CMMS adalah Computerized Maintenance Management System.
JDE, SAP & Maximo adalah produk2 vendor untuk DataBase S/W aplikasi CMMS.
Maximo masuk ke dalam kategori CMMS, sedangkan SAP dan JDE masuk ke dalam kategori ERP (Enterprise Resource Planning). ERP cakupannya lebih luas, karena bukan hanya berisi CMMS, namun juga berisi modul finansial, human resources, procurement dan banyak lagi.
Dalam ERP, CMMS masuk ke dalam modul EAM (Enterprise Asset Management). CMMS merupakan tools untuk mempermudah maintenance team dalam melakukan fungsinya dan sebagai sarana untuk menyimpan history dari pekerjaan maintenance, yang diperlukan kelak sebagai bahan analysis.

Tanya – Adi Rahmadi

Setelah dibahas dari beberapa rekan di millis ini, saya mau bertanya seberapa mudah penggunaan CMMS apabila dibandingkan dengan SAP. Maximo and JDE.
Apakan software CMMS mudah didapat dan kemana saya harus belajar dan training, tolong pencerahannya, karena bulan May nanti saya mau ke offshore untuk planner ini hal baru bagi saya.

Tanggapan 1 – Teguh Santoso

Maaf pak Adi,

CMMS ibarat mobil. sedangkan SAP, maximo, JDE, dll adalah brandnya seperti: kijang, mercedes, bmw, MPV, dll sofware CMMS yang ada dipasaran ya SAP, maximo, JDE, dll setahu saya agen maximo salah satunya adalah Tiara vibrasindo. kalau beli sofwarenya biasanya akan ada trainingnya.. biasanya yang beli adalah coorperate bukan individu soalnya masih mahal untuk individu..CMIIW.

Tanggapan 2 – arnold antonius

Mas AR

CMMS itu hanya istilah. Computerized Maintenance Management System.
JDE, SAP & Maximo adalah produk2 vendor untuk DataBase S/W aplikasi CMMS.
Selamat belajar.

Tanggapan 3 – Dedi Mulyadi Supriatna

Sekedar menambahkan,

Kalau MAXIMO base nya untuk maintenance reason dan paduan linknya biasanya sama ORACLE (sbg ERP nya).

Kalau SAP sudah mencakup dua-duanya (maintenance ada ERP juga ada).

Tanggapan 4 – Albert Marihot

Mas Adi,

Maximo masuk ke dalam kategori CMMS, sedangkan SAP dan JDE masuk ke dalam kategori ERP (Enterprise Resource Planning). ERP cakupannya lebih luas, karena bukan hanya berisi CMMS, namun juga berisi modul finansial, human resources, procurement dan banyak lagi.
Dalam ERP, CMMS masuk ke dalam modul EAM (Enterprise Asset Management). CMMS merupakan tools untuk mempermudah maintenance team dalam melakukan fungsinya dan sebagai sarana untuk menyimpan history dari pekerjaan maintenance, yang diperlukan kelak sebagai bahan analysis.
Setiap brand memiliki kelebihan masing-masing, namun semuanya pasti memiliki beberapa modul standar seperti Preventive Maintenance Setup, Labor & Material Planning, Inventory Transaction dan Equipment Master.
Saat hand over produk CMMS, vendor pasti memberikan manualnya dan juga CMMS dilengkapi dengan modul online training, sehingga kita bisa melakukan simulasi di modul tersebut tanpa mengganggu data-data ‘live’.

Tanggapan 5 – edi.triono

Mas Adi,

Mungkin sampean bisa coba alamat ini: www.plant-maintenance.com

Di situ ada beberapa free software yg berkaitan dg CMMS, setidaknya sampean bisa coba download and mencoba beberapa software CMMS.

Tanggapan 6 – Ryan Sjah

CMMS beragam pak, untuk di perusahaan kami menggunakan produk dari Mincom yakni Ellipse. Pengalaman kami sebagai planner, untuk mengunakan Ellipse harus menggunakan logic yang kuat untuk memahami proses flow di system CMMS tersebut.
Ada proses bacthing per 2 minggu untuk memasukkan rencana kerja kita setelah melalui proses commit (comittal meeting) dengan produksi. Input data jam jalan produksi adalah trigger dari WO-WO terencana (planned maintenace) setelah Standard Job dan Application Part List diisi berdasarkan manual services alat. Tugas planner juga memantau WO-WO breakdown / dari operasi serta WO-WO yang diinput berdasarkan hasil Condition Monitoring. Selama per 2 minggu tersebut, planner memaintain pekerjaan berdasarkan jumlah formasi dan tools, jumlah ketersediaan waktu yang diberikan operasi serta yang tidak kalah penting adalah ketersediaan material.

Tanggapan 7 – Teqmar

Pak Adi,

Saya kira penggunaan CMMS secara standar sebagai salah satu tool maintenance tidak terlalu susah, saya pernah merekrut seorang karyawan yang baru saja lulus SMA sebagai planner technician, dalam 2 minggu sampai sebulan dia sudah bisa beradaptasi dengan CMMS yang kami pergunakan yaitu Ellipse (seperti yang di pakai pak Ryan).

Yang susah adalah membangun ‘feeling’ sebagai planner, dimana at least sampeyan mengerti maintenance terms yang banyak di gunakan. Karena sebagai planner di tuntut untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang apa yang akan di maintain, frekuensi maintenance, material yang dibutuhkan, tool yang di butuhkan, estimasi waktu dll. Setelah itu semua di peroleh sebenarnya CMMS hanya membantu kita saja. Silahkan baca buku2 tentang Maintenance Planning & Scheduling (Nyman & Levitt, Palmer, dll) atau bisa juga baca RCM II (Moubray), karena saya pikir CMMS adalah salah satu faktor enabler dari implementasi RCM.

Permasalahan lain dalam CMMS adalah integrasi, di tempat saya, kami sedikit kesulitan mengintegrasikan data pengecekan vibrasi, oil analysis dan thermograph kami dengan CMMS, terpaksa kami menggunakan software tersendiri untuk membuat history condition monitoring (karena datanya terlalu banyak) yang notabene sebenarnya adalah bagian dari history predictive maintenance kami. Begitu juga dengan software2 yang lain yang biasa di pakai di plant seperti PI (plant information), PLC/DCS data, downtime management software, atau kalau di mining mungkin memakai modular dispatch system. Di butuhkan skill lain seperti VBA misalnya untuk bisa mengintegrasikan hal2 seperti ini dan membuat pekerjaan lebih mudah. Contoh jika kita mau menggunakan strategi maintenance plant component replacement (PCR) dengan frekuensi menggunakan running hours atau kapasitas, kita harus bisa memasukkan data running hours dari PI atau kapasitas dari plant ke dalam CMMS kita sehingga ketika sudah jatuh tempo secara otomatis akan membuat work order untuk di kerjakan (hal ini tidak berlaku untuk mobile plant yang mempunyai hours meter di tiap mobil equipment dan bisa di lakukan secara manual input ke CMMS).
Integrasi memang di perlukan untuk membuat CMMS yang kita pergunakan lebih optimal. Belum lagi kalau kita mau gabungkan dengan fungsi HR, Financial, Supply Chain, dll. Beberapa ERP atau EAM saya kira sudah bisa menggabungkan hal ini seperti SAP, Ellipse, JDE dll. So, seperti beberapa tahun lalu saya pernah diskusi sama pak Eka dari Astragraphia soal ERP dan EAM bahwa IT sebagai enabling tool memang penting tapi lebih penting lagi orang yang menggunakan, kalau tidak akhirnya yah seperti filosofi process control, garbage in and garbage out.

Silahkan coba link berikut, www.cworks.com.my dulu saya pernah download CMMS dari CWorks dengan gratis, semoga saja masih ada yang gratis sehingga sampeyan bisa punya gambaran seperti apa CMMS itu.

Lebih kurang saya mohon maaf.