Select Page

Seiring dengan populernya skema ‘wet gas development’ dan pengembangan lapangan laut dalam, problem hidrat menjadi makin sering ditemui. Hidrat bisa ditemui bukan hanya dalam kondisi abnormal: shut down, start-up, well test (pressure drop yang besar sementara temperature mendekati ambient)…. tapi bisa juga dalam normal operating condition seperti yang terjadi dalam sistem transport lapangan laut dalam. Sekali si hidrat membuntu dan membatu, resikonya bukan saja kehilangan produksi, tapi bisa bahkan kehilangan sumur (kondisi subsea atau deep sea well yang tidak memungkinkan hydrate remediation).

Tanya – Cahyo Hardo

Saya sedang study banding dari segala sisi, termasuk biaya terhadap inhibitor hidrat – jenis kinetika reaksi.

Selama ini, kami menggunakan methanol (sebagai inhibitor hidrat jenis termodinamika) untuk mencegahpembentukan hidrat untuk sumur2 bawah laut kami.
Setelah dicekik di choke valve, kebanyakan sumur2 tersebut menjadi dingin dan jika apes, tiba2 terjadi hilang tekan yang besar di inlet slug cather kami. Akibat yang ditimbulkan terkadang bisa membuat plant shutdown karena station recycle dari kompressor terkadang delay untuk membuka. Bukan karena kurang di-tuning, tapi karena adanya dead time dari pipa yang cukup besar.

Saya mendengar Shell sudah berhasil mengembangkan inhibitor kinetika kelas anti-agglomerant, yang Cuma butuh kadar 1% dari air yang mengalir bersama gas alam tersebut. Terus terang, saya mencium bau penghematan di sini. Anyway, katanya Shell telah mendekati dua perusahaan chemical utama, akzo nobel dan baker petrolite.

Adakah di antara rekan yang tahu informasi tentang hal ini, termasuk perbandingan biaya dibandingkan dgn cara yang konvensional (dgn methanol) untuk mengusir hidrat.Lalu apakah dia juga inherently safer dari methanol, atau minimal dia itu environmental friendly dan tidak mengganggu proses di downstreamnya.
Apakah dia juga bisa di-recoveri seperti sistem glycol pada umumnya.

Terima kasih sebelumnya.

Tanya – patria indrayana

Saya bukan expert hidrat, info dibawah saya comot dari kanan-kiri, semoga membawa sedikit pencerahan tentang inhibitor kinetik dan inhibitor tipe anti agglomerant.

Hidrat Gas Alam

Seiring dengan populernya skema ‘wet gas development’ dan pengembangan lapangan laut dalam, problem hidrat menjadi makin sering ditemui.

Hidrat bisa ditemui bukan hanya dalam kondisi abnormal: shut down, start-up, well test (pressure drop yang besar sementara temperature mendekati ambient)…. tapi bisa juga dalam normal operating condition seperti yang terjadi dalam sistem transport lapangan laut dalam.

Sekali si hidrat membuntu dan membatu, resikonya bukan saja kehilangan produksi, tapi bisa bahkan kehilangan sumur (kondisi subsea atau deep sea well yang tidak memungkinkan hydrate remediation).

Prediksi

Secara termodinamik pembentukan hidrat sudah bisa diprediksi berdasarkan komposisi dan kondisi operasi (tekanan dan temperature). Dosis metanol atau glycol yang diperlukan untuk menggeser domain pembentukan hidrat keluar domain pembentukan hidrat juga sudah diketahui. Simulator termodinamik sudah sudah memberikan hasil lumayan akurat, kecuali bila salinitas air-nya tidak biasa.

Kinetika kristalisasi

Kinetika kristalisasi dan pengaruh perilaku hidrodinamik aliran fluida multifasa dalam mekanisme pembentukan hidrat masih menjadi obyek riset: pemodelan dan eksperimental.

Pencegahan

Metoda mana yang digunakan tergantung range application-nya. Tekanan, temperature, berapa banyak air, … faktor-faktor ini menentukan dosis, baru kemudian dosis menentukan harga …

Metode klasik adalah dengan mengeringkan gas. Misalnya dengan bantuan glycol dehydration unit (TEG) sebelum mengekspor gas ke pipeline.
Cara lain adalah dengan menjaga temperature sistem selalu lebih tinggi dari temperature maksimum pembentukan hidrat, misalnya dengan isolasi atau pemanasan. Metode isolasi biasanya tidak murah, sementara pemanasan tidak selalu bisa dilakukan.

Pembahasan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut:

Share This