Painting biasanya berhubungan dengan cat, baik bitumen, coal tar epoxy, chlorinated rubber, alkyd, vynil, polyurethane, silicate atau lainnya.
Sedang coating disamping mencakup cat tersebut diatas juga bisa berasal dari resin polimer lainnya yang umumnya mempunyai kekuatan mekanik lebih tinggi dibandingkan dengan painting. Lining biasanya mempergunakan cement atau pelapis logam lain yang berbeda dengan material logam induk. Cement lining pada pipa bawah laut disamping sebagai pemberat juga untuk meningkatkan ketahanan korosi dan dipakai bersama-sama wrapping ( lining ini melindungi wrappingnya ).

Tanya – Drajad

Ada yang bisa menjelaskan perbedaan antara painting dengan coating?

Tanggapan 1 – Win Ariga

Mungkin bapak2 juga ada yg bisa membedakan dgn ‘lining’?

Bagaimana dgn concrete pipeline?

trmksh atas penjelasannya.

Tanggapan 2 – Deny Mulya Nugraha

Pak Win

Dalam aplikasi sehari-hari, lining biasa digunakan sebagai istilah untuk internal-coating pada pressure vessel atau tanks, yang bertujuan untuk mencegah korosi pada tank akibat pengaruh fluida yang ada dalam tank dan sekaligus mencegah agar fluida dalam tank tersebut tidak terkontaminasi oleh kotoran maupun hasil korosi pada dinding tank.

Tanggapan 3 – Santoso, Hadi

Pak Win,

Ingin nimbrung soal concrete coating di pipeline khususnya offshore, yang saya ketahui concrete coating di pipeline berfungsi sebagai pemberat pipa di dasar laut agar pipa bisa stabil tidak bergeser karena arus di dasar laut (baik saat instalasi, hydrotest ataupun beroperasi). Apakah pipa tersebut perlu concrete coating atau tidak bisa di ketahui saat stability analysis of pipeline dilakukan.

Ada kemungkinan juga saat design/stability analysis dinyatakan tidak memerlukan concrete dan pipa cukup stabil didasar laut tapi saat instalasi/pipe laying diperlukan concrete coating untuk menambah submerge weight pipa agar minimum pipeline route radius di dapat berdasar kan rumus:

R = F/(s*w) —-> dimana, F= Touchdown Tension

s= soil friction coefficient

w= submerge weight of pipeline

dari nilai minimum route radius (R) di atas kemudian dibandingkan dengan actual route radius yang ada (berdasarkan pipeline alignment sheet drawing), maka akan diperoleh ratio factor of safety during laying dan nilai ratio tersebut harus lebih dari 1 (satu) agar pipa tidak rawan terhadap buckle selama instalasi (laying).

Pak Agus,Pak Junaedi,Pak Teguh atau Bapak-2 yang lain mohon dikoreksi dan dibetulkan jika penjelasan di atas ada yang salah.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan yang tergabung dalam Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: