Berbicara hysys, atau proses simulator pada umumnya, hendaknya harus dilihat secara luas. Di mana keterbatasannya, itulah yang penting. Banyak pengguna hysys yang berpikir ini adalah software sakti. Padahal, dia tetaplah bodoh! Yang pinter adalah si penggunanya. Inga2 rule of thumb di proses simulasi: garbage in-garbage out.

Tanya – Hendrawan Rosyid

Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan :

1. Apakah software HYSYS dapat di integrasikan kedalam software yang terdapat dalam DCS DeltaV ?

2. Apabila pengintegrasian tersebut dapat dilakukan , maka dalam bagian manakah dari suatu proses (maintenace, monitoring, atau yang lainnya ) pada plant, pengintegrasian tersebut dapat berlaku ?

3. Apabila pengintegrasian tersebut dapat berlaku, apakah pengintegrasian tersebut dapat mempengaruhi output yang ingin dicapai oleh suatu proses, atau mempengaruhi jalannya proses pada plant tersebut ?

4. Apakah software HYSYS banyak digunakan dalam dunia industri yang berkaitan dengan minyak dan gas ?

Terima kasih..

Tanggapan 1 – Cahyo Hardo

Mas Hendrawan, selamat sore

Berbicara hysys, atau proses simulator pada umumnya, hendaknya harus dilihat secara luas. Di mana keterbatasannya, itulah yang penting.
Pengalaman saya – mudah2an ini salah- banyak pengguna hysys yang berpikir ini adalah software sakti. Padahal, dia tetaplah bodoh! Yang pinter adalah si penggunanya. Inga2 rule of thumb di proses simulasi: garbage in-garbage out.

Baik itu versi tunak (steady state)atau versi dynamic, tetaplah mengacu pada teori dasarnya, yaitu ilmu termodinamika (seperti yang diutarakan oleh Mas Patria)dan jangan lupa yaitu ilmu neraca massa dan energi. Dengan ilmu neraca ini, kita bisa melihat spesifikasi yang proper sehingga hysys bisa di run dengan hasil yang memuaskan. Terakhir tentu saja adalah fenomena yang terjadi di alat2 proses itu sendiri,seperti fenomena perpindahan massa, perpindahan panas, reaksi kimia, reaksi fisika, dst.

Dari sini, Insyaa Allah dengan mudah kita akan memperkirakan apakah si hysys ini kerika di run, hasilnya on the track atau ngawur.

Ketika sebelum plant itu dibangun, tentu saja derajat kebebasan si desainer, yaitu proses engineer cukup luas. Tidak perlu dia langsung menukik ke arah spesifikasi unit terpasang, wong alatnya pun belum ada. Tetapi ketika alat itu sudah terpasang, maka ketidakidealan pasti akan terjadi, Entah karena memang ada fenomena yang tidak bisa ditebak oleh hysys (misalnya foaming atau emulsi) atau memang si pensimulator gagal mewujudkan proses aktual ke dalam mode rating di hysys. Hal ini yang akan membuat ‘error perambatan yang makin panjang’.

Contohnya adalah masalah penuaan katalis atau aging catalyst yang tentu saja tidak tersedia di hysys (setidaknya versi di tempat kami belum bisa. (catatan, katalis adalah senyawa yang mempercepat terjadinya reaksi).Dari waktu ke waktu kinerja katalis tentu saja menurun. Nah, hal ini harus dicermati sehingga perlu ditambahkan satu fungsi khusus lagi di dalam spreadsheetnya hysys yaitu tentang rumus penuaan katalis. Ini hanya sekedar contoh. Contoh lain yang sudah disebutkan oleh Darmawan, yaitu misalnya tentang fenomena depletion sumur yang mau engga mau akan membawa dampak perubahan di parameter operasi serta komposisi fasa dan mungkin komposisi dari fluidanya.

Pengintegrasian hysys dynamic dengan DCS? Hmmm, saya termasuk orang yang ‘putus asa’ dengan ini. Bukannya tanpa alasan.

Di tempat kami, ada tiga kompresor jenis sentrifugal yang disusun seri (tandem). Saya ingin sekali memasukannya ke dalam DCS, akan tetapi feature anti-surge yang disediakan oleh hysys tidaklah sama dengan yang ada di solar, wah saya jadinya mana berani wong persamaannya saja udah beda.

Kedua, hysys dynamic di tempat kami tidak mengenal momen kelembaman, misalnya ketika kompresor shutdown, katakanlah cooldown shutdwon karena suatu sebab, harusnya dia tidak langsung berhenti berputar tapi slow down dulu. Tapi hasil simulasi hysys dynamic, langsung rpm-nya zero. Bagaimana saya percaya?

Contoh lain yang membuat saya engga memaksimalkan versi dynamic ini adalah kemampuannya relatif terbatas terhadap pengendalian proses, misalnya di final control element, contohnya control valve saja. Kalau gain prosesnya berubah, tentu saja secara praktisnya si control valve ini khan kudu di tuning lagi, nah keliatannya si hsysy dymanic ini rada tumpul untuk bisa melihat sampai di situ. Di komputer sih oce2 aja ka-ka, tapi di plant itu anti surge bisa ngalor ngidul engga karuan karena tuningnya sudah tidak valid lagi untuk kasus flow sebesar itu. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan slug flow yang fungsi transfernya sudah pasti susah di tebak, wah saya ciut dech. Tapi ini khan pendapat saya, mungin pendapat Pak Tri Partono bisa bilang lain…ya engga Pak Tri….

Kalau point nomor 3, rasanya bisa aja asalkan si hysys diberikan kewenangan untuk memerintahkan DCS. Dengan catatan, seluruh fungsi tranfer atau what- if2 proses yang mungkin terjadi sudah diprediksi dengan tepat. Tentu saja pengetahuan akan daya keberlakuan tiap2 unit operasi perlu kaji ulang lebih dalam dulu. Sistem terpasang lain di pabrik yang mungkin terkena imbasnya tentunya adalah setting2 dari pressure control valve, bahkan mungkin ke setting2 dari safety device.

Contoh di atas relatif mudah ditebak sih via hysys yang steady state, tetapi terkadang ada yang rada susah langsung ditebak karena butuh pengkajian sedikit. Misalnya, jika suction kompressor dinaikkan guna mendapatkan tambahan kapasitas, apakah hysys akan komentar jika ternyata operating parameter yang baru sudah masuk ke area stonewall? To be honest, saya engga tahu looh…

Sebenarnya masih ada lagi, tetapi saya terus terang lupa karena udah engga pernah make software ini secara rutin.

Mas Hendrawan, maaf jika ini sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mas.
Saya sih cuma menyampaikan pengalaman saya aja dulu waktu masih menggunakan software ini. Mungkin versi yang baru sudah lebih canggih, I do not know.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: