Metering adalah salah satu kerjaan yang paling saya benci di pabrik. Karena barangnya seperti tidak bisa ditawar jika harus dipasang. Dan kalau sudah dipasang akan susah ditawar lagi jika harus direlokasi, karena umumnya meter itu punya spesifikasi khusus, apalagi yang bertipe head meter, sakitlah badan awak ngurusnya….
Salah satu kesukaan manajemen pabrik yang menganut filosofi, asal bisa buat ngukur dan murah, umumnya orifice dipasang. Argumentasi ini mungkin banyak yang menentangnya jika membandingkan orifice model junior dan senior. Dari namanya saja, “senior” pasti ada “lebihnya”. Bukan lebih ke-pengalamannya, tapi kepada ke-competency-annya, yaitu bisa ditukar pasang dalam keadaan on-line. Asal saja maintenance-nya rapi, maka kesulitan dalam hal penukaran ukuran bore orifice tidak akan terjadi. Tapi kalau itu terjadi, kasihan sekali kawan2 dari operasi….tangan bisa2 jadi gede2 waktu mutar engkolannya….maklum abis berat sih waktu mutarnya.

Tanya – Cahyo Hardo

Just my opinion.

Metering adalah salah satu kerjaan yang paling saya benci di pabrik. Karena barangnya seperti tidak bisa ditawar jika harus dipasang. Dan kalau sudah dipasang akan susah ditawar lagi jika harus direlokasi, karena umumnya meter itu punya spesifikasi khusus, apalagi yang bertipe head meter, sakitlah badan awak ngurusnya….

Salah satu kesukaan manajemen pabrik yang menganut filosofi, asal bisa buat ngukur dan murah, umumnya orifice dipasang. Argumentasi ini mungkin banyak yang menentangnya jika membandingkan orifice model junior dan senior. Dari namanya saja, “senior” pasti ada “lebihnya”. Bukan lebih ke-pengalamannya, tapi kepada ke-competency-annya, yaitu bisa ditukar pasang dalam keadaan on-line. Asal saja maintenance-nya rapi, maka kesulitan dalam hal penukaran ukuran bore orifice tidak akan terjadi. Tapi kalau itu terjadi, kasihan sekali kawan2 dari operasi….tangan bisa2 jadi gede2 waktu mutar engkolannya….maklum abis berat sih waktu mutarnya.

Bukan karena sebab yang macam2 (menurut saya!) orang lebih memilih turbin meter atau meter yang pakai metoda displacement ketimbang orifice untuk fluida yang incompressible seperti air atau minyak. Tapi yach karena sifat cairan yang tidak mampu untuk ditekan itulah penyebab utamanya. Bayangkan, tipe head meter seperti orifice kudu mengukur laju produksi cairan, spike pressure sedikit saja, maka harga laju alirnya bisa berkali lipat. Ingatkah anda bahwa debit itu setara dengan pangkat dua dari beda tekan?

Meskipun tidak menarik, tapi hubungan kesetaraan beda tekan dengan debit bisa menjadi alat yang powerfull untuk suatu troubleshooting. Bayangkan, habis di commissioning oleh pembuatnya sendiri, sebuah kompresor jenis sentrifugal nampaknya ayem2 saja, sampai suatu ketika full test rate dilakukan. Ajaibnya, laju gas yang masuk kompresor lebih sedikit dibandingkan dengan laju yang keluar. Darimana saya harus mulai nge-ceknya?

Yach namanya juga beruntung, iseng2 ta’ lihat layar performance map dari kompresor di turbine control system (TCS). Aha, kenapa dp pressure drop across orifice sama persis dengan bacaan flow yang notabene dalam Mmscfd itu? Cek2 data kalibrasi pas komissioning, konfirmlah saya bahwa ada kesalahan di algoritma PLC, yaitu bahwa dia lupa mengubah dari inch H2O (delta p yang melewati orifice) ke MMscfd. Kenapa bisa begitu, sederhana saja, mana ada delta p setara dengan debit he..he.. bisa2 pak Bernoulli marah besar, iya engga???

Lalu, ada yang bilang ultrasonic meter itu lebih joos ketimbang orifice dari sisi reliability dan
accuracy-nya karena dia punya rentang operasi yang lebar (artinya mungkin bisa lebih hemat beli yang ini, mungkin satu ini bisa cover dua senior orifice (?)), tidak seperti orifice yang pasti ada syarat2 khusus, seperti beta ratio, incoming pipe & downstream length of the pipe, no pocket line at instrumentation line, especially for gas except we use drip pot, etc, bla..bla….

Tapi namanya inferential measurement, mengukur dengan besaran yang diduga, pasti ada bolongnya juga. Kalau gas-nya kering2 aja sih oke, tapi kalau mulai banyak parafinnya, waduh, itu meter bisa turun naik bacaannya engga karuan. Tetapi terus terang kesalutan saya kepada pencipta meter ini adalah, kemampuannya untuk “menebak” velocity fluida pada pelbagai rentang rejim aliran, apalagi kalau sudah ada arus putar yang keriting2 itu, bagaimana pula dia bisa menebaknya yach, maksudnya menebak dengan jitu? I do not know, urusan ini orang2 “permeteran pasti banyak tahunya”.

Terakhir yang masih misteri bagi saya, jika ada alat yang dipasang tapi kita tidak bisa mengkalibrasinya in-situ selain dari ultrasonic meter, yaitu coriolis meter. Saya jadi ingat, ini mungkin salah satu kelebihan custody meter yang pakai orifice, pen-teraan-nya lebih memungkinkan untuk dilakukan di lapangan.

Balik ke coriolis, di pabriknya sana, biasanya dia di test pakai meter model turbin untuk mengkalibrasnya. Tapi begitu sampai dilapangan, aduh gimana cara ngetest-nya wong dia itu sejatinya ngukur laju alir massa via hukum coriolis. Kalibrasi pakai tangki condensat atau minyak, pasti ada yang nguap, engga aci donk! Pakai air mungkin joos, tapi khan fluida kita pasti terdiri dari minyak dan air, gimana densitasnya, berarti harus ada on-line densitometer plus tekanan dan temperature correction, waduh cilaka….

Yang cilaka lagi jika operation bilang, dulu sebelum pakai meter ini minyak yang terpoduksikan waktu di test tidak segini hasilnya, looh sekarang koq beda, apa harus saya putihkan hasil yang dulu. Saya sih oke2 aja wong cuma “prajurit” tapi orang2 “Subsurface” di JKT sana bisa ngamuk2 karena kudu merevisi programnya, karena laporan gas dan oil balance yang datang belakangan ini angkanya rada ajaib…

Cara primitif mungkin adalah dengan memblock aliran yang keluar dan mengukur laju kenaikan aras cairan di vessel dengan timer. Dengan manipulasi matematik dapet dech flow-nya. Kalau sama sih syukur, kalau tidak, siapa yang salah. Belum lagi jika bentuk pressure vesselnya horizontal, yang artinya volume di setiap level tidak linear kenaikannya, nambah kerjaan aja. iya engga? Iya juga kalau level transmitternya bagus, udah dikalibrasi belon?…waduh repotnya….Mungkin benar juga Pak Dr Maurice atau bukunya John Campbell yang bilang, coriolis itu adalah meter yang unggul, tidak ada moving part, jadi bebas dari gangguan pasir yang biasanya melanda meter2 yang ber-moving part (macam turbin meter), bebas dari requirement panjang pipa (seperti orifice), dan punya span operasi yang besar serta low maintenance (bukan free lohh). Tapi dia punya satu kelemahan mendasar, sekali dipasang susah untuk dikalibrasi in-situ. Lalu, gimana kita yakin dia benar mengukur, seperti yakinnya kita akan meter “tradisional” seperti head-type meter atau displacement meter? I really do not know, That’s why, I written down here, hopefully some nice man or women guide me to find out the way. Otherwise, I will be a foolish, everyday just accept something with “blind”. It is a bad live, at least for two weeks!

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: