Adalah benar bahwa penggunaan metode seismic akan memberikan resolusi yang lebih sangat detail dan dalam (domain t-d) dibaningkan dengan menggunakan Maggie (Magnetic & Gravity). Penggunaan 3-D sendiri dalam eksplorasi adalah jelas membantu dalam mengikat data (yang sebelumnya dilakukan dengan 2-D). Namun jangan lupa untuk kegiatan eksplorasi saat ini, beberapa perusahaan minyak yang cukup berani mengeluarkan budgetnya cenderung menggunakan 4-D. Biasanya orang2 Geologi Eksplorasi yang banyak melakukan hal ini (terlebih2 untuk daerah land-seismic). Namun tidak lah meninggalkan orang dari Geofisika didalam menentukan dan membaca data lapangan untuk memulai suatu eksplorasi.

Tanya – didik.setya@re.rekayasa

Selamat Pagi….

Saya mengenal sedikit tentang identifikasi reservoir dengan Metode Geofisika, yaitu dengan Metode Magnetic, Gravity, dan Seismic. Yang mau saya tanyakan :

1. Apakah untuk mengindentifikasi reservoir, Metode Magnetic dan Gravity masih banyak/sering digunakan? Mengingat sekarang banyak yang memakai Metode Seismic, apalagi dengan Seismic 3D yang hasilnya jauh lebih akurat.

2. Dalam proses identifikasi pertama kali (sebelumnya belum pernah ada proses identifikasi), apakah langsung digunakan Metode Seismic?

3. Bagaimana cara paling akurat untuk menentukan titik pengeboran, sehingga pas pada titik dimana hidrokarbon terdapat paling banyak?

4. Bagaimana proses Marine Seismic?

Mohon pencerahannya…

Tanggapan 1 – Paulus.T.Allo@conocophillips

Hi Didik,

Mungkin jawaban saya bisa memenuhi pertanyaan anda :

1. Adalah benar bahwa penggunaan metode seismic akan memberikan resolusi yang lebih sangat detail dan dalam (domain t-d) dibaningkan dengan menggunakan Maggie (Magnetic & Gravity). Penggunaan 3-D sendiri dalam eksplorasi adalah jelas membantu dalam mengikat data (yang sebelumnya dilakukan dengan 2-D). Namun jangan lupa untuk kegiatan eksplorasi saat ini, beberapa perusahaan minyak ynag cukup berani mengeluarkan budgetnya cenderung menggunakan 4-D.

2. Biasanya orang2 Geologi Eksplorasi yang banyak melakukan hal ini (terlebih2 untuk daerah land-seismic). Namun tidak lah meninggalkan orang dari Geofisika didalam menentukan dan membaca data lapangan untuk memulai suatu eksplorasi.

3. Pnentuan titik pengeboran adalahsangat bergantung pada dimana terjadi suatu perangkap baik dalam Fault, Dome atau etc yang biasanya rekan2 Interpretasi Geofiska & Geologi lebih banyak berperan didalam penentuan ini.

4. Marine Seismic adalah operasi seismic yang dialkukan didaerah laut. Mulai dari 2D hingga 3D dan mungkin berlanjut dengan 4-D. Dengan teknologi ynag dikenalkan sekarang ini yaitu penggunaan single sensor array yang dahulunya masih menggunakan multi sensor array. Juga penggunaan digital to digital system, setelah dahulu menggunakan analog to digital system.

Sekian dahulu dar saya. Jika ingin lebih, it would not be a problem for me.

Tanggapan 2 – Paulus.T.Allo@conocophillips

Koreksi dikit.

4D tidak dilakukan pada kegiatan eksplorasi tapi pada tahapan eksploitasi.
tujuannya utk reservoir monitoring. seismik 4D adalah seismic 3D juga tapi plus 1 dimensi lain yaitu time, makanya jadi 4D. jadi seismik 3D yg dilakukan pada selang waktu tertentu.

Istilah 4D sendiri sudah jarang digunakan oleh para geofisikawan karena menyesatkan. menyesatkan karena seakan-akan teknik ini hanya utk seismik 3D, padahal teknik seperti ini juga bisa dilakukan pada seismik 2D. tapi kalau 2D ditambah 1 dimensi time, masa’ jadi seismik 3D? makanya dibilang menyesatkan.

Geofisikawan biasanya menyebut teknik ini dgn time-lapse seismic (seismic yg dilakukan pada jangka waktu tertentu). jadi bisa diterapkan utk seismik 3D maupun 2D.

Tanggapan 3 – didik.setya@re.rekayasa

Saya pernah melakukan interpretasi dengan menggunakan Metode Gravity dan Magnetic. Untuk Metode Gravity saya gunakan software GRAV2DC, dan Magnetic saya gunakan MAG2DC. Saya pikir dengan menggunakan kedua software tersebut, interpretasinya kurang begitu akurat mengingat tampilannya yang masih 2D, juga untuk penampilannya ke 3D saya menggunakan bantuan AutoCad untuk menggabungkan beberapa tampilan 2D di tiap section-nya menjadi 3D. Saya juga menggunakan Winsurf untuk penampilan permukaan daerah yang di survey.

Yang menjadi pertanyaan saya, apakah dengan interpretasi Gravity/Magnetic dengan menggunakan software2 diatas sudah cukup untuk digunakan sebagai pedoman interpretasi awal? Toh untuk pedoman interpretasi awal (sebelum ke proses Seismic) bisa juga digunakan Peta Sumber Daya Mineral atau Peta Minyak Bumi yang dapat diperoleh di PPGL (Pusat Pengembangan Geologi Kelautan) atau di Bakosurtanal?

Selain software2 diatas untuk interpretasi awal (Gravity/Magnetic) biasanya digunakan software apa? —–>> Mungkin Bapak2 dari PPGL atau Bakosurtanal atau pakar2 Geologi/Geofisika bisa kasih pencerahannya….

Terima kasih,

Tanggapan 4 – Paulus.T.Allo@conocophillips

Biasanya sih ndak pake software apa-apa, soalnya utk survey dilimpahkan ke kontraktor,
tinggal minta apa yg diinginkan, nanti disediakan oleh kontraktor plus biayanya :).

Kalau ditanya cukup atau tidak, saya jawab: YA. alasannya: biasanya yg dicari itu kan basement structure, misalkan utk mengira-ngira dimana tempat source utk hidrokarbon (basement low) atau mengira-ngira dimana tempat antiklin utk reservoar (basement high).

Nah, utk mencari basement low sbg source, itu kan daerahnya pasti lumayan luas dan sudah pasti tercover oleh grid saat pengukuran gravity ataupun magnetic.

Begitu halnya dgn basemetn high, antiklin yg dicari kan bukan antiklin yg kecil-kecil tapi antiklin yg besar, jadi lagi-lagi pasti sudah tercover oleh grid saat pengukuran magnetik atau gravitynya.

Kalau ditanya:

Wah…gimana kalau nanti ada basement low yg luas arealnya kecil atau basement high yg luas arealnya kecil, bisa2 missed dong…

Jawabannya:

Namanya eksplorasi yg mesti ekonomis, sekarang gimana mau ekonomis kalau nyari yg kecil-kecil? kalau mau yg cadangannya besar, setidaknya kan kita mesti mencari source yg arealnya cukup luas (artinya cukup banyak hidrokarbon yg tergenerate) dan mencari reservoir yg juga luas (artinya tempatnya cukup besar utk menampung hidrokarbon yg tergenerate).

Trus kenapa tidak pakai peta sumber daya mineral atau peta minyak bumi? masalahnya, peta itu dibuat berdasarkan data apa? outcrop? sea bed seeps? atau analog dgn daerah sekitarnya? atau apa? masalah lainnya, peta tsb setahu saya sangat general, dalam artian tidak cukup digunakan utk justifikasi sebelum seismik.

Sekarang ini di Indonesia, blok2 yg akan di-tender, biasanya sudah ada multiclient data (bisa seismik, gravity atau magnetik). jadi lebih mudah saat menganalisa derah tsb. pada daerah2 dimana sulit dilakukan seismik (misalkan berbukit-bukit atau ada halangan lainnya), biasanya pakai airborne magnetic atau airborne gravity dgn grid yg cukup rapat. nanti hasilnya bisa difilter, tergantung target apa yg ingin dilihat.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: