Standard untuk Water Storage tank sbb: 1.AWWA Standard for Welded Steel Tanks D100; 2.AWS D 5.2; 3.Bisa juga di combine dengan API 650; 4.ASTM untuk material. Procedure: 1. Engineering design so pasti; 2. Materials untuk shell sudah di roll dan ditransfer ke field plus nozzles nya; 3. Bottom plate pastikan ketebalan apakah perlu backing plate; 4. Pondasi sesuai civil engineering standard. Jika tangki anda didaerah rawa mungkin perlu piling, tetapi ini tentu sudah di justified di engineering stages.

Tanya – InYo

Dear Rekans,

Mohon pencerahannya untuk metode konstruksi water storage tank,terutama untuk hal2 yg berkaitan dng working at height seperti penggunaan scaffold atau temp. Platform,ditinjau dari segi HESnya….

Terimakasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Akh. Munawir

Mmngnya seberapa besar/tinggi tank-nya?

Tanggapan 2 – Alvin Alfiyansyah

Wah Pak Inyo,

Agak susah menentukan hal ini jika tidak tahu kontur tanah atau landasan yang dimaksud, soil type, tank yang akan dibangun, MOC, SIMOPSnya dan sebagainya, termasuk cara ereksi & konstruksi tank yang dimaksud. Excavation sepertinya akan dilakukan juga, foto2 area setempat bisa dijadikan acuan kelak.
Lebih baik lakukan PreConstruction Safety Study pakai What-IF dan TRA (Task Risk Assessment) dan minta kontraktor yang kompeten melakukannya jika anda tidak yakin seperti ini.

Tanggapan 3 – Rachmadi Indrapraja

Kalo ditempat kami biasa dilakukan Job Safety Analysis = Task Risk Assesment bahkan sebelum penambahan konstruksi, karena dari proses meeting tersebut (bersama Operasi, Maintenance, dan Inspeksi) dapat dispesifikasi berbagai kemungkinan permasalahan. Sehingga jelas segala kemungkinan ditanggulangi akar permasalahan. Meeting tersebut juga mencegah modifikasi desain yang sia sia…apalagi kalau ternyata harus berinvestasi.

Mohon dikoreksi, maklum masih cupu.

Tanggapan 4 – Maruli Parlin

Mas Inyo, masukan dari saya:

Standard untuk Water Storage tank sbb:

1.AWWA Standard for Welded Steel Tanks D100

2.AWS D 5.2

3.Bisa juga di combine dengan API 650

4.ASTM untuk material

Procedure:

1. Engineering design so pasti

2. Materials untuk shell sudah di roll dan ditransfer ke field plus nozzles nya

3. Bottom plate pastikan ketebalan apakah perlu backing plate

4. Pondasi sesuai civil engineering standard. Jika tangki anda didaerah rawa mungkin perlu piling, tetapi ini tentu sudah di justified di engineering stages

Rigging dan Workig at Height:

1.Pastikan anda di support oleh mobil crane. Besar crane tergantung dari besar tangki yang akan di ereksi. Jika sampai 1 Million Galls anda perlu minimum 45 T mobil crane. Berat sheel/plate mungkin tidak seberapa tetapi jangkauan boom sangat diperlukan untuk menjangkau titik angkat terjauh misalnya di roof.

2.Working at height:

Pastikan semua crew sudah mengikuti procedure bekerja di ketinggian
Pastikan semua crew yang bekerja diatas 100% tie off dan menggunakan safety harness(bukan safety belt).

Pastikan semua hand tools diperlengkapi line hook menjaga lepas dari tangan dan menimpa crew yang bekerja di bawah.

Pastikan signal man(ditunjuk) jangan sampai lebih dari satu orang. Kecuali jika ada sesuatu yang akan di angkat dimana posisi benda tsb tersembunyi bisa dipakai lebnij dari satu. Tetapi yang langsung expose ke operator crane hanya satu orang.

Diatas 1.5 M , anda sudah harus menggunakan moveable scaffolding atau fix plateform yang di attach ke sekeliling tank. Lebar scaffolding harus memungkinkan seseorang bisa berdiri bebas pada saat melakukan hammering. Ingat sambungan antar shell sering tidak ‘allign’ jadi diperlukan alignment dengan menggunakan wedges dan ini biasanya dilakukan dengan pemukulan untuk meratakan plate shell yang akan di sambung.

Pada saat lifting pastikan tidak ada orang yang bekerja di bawah load yang di angkat.

Confine space procedure:

Jika tangki anda dilengkapi roof, pastikan pada saat melakukan pekerjaan pengelasan bottom plate semua crew yang bekerja sudah mengerti procedure working inside confine space. Dan semua peralatan pendukung sudah di lengkapi.

Apa lagi ya..masih banyak pak, tetapi karena yang di tanyakan terutama working at height dan safety sementara sekian dulu. Silahkan ditambah rekan yang lain.

Sekian dulu semoga membantu.

Tanggapan 5 – InYo

Rekans,terimakasih masukannya….

Tanggapan 6 – muhammad rifai

Mungkin bisa dijelaskan lebih terperinci, disaat apa kita mesti menyediakan crane… apakah sewaktu mau memasang roof saja atau bagaimana, karena yang saya pernah lihat, untuk masang shell kadang crane nggak diperlukan.

Tanggapan 7 – Maruli Parlin

Pak jika tank nya hanya satu course mungkin bisa saja tanpa crane, juga karena diameter tangki kecil(shell hanya satu course dan terdiri dari dua atau 3 roll plates). Tetapi ini tentu cukup beresiko. Jika tangki lebih dari satu course(lebih dari satu tingkat shell) saya kira tidak ada pilihan lain selain crane. Tinggal besar kecilnya crane tergantung besar tank yang akan di ereksi. Pemasangan shell tingkat ke 2 dst memerlukan sedikit pekerjaan yang presisi untuk penyambungan antara shells sehingga alat ini begitu penting. Semoga membantu.

Tanggapan 8 – muhammad rifai

Ini berdasar pengalaman atau perkiraan ya?

Mungkin yang punya pengalaman bisa share biar tidak salah perkiraan.

Tanggapan 9 – Yanuar A. Aribowo

Mengenai metode erection tank ada berbagai macam, selain menggunakan crane, ada juga metode Bottom Up, yaitu mengerjakan roof dan top shell terlebih dahulu (dibawah) kemudian diangkat (bisa dengan jacking atau chain block) baru disusul shell di bawahnya, sehingga lebih safety karena hampir semuanya dikerjakan di bawah.
Perusahaan kami sedang mengerjakan 8 buah tank (est. 1 tank 90MT) dengan metode ini di proyek oleochemical di Gresik, saat ini sudah mencapai 80%.