Ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya Ph air kondensat setelah didiamkan beberapa hari al: 1. Kualitas/kemurnian air kondensat tsb tidak begitu tinggi, alias masih ada unsur pengotor; 2. Kondisi permukaan bagian dalam tangki ataupun kondenser serta saluran pipa2 yang digunakan tidak begitu bersih alias ada lapisan pengotor, kerak, atau bahkan korosi. Dari kedua faktor tsb. jika air dibiarkan dalam kondisi diam/tidak mengalir, maka potensi untuk terjadi proses reaksi fermentasi, oksidasi atau sejenisnya menjadi besar dan akibatnya Ph nya menurun (cenderung menjadi asam). Fenomena yang demikian saya kira sudah sangat lumrah seperti kalo kita membiarkan sisa air minum/teh kita beberapa hari, maka akan menjadi basi.

Dear milister…

Saya menemukan sebuah fenomena yg belum terpecahkan, ceritanya ada sampel air ex separasi kondensat yang ketika masuk inlet tanki settling pH nya sekitar 5.5 – 6, kemudian setelah didiamkan hingga 1 bulan pH nya turun hingga 1.5. Tadinya saya fikir masalahnya ada di tanki settling, kemudian saya ambil contoh sampelnya di inlet tangki dan ternyata memang di botol yang tertutup rapat pun pH nya turun dari 6 menjadi 3 hanya dalam waktu 10 hari…. apa ada diantara rekan2 yang pernah punya pengalaman sejenis atau dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi dengan fenomena diatas ?

Tanggapan 1 – Tegas Sutondo

Yth. Pak Bony Budiman,

Saya bukan ahli dalam bidang kimia air, tapi sekedar ingin share opini, yang barangkali bisa membantu menjelaskan permasalahan/fenomena yang dianggap menarik tsb.

Menurut pendapat saya ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya Ph air kondensat setelah didiamkan beberapa hari al:

1. Kualitas/kemurnian air kondensat tsb tidak begitu tinggi, alias masih ada unsur pengotor.

2. Kondisi permukaan bagian dalam tangki ataupun kondenser serta saluran pipa2 yang digunakan tidak begitu bersih alias ada lapisan pengotor, kerak, atau bahkan korosi.

Dari kedua faktor tsb. jika air dibiarkan dalam kondisi diam/tidak mengalir, maka potensi untuk terjadi proses reaksi fermentasi, oksidasi atau sejenisnya menjadi besar dan akibatnya Ph nya menurun (cenderung menjadi asam). Fenomena yang demikian saya kira sudah sangat lumrah seperti kalo kita membiarkan sisa air minum/teh kita beberapa hari, maka akan menjadi basi.

Demikian pak Bony, sekiranya dapat membantu.

Tanggapan 2 – Edita Martini

Dear Pak Bony,

Sepertinya salah satu kemungkinan penyebabnya adalah mikrorganisme yang terdapat di air kondensat tersebut.

Karena hasil respirasi dari mikroorganisme tsb akan meningkatkan kadar CO2 dalam air yang akhirnya menurunkan pH.

Tapi mekanisme detailnya bagaimana saya juga masih kurang faham.

Tanggapan 3 – Subagja Arlan

Kalau memang di duga karena adanya mikroorganisme, secara umum memang pH akan turun oleh kerja mikroorganisme yang mengoksidasi hidrokarbon rantai panjang menjadi CO2, dimana pada proses melalui siklus kreb yang mengkonversi hidrokarbon menjadi asam seperti asam asetat yang seterusnya menjadi CO2. Hal tersebut akan terjadi pada proses aerobik maupun anaerobik.

Mudah2an membantu dan silahkan di explore lagi.

Tanggapan 4 – udhit_lwk

Dear all..!

Sebelumnya pada pak bony.,sy ingin tanya.,air kondensat apkah itu..,apkah ada injeksi chemical sebelumnya,.?

Klo bleh sy berpendapat.,kemungkinan adnya kandungan senyawa kimia dalam air kondensat tersebut yg jika didiamkn akn terus bereaksi karena adanya proses hidrolisis yang terjadi membntuk snyawa asam yg menurunkan pH sample tersebut., lebih kurangnya mohon maaf..
Terima kasih.

Tanggapan 5 – bonybudiman

Tks u pendapatnya mas/mbak udhit ? & mbak edhita.

Air kondensat tersebut memang sebelumnya telah diinjeksi reverse demulsifier tapi dalam dosis kecil (25 ppm) dan dari lab test tidak mempengaruhi pH nya.
Tadinya memang terfikir apakah karena pengaruh bakteri SRB ? tapi mestinya SRB khan mati kalo kena udara karena SRB itu anaerob, nah ini untuk sampel yg dibawa ke lab saja pH nya bisa turun drastis tanpa mendapat perlakuan apapun , hanya didiamkan saja bbrp hari….
mungkin benar terjadi sesuatu proses hidrolisis atau proses kimia lainnya, tapi proses apa itu ?

Tanggapan 6 – Edita Martini

dari hasil mengintip di googlebooks (‘Microbiological examination of waste and wastewater’ dan ‘Wastewater Bacteria’) mungkin juga itu ulah Sulfur Oxidizing Bacteria yang mengoksidasi Sulfur menjadi Sulfat.

Biasanya dari bentuk H2S, FeS ataupun elemental Sulfur (S) menjadi asam sulfat.
‘When this acid ionizes, it greatly decreases the pH of environment, sometimes to 1 or 2.’

Tanggapan 7 – M. Denny Fardhan

ikut sharing dan bagi pendapat.

Mohon di cek pak,

Bagaimana kualitas air masuk, apakah ada pengolahan terlebih dahulu (demin?)

Kalau ada… artinya kandungan Sulfur tidak ada pada air tersebut, karena dengan demin pada umumnya kualitas air akan cukup bagus dan hilang mineral-mineral yang bisa mengganggu.

Mohon di cek juga .. Bahan kimia yang ditambahkan dalam larutan tersebut.
Kalau dia mengalami pemanasan, biasanya akan ditambahkan anti scaling, umumnya anti scale ini bekerja dalam kondisi sedikit asam, namun dapat juga bereaksi lanjut.

Atau di cek juga apakah ditambahkan oksigen scavanger, larutan ini akan cepat menangkap oksigen agar tidak terjadi korosi. dan larutan yang terbentuk umumnya mempunyai keasaman dan DO yang sangat rendah.

Dan alternatif yang lain… apakah ditambahkan corrotion inhibitor (walaupun hal ini agak jarang) karena corrotion inhibitor biasanya tidak suka kondisi yang asam. Tetapi boleh jadi bahan kimia yang ditambahkan akan berekasi lanjut membentuk asam.

Mudah mudahan hal ini membantu.