WBM merupakan jenis lumpur yang sangat umum digunakan karena murah,mudah diperoleh, mudah untuk maintainnya. Akan tetapi ketika kita melakukan pemboran melewati zona yang banyak mengandung clay, maka akan terjadi ‘clay swelling’ dimana clay tersebut akan mengembang karena bereaksi dengan air (fresh water). Untuk mencegah hal tersebut digunakan lah OBM. Selain itu OBM juga banyak memberikan benefit lain seperti memberikan efek lubrikasi yang lebih baik, lebih baik untuk zona tekanan dan temperatur tinggi, dan memberikan ROP lebih bagus.

Tanya – Allo, Paulus T

Apa sih pertimbangannya menggunakan water-based mud dan oil-based mud? kapan pakai water-based dan kapan pakai yg oil-based?

Yg saya tahu, biasanya lubang bor yg dibor menggunakan oil-based mud itu mulus banget (kalau dilihat di caliper log). dgn kata lain, kondisi lubang bor yg mulus begini kan sebenarnya ideal sekali utk well logging, khususnya utk alat2 tipe pad devices (yg nempel ke lubang bor).

Nah, trus kenapa tidak semua sumur di-bor menggunakan oil-based mud?

Thanks.

Tanggapan 1 – Fitrah Arachman

Pak Paulus,

Saya mencoba ikut berdiskusi lagi dengan Bapak.

WBM merupakan jenis lumpur yang sangat umum digunakan karena murah,mudah diperoleh, mudah untuk maintainnya. Akan tetapi ketika kita melakukan pemboran melewati zona yang banyak mengandung clay, maka akan terjadi ‘clay swelling’ dimana clay tersebut akan mengembang karena bereaksi dengan air (fresh water). Untuk mencegah hal tersebut digunakan lah OBM. Selain itu OBM juga banyak memberikan benefit lain seperti memberikan efek lubrikasi yang lebih baik, lebih baik untuk zona tekanan dan temperatur tinggi, dan memberikan ROP lebih bagus.

Akan tetapi OBM ini lebih mahal dari WBM. Selain itu juga ada problem lingkungan akibat OBM. Selain lumpur itu sendiri juga cutting yang dihasilkan tentu akan mengandung oil baik itu di sekeliling permukaan maupun sebagai filtrat didalam pori-porinya.
Seharusnya juga ada pertimbangan untuk menggunakan OBM setelah kita melewati zona air tanah. Sehingga tidak terjadi pencemaran air tanah.

Beberapa waktu lalu saya sempat lontarkan diskusi tentang penanganan cutting di Indonesia mengingat kita telah membor sejak tahun 60an. Saya masih penasaran cutting sebanyak itu diapakan ? Tapi rupanya hanya Pak Ardian Nengkoda yang tertarik.
Saya mencoba mengangkat lagi hal ini..mungkin ada yang bisa memuaskan rasa penasaran saya.

Tanggapan 2 – Ardian Nengkoda

Dear Sir,

Beberapa kasus operation up set di oil systems, terjadi ketika first production dari new drilling well atau wo, membawa sisa2 drilling fluid dan chemicals (bisa dlm bentuk sludge, viscous, liquid: polymer kek, morpholine residue kek, dimethyl doioctadecyl ammonium montmorillonite…etc…) ke oil process systems dan menyebabkan emulsion yg berkepanjangan sampai ke storage tank…jadinya process up set.

Dikilik-kilik make demulsifier (acid base) juga gak mau beres. Ujungnya2 oil gak bisa di jual…hiiii seraaaam….Sdh pernah lihat pit yg isinya sludge segede gajaaah?

Menurut pengamatan saya, process upset juga berasal dari karakteristik content si reservoir crude fluid sih. Nah kalau sdh gini, apakah existing facilities dpt dihandalkan?

So, waspadalah..waspadalah..dgn penggunaan drilling fluid/mud/chemical pada drilling operation, karena bisa2 di downstream process kegelian.