Saya mau bertanya mengenai rig lepas pantai apabila produksi sudah selesai, atau terjadi kecelakaan. Apa upaya yang dilakukan oleh perusahaan oil and gas mengenai hal tersebut?? apakah ada pertanggungjawaban kepada pemerintah mengenai kejadian itu??
Seperti yang saya ketahui, apabila terjadi kecelakaan tentunya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan terkhusus biota2 laut di dalamnya. dan setelah terjadi kecelakaan itu, apakah upaya produksi tetap dilanjutkan pada tempat yang sama juga atau berpindah ke daerah lain?

Tanya – togar_arsenal89

Dear, millist..

Perkenalkan saya togar, mahasiswa Teknik Kimia UI.

Bapak, saya mau bertanya mengenai rig lepas pantai apabila produksi sudah selesai, atau terjadi kecelakaan.

Apa upaya yang dilakukan oleh perusahaan oil and gas mengenai hal tersebut?? apakah ada pertanggungjawaban kepada pemerintah mengenai kejadian itu??

Seperti yang saya ketahui, apabila terjadi kecelakaan tentunya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan terkhusus biota2 laut di dalamnya. dan setelah terjadi kecelakaan itu, apakah upaya produksi tetap dilanjutkan pada tempat yang sama juga atau berpindah ke daerah lain?

Atas perhatian Bapak / Ibu saya mengucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah

Dek Togar,

Ada mekanismenya, baik kewajiban internal perusahaan yg dimaksud atau sesuai aturan pemerintah, anda mau ketahui apanya?

Semacam wajib lapor 24 jam atau 2×24 jam pada RT/RW itulah kewajibannya.
Kalo yg dimaksud adalah katastropik incident semacam spill yg besar, pastilah sudah ditanggulangi secara akumulatif bersama oleh PSC2 di daerah setempat.

Mungkin yg lain mau menambahkan, kita sambung lagi setelah jelas apakah aturan & mekanisme internal atau laporan ke pemerintahan yg dimaksud.
Ilmu ttg emergency response, incident investigation, fire protection ini memang cukup menarik kalo mau dikaitkan.

Tanggapan 2 – ryan mefiardhi

bang togar..

sy lihat pertanyaannya dapat dijawab dari beberapa sisi :

bila perusahaan masih beroperasi :

– bila rig move out atau pengeboran/well service telah selesai dilaksanakan, instalasi akan di serah terimakan ke bag operation. bila terjadi kecelakaan atau incident disana, maka segala sesuatunya menjadi tanggung jawab perusahaan

– bila produksi telah diputuskan sudah habis/selesai/tidak menguntungkan lagi, maka perusahaan akan melakukan decommissioning (bisa permanen atau retain for future use) terhadap instalasi tersebut bila akan di tinggalkan. segala sesuatunya akan di isolasi/dismental dll dan sumur akan di plug permanen (bila ingin permanen). bila terjadi kecelakaan di instalasi tersebut maka masih merupakan tanggung jawab perusahaan, karena masih dalam wilayah operasinya. kecuali benar2 di serahterimakan instalasi decom tsb ke pemerintah

– bisa saja decommissioning total sampai dengan pemotongan struktur platform, namun pastinya akan ada perhitungan2 biaya dll. oleh sebab itu sejak awal ingin merencanakan installasi dapat dipertimbangkan biaya decommissioning nanti, seperti pertimbangan memilih FPSO dan sumur subsea. contoh : bila ingin decom, FPSO tinggal ditarik, sedangkan fixed platform lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. pilihan ini tentu saja akan mempertimbangkan hal2 tertentu ; utk daerah2 produksi tertentu yg dibatasi waktu kontrak, situasi lingkungan, reservoar yg cepat decline dll.

Perusahaan akan melaporkan setiap kecelakaan atau incident kepada negara (bp migas dan migas), terutama yg bersifat recordable sesuai tingkatannya : spt fatality, menyebabkan dafwc, oil spill dalam jumlah yang bsr dll, medical treatment yang recordable dll. perusahaan akan melakukan tindakan penyelamatan sesaat stlh incident, recovery (seperti bila terjadi spill dll). incident management team/tactical response team/oil spill response team akan melakukan hal ini. kemudian perusahaan akan membentuk tim investigasi utk mempelajari dan mencari tahu penyebab kecelakaan, membuat rekomendasi atas hal itu. Terakhir perusahaan akan menindaklanjuti rekomendasi tsb. Semuanya dirumuskan dalam emergency response plan/incident investigation procedure/incident management system perusahaan tsb.

Utk oil spill, tergantung volume spill tsb di lapangan. perusahaan akan melakukan sendiri. bila tidak dapat dilakukan, naik tingkatannya dan akan bekerjasama dengan perusahaan tetangga/industri lokal. bila tidak bisa juga/lebih besar spillnya, negara akan turun tangan dan bisa saja organisasi non profit spt OSRL akan dipanggil utk membantu.

Biasanya, sesaat setelah kejadian tsb, pimpinan akan melakukan safety stand down dan time out for safety. produksi akan dan dapat dihentikan sebagian atau total tergantung tingkat kejadiannya. produksi dapat dilanjutkan bila segala sesuatunya telah aman dan instalasi telah dipulihkan kembali. penting utk pekerja dilapangan tahu tentang kejadian dan management akan memutuskan langkah2 cepat apa yang harus dilakukan segera berdasarkan input dari team dilapangan.

Namun bila perusahaan sudah tidak beroperasi lagi :

– sebelum diserahterimakan ke negara, dan telah diputuskan daerah tsb bukan lagi daerah produksi, makan installasi akan di decommissioning secara total. setelah yakin sudah beres semua, kecelakaan atau incident yang terjadi setelah serah terima akan menjadi tanggung jawab negara. karena negara telah menerima dan menyetujui bahwa instalasi tsb teleh di decommissioning dengan baik dan benar.

– namun bila akan di hand over kepada perusahaan yang akan meneruskan kegiatannya disana, baik akan instalasi itu akan back online atau tidak, maka akan menjadi tanggung jawab perusahaan baru tsb.