Pengertian accuracy (akurasi, ketepatan), precision (presisi, ketelitian) dan uncertainty (ketidak-tentuan) memang sering membingungkan. Dalam praktek, accuracy dan precision sering tertukar maknanya dan bahkan lebih sering dianggap sama. Sejatinya, ketiga-tiganya dalam pengertian yang mendasar adalah berbeda. Yang sering bikin bingung adalah adanya daerah kondisi tertentu dimana pengertian accuracy dan precison sulit untuk dibedakan.

Tanya – Tulus Yudho

Pak Waskita,

Kayaknya dulu Pak Waskita pernah remind mengenai definisi accuracy atau presisi kalau tidak salah di topik MIGAS mengenai Metering, punya saya terhapus.
Bisa nggak dikirimi lagi Pak.

Kemudian bagaimana bedanya dengan istilah uncertainty ?

Terima Kasih.

Tanggapan 1 – Waskita Indrasutanta

Waduh … sudah terkubur oleh demikian banyak email. Bisa Anda coba download rangkuman dari milis. Untuk lebih tepatnya Anda bisa melihat ISA S-51.1.

Buat saya mungkin lebih mudah untuk menulisnya kembali (penjelasan saya lebih berfokus pada metering) sbb:

Repeatability = Kesalahan relative pada titik pengukuran (flow, pressure, temp, dsb) tertentu. Berikut saya copy-kan dari ISA S51.1 : ‘repeatability: The closeness of agreement among a number of consecutive measurements of the output for the same value of the input under the same operating conditions, approaching from the same direction, for full range traverses.’

Accuracy = Kesalahan relative pada range (flow, pressure, temp, dsb) tertentu.

Turndown ratio = rasio perbandingan batas range tertinggi (URL = Upper Range Limit) terhadap batas range terendah (LRL = Lower Range Limit)

Contoh:

Sebuah flowmeter mempunyai Repeatability 0.02% @ 100lpm; Accuracy 0.25% @ 30 lpm to 120 lpm, dengan turndown ratio 4:1.

Uncertainty = Ketidak pastian.

Saya juga kurang pasti hubungan uncertainty dengan repeatability; tetapi kalau tidak salah mengerti: Repeatability adalah untuk pengukuran yang mendapatkan repeatable, yaitu pada titik pengukuran tertentu alat ukur mengukur process variable dengan kesalahan tidak melebihi Repeatability; sedangkan Uncertainty digunakan untuk alat ukur yang kurang repeatable, yaitu setiap kali pengukuran pada titik pengukuran tertentu memberikan nilai pengukuran yang sama (tidak repeatable), dan kalau tidak salah nilai uncertainty didapat dari test dan diperhitungkan secara statistic.
Saya coba mencari di ISA S-51.1 tetapi tidak menemukannya.

Saya sengaja mengcopykan ke milis, mungkin ada rekan2 yang bisa menambahkan penjelasan yang lebih jelas mengenai ‘Uncertainty’.

Tanggapan 2 – Tri Partono Adhi

Pak Waskita,

Berikut urun rembug dari saya.

(i) Pengertian accuracy (akurasi, ketepatan), precision (presisi, ketelitian) dan uncertainty (ketidak-tentuan) memang sering membingungkan. Dalam praktek, accuracy dan precision sering tertukar maknanya dan bahkan lebih sering dianggap sama. Sejatinya, ketiga-tiganya dalam pengertian yang mendasar adalah berbeda. Yang sering bikin bingung adalah adanya daerah kondisi tertentu dimana pengertian accuracy dan precison sulit untuk dibedakan.

(ii) Saya merasa tertolong untuk memahami perbedaan tersebut bila kita mulai dari pengertian error of measurement. Kami (di gunung nih) lebih senang memakai padanan kata ‘error’ dengan ‘galat’ dan bukan ‘kesalahan’ (mistake). Error pengukuran lebih berkonotasi pada pengertian ketidak-tentuan di sekitar harga yang benar (harga sesungguhnya yang ingin diukur). Artinya, hasil dari suatu pengukuran suatu ketika dapat tepat sama dengan harga sesungguhnya, dan pada ketika lainnya dapat (sedikit) menyimpang dari harga sesungguhnya. Hal ini dapat terjadi pada pengukuran yang berulang, meskipun yang diukur, alat ukur yang dipakai, prosedur pengukuran yang dituruti, maupun operator pengukurnya masih dipertahankan sama. Bila padanan yang dipakai adalah ‘kesalahan’ pengukuran, maka konotasinya adalah hasil pengukuran itu selalu menyimpang dari harga sesungguhnya.

(iii) Memang dalam ilmu pengukuran, kaidah utama yang dianut adalah pengertian bahwa setiap pengukuran selalu mengandung error. Artinya, dengan alat ukur secanggih apapun, kita sejatinya tidak pernah tahu dengan pasti harga sesungguhnya (true value) dari besaran yang kita ukur. Kita hanya bisa mengatakan ada suatu rentang harga yang amat diduga (most likely) si ‘true value’ tersebut betengger dalam kangkangannya. Makin sempit rentang harga tersebut, makin bagus performance pengukurannya. Apakah berarti makin akurat atau makin precise? Pls wait.

(iv) Rentang harga tadi sebetulnya yang dikenal sebagai ketidak-tentuan. Dibandingkan dengan ‘true value’, setiap harga dalam rentang tersebut bisa memiliki tiga kemungkinan: lebih kecil, tepat sama atau lebih besar (memberikan error negatif, = nol, atau positif). Error semacam ini dikenal sebagai random error. Error tersebut terdistribusi lebih dekat ke harga error=0. Probabilitas dijumpainya error lebih dekat =0 akan lebih besar dibandingkan dengan error yang makin positif atau makin negatif. Normalnya, distribusi probabilitas tersebut memiliki bentuk seperti bel (‘bel shape’) dan bersifat simetrik dengan pusat =0. Bentuk distribusi ini dikenal sebagai distribusi Normal, atau lebih keren disebut dengan ‘Gaussian distribution’. Dua parameter yang mengkarakterisasikan distribusi normal adalah: (a) mean (dg simbol miu) yang menyatakan pusat data, dan (b) varians (dg simbol sigma kuadrat) atau deviasi standar (dg simbol sigma) yang menyatakan lebar ketersebaran data di sekitar pusatnya.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: