Saya mohon pencerahannya tentang pengaruh Pigment pada painting terhadap ketahananya ( korosi, thermal,dll), kasus sekarang ini saya merencanakan untuk menganti coating pada casing/tubing dari clear/transparan, dengan warna Black..
Casing/Tubing di storage di daerah terbuka di pinggir pantai. Dari pengalaman orang dilapangan walaupun tidak ada alasannya yang teoritis.. Dengan DFT (Dry Film Thickness) yang sama, Black lebih tahan lama dibanding yang clear. Beberapa product coating informasi yang tersedia cuma volume solid nya saja.

Tanya – Nugroho Wibisono

Saya mohon pencerahannya tentang pengaruh Pigment pada painting terhadap ketahananya ( korosi, thermal,dll), kasus sekarang ini saya merencanakan untuk menganti coating pada casing/tubing dari clear/transparan, dengan warna Black..
Casing/Tubing di storage di daerah terbuka di pinggir pantai.

Dari pengalaman orang dilapangan walaupun tidak ada alasannya yang teoritis.. Dengan DFT (Dry Film Thickness) yang sama, Black lebih tahan lama dibanding yang clear.

Beberapa product coating informasi yang tersedia cuma volume solid nya saja.

Terimakasih.

Tanggapan 1 – Doddy Samperuru

Dear Ladies & Gents yg budiman,

Saya coba bahas pertanyaan2 Pak Nugroho dari FT-ITB:

1. Setahu Saya, teknologi Microhole masih sebatas di dalam laboratorium saja. Saya pribadi belum pernah mendengar ada aplikasi langsung ke lapangan minyak/gas bumi/geotermal karena masalah-masalah sbb:

A. Aplikasinya sangat terbatas. Tidak semua jenis mineral bebatuan, formasi atau reservoir cocok buat Microhole. Saya lihat sepintas, Microhole mungkin tidak cocok dipakai di unconsolidated sand, heavy oil, deep well, HPHT well & directional well.

B. Butuh banyak peralatan yg tidak konvensional, baik surface equipment maupun BHA (Bottom Hole Assembly), baik pada saat drilling ataupun completion. Peralatan-peralatan yg jumlahnya puluhan ini harus didesain & dibuat sendiri ataupun special order, yg umumnya lebih mahal ongkosnya & makan waktu. Teknologinya pun belum semuanya sudah dikuasai.

C. Kedalaman sumur yg terbatas. Sumur dalam membutuhkan peralatan drilling yg masif. Peralatan Microhole yg kecil mengurangi kekuatannya.

D. Ukuran yg mikro juga membatasi kedalaman sumur yg bisa di semen. Makin kecil lubang sumur, makin kecil jarak annulus, makin impossible untuk mengisinya dengan semen.

E. Logging tool yg tersedia sangat terbatas. Lebih sukar untuk mengevaluasi formasi sumur. Laporan tsb baru menyebutkan resistivity & gamma tools saja.

F. Kalau ada sand-production, belum ada teknologinya yg benar2 cocok untuk Microhole. Gravel-pack konvensional tidak bisa dipakai. Ukuran lubang yg kecil sangat rentan tersumbat pasir.

G. Belum ada perforation (proses pelubangan dinding sumur sehingga bisa berkomunikasi dengan formasi) tool yg berukuran kecil. Desain sumur terbatas hanya Open Hole (sumur tanpa casing) saja.

H. Ukuran lubang yg kecil juga menambah friction yg bisa mengurangi laju produksi, something that Oil Co really don’t like.

I. Aplikasi untuk directional drilling masih belum memungkinkan. Belum ada down-hole motor berukuran mikro, paling kecil berdiameter 2.38′. Teknik MWD (Measurement-While-Drilling: sambil mengebor sumur kita bisa tahu posisi drill bitnya—> arah sumur bisa diketahui) belum bisa diterapkan. MWD tool sudah ada yg berukuran slim (2 7/8′), tapi belum ada yg mikro.

Kalau tantangan di atas sudah bisa dicari solusinya, baru Microhole bisa diterapkan di industri pengeboran.

2. Secara umum, Directional Drilling membutuhkan Downhole motor untuk menggerakan drill bit (mata bor). Hampir semua Downhole motor digerakan oleh lumpur (sehingga juga disebut mud motor) yg dipompakan dari permukaan. Informasi dari dalam sumur (formation measurement, survey: inklinasi, azimut & tool-face dan drilling mechanics) secara real-time ditransmisikan dari drill bit ke permukaan lewat sistem mud pulse telemetry (telemetri yg menggunakan media lumpur, bukan kabel). Pulsa yg sampai ke permukaan kemudian dikonversikan menjadi tegangan listrik lewat alat transducer yg dipasang di discharge mud-pump. Lewat dekoder & serangkaian komputer, tegangan listrik ini diterjemahkan menjadi informasi akhir yg bisa dibaca. Untuk Microhole, yg jelas semua BHA (drill bit, mud motor, MWD tool & drill strings) harus berukuran micro. Biasanya, makin kecil tool makin susah buatnya, makin mahal costnya. Surface equipment yg konvensional bisa dipakai.

Untuk yg lebih tertarik, silahkan klik:

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id3119&allowRedirect=false

3. Seperti sudah diketahui bersama, logging adalah teknik menggunakan wireline untuk mengetahui karakteristik bebatuan & reservoir yg terdapat di dalam sumur: lithology (apakah bebatuannya mungkin mengandung fluida ?), resistivitas (jenis fluida: hidrokarbon atau air atau kedua-duanya ?), porositas (berapa banyak fluida yg terkandung ?), karakter mekanikal reservoir, jika di sini terdapat hidrokarbon kira-kira ada di mana lagi, dsb. Logging juga dipakai untuk mencek kondisi semen, casing, lubang perforasi, dsb.

Ada 3 metode yg lazim:

A. Resistivity: penggunaan arus listrik untuk mengetahui resistivitas suatu materi. Kalau air, resistivitasnya rendah. Kalau hidrokarbon (minyak dan/atau gas) tinggi.

B. Sonic: mengukur kecepatan gelombang suara di dalam formasi (lebih cepat di dalam benda padat, lebih pelan di dalam air).

C. Nuklir: menggunakan prinsip-prinsip nuklir untuk mengetahui:

i. Porositas: dari kecepatan netron yg berkurang (neutron porosity logging).

ii. Densitas: dari attenuation (melemahnya) sinar gamma (density logging).

iii. Lithology: dari penyerapan fotoelektrik sinar gamma (PEF logging).

iv. Water saturation: dari laju penyerapan thermal-neutron (thermal-neutron die-away logging).

v. ‘Shaliness’ (shale atau sand), indikatornya adalah radiasi natural sinar gamma (natural formation gamma ray logging).

Yang disebut gamma tool adalah nuclear logging tool yg berhubungan dengan sinar gamma. Tool ini pada prinsipnya menangkap radiasi sinar gamma yg dipancarkan oleh setiap benda yg ada di bumi ini (yg lainnya adalah partikel alfa & partikel beta).

Untuk yg lebih tertarik dengan logging, silahkan browse:

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id11618&allowRedirect=false

Laporan Microhole tersebut bagus untuk menambah wawasan. Cuman untuk sekarang, statement ‘Microhole can greatly reduce cost’ masih debatable.

Untuk mengurangi cost per well, masih banyak cara lain yg lebih feasible & lebih common.
Silahkan kalau ada yg mau menambah atau mengoreksi.