Stainless steel pada umumnya tidak akan berkarat bila terkena atmospheric kondisi normal,
namun dalam lingkungan lainnya, misalnya asam atau di dalam air yang mengandung khlorida, resiko terjadi korosi akan meningkat.
Kenyataannya banyak Stainless tidak mengalami karat dalam beberapa kondisi tapi bukan berarti bahwa stainless adalah logam mulia. Ketahanan karat adalah disebabkan permukaan baja bereaksi terhadap oksigen yaitu hasil dari pembentukan lapisan pelindung yang tipis yang mencegah korosi. Lapisan oxide (oxide layer), terutama terdiri dari kromium oksida, disebut lapisan pasif, dan proses pembentukan lapisan disebut passivasi. Korosi dari stainless steel mungkin terjadi saat lapisan tipis ini, lapisan pelindung oksida sudah rusak atau terganggu, atau habis di kromium, yang sering terjadi setelah terkena suhu tinggi, misalnya pada proses pengelasan.

Tanya – maringan htg

Hello sahabat Migas,

Mau share sedikit mengenai Pickling untuk Stainless Steel.

Stainless tidak selalu tahan karat

Stainless steel pada umumnya tidak akan berkarat bila terkena atmospheric kondisi normal,
namun dalam lingkungan lainnya, misalnya asam atau di dalam air yang mengandung khlorida, resiko terjadi korosi akan meningkat.
Kenyataannya banyak Stainless tidak mengalami karat dalam beberapa kondisi tapi bukan berarti bahwa stainless adalah logam mulia. Ketahanan karat adalah disebabkan permukaan baja bereaksi terhadap oksigen yaitu hasil dari pembentukan lapisan pelindung yang tipis yang mencegah korosi. Lapisan oxide (oxide layer), terutama terdiri dari kromium oksida, disebut lapisan pasif, dan proses pembentukan lapisan disebut passivasi. Korosi dari stainless steel mungkin terjadi saat lapisan tipis ini, lapisan pelindung oksida sudah rusak atau terganggu, atau habis di kromium, yang sering terjadi setelah terkena suhu tinggi, misalnya pada proses pengelasan.

Perlunya proses Pickling

Lapisan oksida (protective oxide layer) dapat dibangun kembali jika kedua ’black oxide ataupun ’burn scale’ dihapus dengan cara yang benar. Maka ketahanan korosi dari stainless steel akan dikembalikan. Ada dua cara untuk melakukannya:

1. Proses perlakuan Kimia (Chemical surface treatment)

2. Proses perlakuan Mekanik (Mechanical surface treatment)

Proses

perlakuan Kimia berarti oxide layer yang sudah rusak dilarutkan, biasanya dengan larutan asam. Ada dua metode utama – pickling dan electrolytic polishing. Proses perlakuan mekanik berarti lapisan permukaan dikeluarkan oleh gerinda, abrasive blasting atau penyikatan (brushing).
Dengan proses pickling, logam oxides dilarutkan oleh kombinasi asam hydrofluoric dan asam nitric (hydrofluoric and nitric acids).

Larutan asam ini melarutkan warna kehitaman akibat panas pengelasan (heat tint) dan
daerah yang kehabisan chrome (chromium depleted zone) . Permukaan yang sudah bersih ini kemudian kembali dipassivasi secara cepat dengan oksigen di udara, dan hasilnya daerah deposit las akan mendapat ketahanan korosi yang optimal. Metode pickling unggul secara teknis untuk perawatan permukaan stainless steel karena dapat mengembalikan ketahanan korosi pada permukaan stainless yang rusak akibat welding.

Kekurangannya Pickling adalah larutan yang korosif dan beracun, dan harus ditangani dengan sangat hati-hati.

Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi metode yang menghasilkan daya tahan korosi yang terbaik. Perbandingan menunjukkan bahwa pickling adalah metode terbaik untuk mencapai ketahanan korosi yang optimal. ( lihat lampiran gambar 1 ).

Berbagai bentuk produk pickling yang berbeda tersedia di pasar – pickling gel, pickling paste dan pickling spray/bath ( dengan proses semprot atau celup ). Pickling Paste sering menjadi pilihan terbaik karena melekat ke permukaan stainless dan tidak mudah jatuh (meleleh). Sebagai tambahan, Pickling Paste lebih user friendly dan bahaya percikan sangat minim. Produk Pickling harus menghapus semua warna hitam akibat panas, lapisan kromium yang rusak, serta sisa terak.
Dengan proses Pickling pada kondisi suhu normal 25-30 deg C akan memberikan permukaan yang bersih setelah sekitar satu jam. ( lihat lampiran gambar 2 ).

Demikian
semoga menjadi informasi yang bermanfaat.

Tanggapan 1 – janjonswan hutasoit

Selamat Pagi and terimakasih Pak Maringan atas penjelasannya….

Kebetulan di tempat kerja sekarang kami melakukan proses pickling untuk membersihkan kotoran ayng melekat di cladding pipe….
Karena saya bagian HSE selama ini saya agak kurang mengerti akan pengaruh picklingnya terhadap quality product kami (taunya hanya untuk membersihkan saja), yang menjadi fokus adalah masalah Hazard dari Pickling chemical tersebut yang agak menyengat dan cara menetralkan waste water dari pickling proses tersebut ..Sejauh ini kami memakai metode kimia Asam + Basa, dimana asam pickling kami adalah HNO3 dan HF dan kami netralkan dengan Basa (caustic soda)..
Kalau ada penjelasan yang lebih lanjut mohon di sharing Pak sekalian wwtp sistemnya kalau ada.

Tanggapan 2 – pje704748@batamec

Tambahan, untuk pencegahan tidak terjadi passivasi harus diperhatikan pada saat pengelasan dgn stainless stell antara lain clean dengan scale, coat dll, tidak perlu di preheat, jarak pengelasan, dan pengaturan travel speed, ampere, volt harus diperhatikan sesuai dengan tebal material yang akan dilas dll yang terdapat pada WPS.

Tolong dicorrect.

Tanggapan 3 – MahadiCapah@Eaton

Sebagai tambahan untuk pickling, dalam beberapa kasus spt di aerospace untuk high nickel alloys, specimen yang sudah di pickling akan di seal dengan plastic dengan memasukkan gas argon ke dalamnya, setalah itu harus di welding dalam masa waktu 24 jam untuk menghindari korosi . Alasannya, karena pickling hanya temporary protection untuk korosi…

Tanggapan 4 – Endri Prasetyo

Pak Maringan,

Mau tanya nih. Lalu apa bedanya pickling dan pasivating?

Bagaimana cara yang paling efektif, apakah sirkulasi atau rendam?

Mengenai waktu?

Maaf banyak pertanyaannya.