Selain bicara tentang Migas mungkin masalah bikin kapal dan industri kapal juga sangat menarik untuk dibincangkan. Tampaknya selain Migas, industry perkapalan juga banyak dikuasai oleh perusahaan asing. Bila kita tengok di Pulau Batam, Karimun, Dan Bintan, hampir tidak ada perusahaan terebut berbendera merah putih, Banyaknya bendera merah putih + bulan bintang .
Sepertinya orang Indonesia sukanya jadi pekerja aja, kita disuruh mikir calkulasi, design, sementara hasilnya buat mereka. Pada hal kalau dilihat dari sumber daya manusia justru orang orang Indoensia yang cukup banyak membesarkan perusahaan asing tersebut.
Sangat disayangkan sekali kita banyak Engineer perkapalan, Naval, hydro, stability, structure, material, welding, management, tapi tidak melahirkan pengusaha pengusaha yang mengusai industry offshore ini. apalagi yang kurang dari Eng Indonesia.?

Pembahasan – novembri nov

Selain bicara ttg Migas mungkin masalah bikin kapal dan industri kapal juga sangat menarik untuk dibincangkan…

Tampaknya selain Migas, industry perkapalan juga banyak dikuasai oleh perusahaan asing. Bila kita tengok di Pulau Batam, Karimun, Dan Bintan, hampir tidak ada perusahaan terebut berbendera merah putih, Banyaknya bendera merah putih + bulan bintang .
Sepertinya orang Indonesia sukanya jadi pekerja aja, kita disuruh mikir calkulasi, design, sementara hasilnya buat mereka. Pada hal kalau dilihat dari sumber daya manusia justru orang orang Indoensia yang cukup banyak membesarkan perusahaan asing tersebut.
Sangat disayangkan sekali kita banyak Engineer perkapalan, Naval, hydro, stability, structure, material, welding, management, tapi tidak melahirkan pengusaha pengusaha yang mengusai industry offshore ini. apalagi yang kurang dari Eng Indonesia.?
Bila dilihat Nusantara ini dengan 13674 pulau ( nggak tahu sekarang masih segitu atau sudahkurang karena tenggelam setelah diambil pasirnya…) untuk kebutuhan dalam negri saja berapa kapal ayng harus kita supply …mulai dari kapal nelayan, kapal penumpang, kapal kargo, kapal perang, kapal selam, kapal wisata, kapal rig, kapal tongkang, kapal tug boat …dll.
Kapan nih …kita mau berperan di industry laut ini..katanya kita dulu pelaut ulung dan sudah menguasai lautan sejak Jadul.yang saya lihat nelayan kita masih menggunakan sampan yang didayung dengan tangan persis cerita Jadul diatas…nggak berubah….
Mungkin ada yang kasih saran.

Tanggapan 1 – Sulistiyono@bwpmeruap

Pak Novi,

Kalau soal industry perkapalan saya kurang mengerti. Memang untuk docking kapal2 banyak di Singapura dan kemungkinan baru ke Batam kalau Singapura sudah penuh.

Sampai saat ini untuk Oil Spill Response di laut banyak perusahaan minyak yang beroperasi dilepas pantai langganan sama EARL (East Asia Response lLmited) di Singapore . Para perusahaan minyak tersebut memberi retribusi setiap tahunnya baik dipergunakan atau tidak oleh perusahaan minyak tsb. Kalau ada permintaan, maka setiap permintaan masih discharge lagi. Ongkang2 dapat duit. Duitnya di cost recovery, Indonesia yang bayar . Sejak tahun 1995 saya sudah pengin banget untuk ada Perusahaan Nasional yang membuat perusahaan semacam EARL di Indonesia, agar duit Indonesia dapat direbut oleh Perusahaan Nasional.

Maka pada tahun 1999 pergilah saya ke EARL Singapore bersama Direktur Teknik Migas saat itu , melihat EARL (saya sendiri sdh beberapa kali ke EARL). Ide membangun seperti EARL tsb saya lontarkan untuk bisa dibangun di Indonesia, namun harus didukung oleh peraturan perundangan agar ‘memaksa’ perusahaan migas offshore harus jadi anggota dan membayar iuran setiap tahunnya seperti halnya EARL.Ide itu seyogyanya dilanjutkan apalagi KMI cupunya hubungan yang baik dengan Migas dan BP Migas.Perusahaan yang memodali kemungkinan besar ada apabila ada aturan diatas.Toh tenaga pekerja EARL banyak dari Indonesia juga.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: