampaikan oleh Pak Hasanudin karena menurut Basic ISPS yang ada demikian hanya mungkin dari sisi kitanya yang mengikuti culture atau budaya pendahulu kita saja dan itu sering terjadi disekitar kita.

Tanggapan 3 – Didik Pramono

Pak Hasan/Pak Martin,

Terima kasih atas pencerahannya. Saya baru saja diskusi dengan orang bagian Divisi Survey BKI dan diinformasikan bahwa PFSO seharusnya ada di F(P)SO karena dikonsider sebagai special port. Dan biasanya yang mempunyai certificate PFSO ini adalah salah satu ABK setingkat Mualim I.

Lah malah bingung saya :-p

Tanggapan 4 – hasanuddin_inspector

Yah beginilah regulasi di negeri kita.. Siap2 aja dengan kebingungan2 lainnya yg segera akan datang sebelum anda mendeploy F(P)SO anda.

Tanggapan 5 – Martin@seahorse

Dear Pak Didik,

Memang Indonesia terkadang membingungkan namun kita tetap saja dapat menjadikan hal2 tersebut sebagai refrensi yang terutama adalah sudut kepentingannya jika kepentingannya memang dihadapkan dengan aturan yang ada (walau sesungguhnya tidak ada) mau tidak mau siapa yang regulator dan siapa yang berkepentingan, jadi yah dikembalikan dari yang membutuhkan lagi Pak, ini hanya sekedar diskusi sedikit pak.

Tanggapan 6 – Didik Pramono

Pak Hasan/Pak Martin/Pak Kokok,

Terima kasih atas respon-nya. Mengenai PFSO saya akan mencoba memastikan dan berdiskusi lebih lanjut dengan pihak Hubla, terutama Direktorat KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai).

Memang benar banyak aturan di negeri ini yang membingungkan, banyak interpretasi yang berbeda dan saling tumpang tindih. Beberapa bulan yang lalu di hotel JW Marriot Jakarta telah diadakan workshop mengenai sosialisasi peraturan dari Hubla khususnya untuk penerapan azas cabotage di lingkungan business KKKS. Hadir juga disana pihak dari BPMIGAS dan seluruh undangan dari KKKS, tetapi sayang waktunya sangat mepet hanya dari jam 8.00 s/d 11.30 karena sudah keburu sholat Jumat. Mungkin kalau ada workshop serupa dengan waktu yang lebih longgar dan dengan menghadirkan pihak regulator terkait seperti Hubla, Migas, BPMIGAS, BKI, dll akan sangat membantu kami di KKKS untuk lebih memahami aturan dan implementasinya.

Tanggapan 7 – Martin@seahorse

Dear Pak Didik,

Jika memang bapak mau mengetahui lebih banyak atau langsung certification sebenarnya bisa juga sih untuk mengikuti pelatihannya PFSO/SSo dan CSo di ABS/GAMMAT-DEPHUB/PERTAMINA EDUCATION CENTER-Rw.Mangun karena mereka akan membantu untuk pembuatan SSA/SSP atau untuk PFSO (Port Facility) Pak.

Tanggapan 8 – El Mundo

FPSO = Floating Production Storage Offloading

adalah fasilitas produksi, penimbunan/penyimpanan dan pengapalan/export terapung, merupakan marine teriminal, disini, hasil produksi minyak/gas di kapalkan utk di export/jual. Oleh karenanya sebagai marine terminal atau pelabuhan terapung FPSO tunduk pada ketentuan ISSP Code. Karena di Indonesia aturan2 spt ini masih abu2 alias beljes – belum jelas, maka penerapan ISSP code masih tergantung dari ‘the man behind the table’ dan kesadaran Operator.