Pasir silica dan steel grit merupakan sebagian dari jenis abrasive yg digunakan untuk blasting. Didunia dan sebagian besar di industri perminyakan Indonesia & perusahaan yg sangat concern thd HSE, pasir silica sudah dilarang digunakan, sebagai gantinya memakai Garnet.
Steel grit umumnya digunakan di fabrication shop untuk bisa digunakan kembali (daur ulang) karena harganya cukup mahal.

Tanya – Iwan Budiono ibudiono@thiess

Mohon kalau ada teman2 yang punya soft copy file mengenahi sand balasting or shoot blasting bisa di share via japri.

Saya perlu untuk membuat materi soal untuk recruit operator sandbalasting soonest.

Tanggapan 1 – andu abdul

Assalamu alikum wr wb

Salam kenal buat semua rekan – rekan milis

Saya pernah meng inspeksi balsting room di di site dan saya menemukan keganjilan – keganjilan mengenai ukuran pasir untuk blasting dan bercampur dengan karang – karang serta selain itu ukarannya tidak seragam, telah dilakukan Vial test dari hasil pengukuran debu yang ter apung cukup banyak berbading ( 60 % yang tenggelam 40 % yang terapung) dengan melihat ukuran perbandingan berdasarkan angka pada tabung/ gelas uji.

Yang igin saya tanyakan berapa ukuran pasir blasting yang ideal kalau

1. Sand silica

2.Steel grit

Standar uji baku mutu pasir blasting mengacu ke standar mana ?

Mohon pencerahannya dari rekan – rekan terutama yang banyak berkecimpung dinia blasiting.

Tanggapan 2 – ifan rifandi

Pasir silica dan steel grit merupakan sebagian dari jenis abrasive yg digunakan untuk blasting. Didunia dan sebagian besar di industri perminyakan Indonesia & perusahaan yg sangat concern thd HSE, pasir silica sudah dilarang digunakan, sebagai gantinya memakai Garnet.
Steel grit umumnya digunakan di fabrication shop untuk bisa digunakan kembali (daur ulang) karena harganya cukup mahal.
Ukuran abrasive yang akan dipakai tergantung dari berapa dalam anchor profile yang diinginkan. Kedalaman anchor profile tergantung dari ketebalan cat/ coating yang akan diaplikasikan.
Untuk mendapatkan anchor profile tertentu, selain tergantung dari ukuran pasir, juga tergantung dari ukuran nozzel dan besar pressure dari blasting prosesnya.
Tabel yg menggambarkan hubungan antara ukuran abrasive dengan besaran nozzle dan pressure nya (kalau nggak salah) ada di buku SSPC 2nd edition.
Tetapi dari pengalaman saya, untuk mendapatkan profile 62.5 micron, bisa didapatkan dengan garnet ukuran 20 – 32 mesh.

Standard untuk quality abrasive bisa dilihat di SSPC AB1 (untuk mineral & slag abrasive), SSPC AB2 (untuk recycling ferrous abrassive).
Tetapi umumnya yang harus dihindari adalah contaminant garam chlorida (umumnya -tergantung klien- abrasive yg akan digunakan di test chloride contaminant nya) atau test chlor.

Mudah2an menjawab.

Tanggapan 3 – Mr triana agustina

Menarik sekali penjelan mas irfan,ada hal yang saya tanyakan mengenai bentuk daripada steel grit itu sendiri, umumnya steel grit yang dipakai ada yang berbentuk angular dan ada pula yang berbentuk bulat.Hal apa yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan bentuk dari steel grit itu sendiri dan pengaruhnya terhadap painting itu sendiri.

Penjelasan mas irfan dan rekan-rekan lain akan sangat bermanfaat buat saya.

Tanggapan 4 – ifan rifandi

Mas Tri,

Steel grit memang bentuknya angular, kalau yg bulat namanya steel shot. steel shoot digunakan bukan untuk persiapan permukaan untuk coating, tetapi lebih untuk membuat permukaan/ penampakannya lebih seragam dan untuk menghilangkan tegangan permukaan pada pengerjaan logam (metal forming) atau disebut juga shoot peening.
Bila kita membeli suku cadang kendaraan yg dari logam/ cor dan melihat permukaannya seperti di blasting, nah itu menggunakan steel shot sbg abrasivenya.
Mudah2an menjawab.

Tanggapan 5 – Priyo Susetyo priyo@na.its

Salam Kenal Pak..

Mau ikutan juga Pak..Saya pernah posting via japri ke Pak Ifan tapi belum ada jawaban..Semoga dengan cara ini bpk bisa menjawab.

Saya Priyo, mahasiswa ITS jurusan T. Perkapalan.

Rencananya saya akan mengerjakan Tugas Akhir yang berkaitan dengan abrassive.

Saya akan membandingkan antara abrassive yang sudah sering dipergunakan pada galangan kapal atau fabrikator dengan recycle glass material.

Abrasive yang akan saya gunakan yaitu :

1. Pasir silika

2. Coal Slag

3. Steel grid

4. Garnet

Dari keempat abrassive yang akan saya bandingkan dengan recycle glass, saya akan menguji semua abrasive dengan spesimen baja.. Pertanyaaan Saya :

1. Apakah ada ukuran (dimensi utama) untuk membuat spesimen tsb? Mengacu pada aturan apa pak?

2. Bapak memberikan komentar di milis migas ttg sand blasting spt ini :

‘Untuk mendapatkan anchor profile tertentu, selain tergantung dari ukuran pasir, juga tergantung dari ukuran nozzel dan besar pressure dari blasting prosesnya. Tabel yg menggambarkan hubungan antara ukuran abrasive dengan besaran nozzle dan pressure nya (kalau nggak salah) ada di buku SSPC 2nd edition.’

Lalu pertanyaan Saya, apakah ukuran pasir,ukuran nozzel dan besar pressure juga bisa mendapatkan tingkat kebersihan atau yang biasa digunakan standard SA 2.5 juga diatur pada buku tsb? atau ada referensi yang lain?

Dibuku apa yang mengatur/menulis tentang ukuran abrasive, besar presure nosel,ukuran nosel dan jarak untuk memblasting untuk abrasive Pasir silika Coal Slag, Steel grit, Garnetdan recycle glass.

Semoga Bpak berkenan menjawabnya.

Tanggapan 6 – ifan rifandi

Mas Priyo, saya nggak terima japri nya tuh..

Saya coba jawab ya.. Sebetulnya saya sudah lama meninggalkan dunia blasting & coating. Tapi saya coba bantu yang saya ingat.

1. Apakah ada ukuran (dimensi utama) untuk membuat spesimen tsb? Mengacu pada aturan apa pak?– kalau nanti specimen nya akan di coating dan diuji dengan kabut garam (salt fog), ukuran specimen disesuaikan dengan standard untuk pengujian kabut garam. Bila tidak, setahu saya tidak ada atau tergantung dari kemudahan pengujian nantinya. Biasanya beberapa klien meminta sample coating diatas plat 30 x 30 cm2.

2. Apakah ukuran pasir,ukuran nozzel dan besar pressure juga bisa mendapatkan tingkat kebersihan atau yang biasa digunakan standard SA 2.5 juga diatur pada buku tsb? atau ada referensi yang lain?– Harap dibedakan tingkat bebersihan dengan tingkat kekasaran permukaan. Untuk kebersihan permukaan, banyak faktor lain yg mempengaruhi selain dari ketiga hal tsb, misalnya kondisi peralatan blasting (kompressor, hose, pot, dll), blaster skill, kondisi sekitar, cuaca, kondiri substrate nya, dll.

3. Dibuku apa yang mengatur/menulis tentang ukuran abrasive, besar presure nosel,ukuran nosel dan jarak untuk memblasting untuk abrasive Pasir silika Coal Slag, Steel grit, Garnet dan recycle glass – Saya coba scan dari buku SSPC 1st edition dan buku training Nace coating inspector, mudah2an apa yang dicari ada.
Harap diingat juga bahwa proses blasting bukan ilmu eksakta karena unsur art/ seni atau skill dan pengalaman blaster ikut berpengaruh terhadap keberhasilan/ hasil blasting nya.

Mudah2an menjawab.

Note : Sebenarnya banyak kakak kelas mas Priyo (temen2 saya juga) yg berkecimpung di dunia perblastingan, spt Pak Moko Prijambodo & Pak Anang Priyoko di Total Indonesie, atau pak Buchori di Citrabara, dll yg saya lupa. Mungkin bisa contact beliau2 yang lebih pengalaman sebagai nara sumber TA nya.

Tanggapan 7 – Budhi.Swastioko@westjavaoffshore

Dengan attachment terlampir.

Attachment : blasting.pdf

Tanggapan 8 – Priyo Susetyo priyo@na.its

Pak Ifan…terimakasih banyak..semoga Alloh membalasnya dengan kebaikkan.