Banyak dikatakan bahwa, pertambangan ialah salah satu bidang yang dikatakan tidak terkena krismon sejak th 1988. Bahkan terlihat jumlah penggunaannya meningkat pada th. 2001-2002. Namun kemudian menurun hampir setengahnya pd th 2003. Kira-kira apa sebabnya menaik pada th 2001-2002, dan menurun pd th 2003? Mengenai keselamatan kerja di tambang berkaitan bahan peledak, ternyata jumlah penggunaan bahan peledak tidak berbanding lurus dengan penggunaan bahan peledak di tambang. Baik jumlah kecelakaan, maupun frequency rate kecelakaan semakin tahun semakin kecil. Apakah ini berarti pengelolaan keselamatan kerja di tambang semakin baik?

Tanya – d01sa492@ynu.ac.jp

Saya ingin bertukar informasi atau berdiskusi mengenai data yg dimunculkan oleh Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral (DJGSM) mengenai jumlah penggunaan bahan peledak dan jumlah kecelakaan di tambang: http://www.djgsm.esdm.go.id/pertambangan/k3/index.html

1. Jumlah penggunaan bahan peledak.

Banyak dikatakan bahwa, pertambangan ialah salah satu bidang yg dikatakan tidak terkena krismon sejak th 1988. Bahkan terlihat jumlah penggunaannya meningkat pada th. 2001-2002. Namun kemudian menurun hamper setengahnya pd th 2003.

Kira-kira apa sebabnya menaik pada th 2001-2002, dan menurun pd th 2003?

2. Keselamatan kerja di tambang berkaitan bahan peledak.Ternyata jumlah penggunaan bahan peledak tidak berbanding lurus dengan penggunaan bahan peledak di tambang.
Baik jumlah kecelakaan, maupun frequency rate kecelakaan semakin tahun semakin kecil.

Apakah ini berarti pengelolaan keselamatan kerja di tambang semakin baik?

Tanggapan 1 – ardiands

Bapak Y Ruyat yth,

Saya mencoba menanggapi pertanyaan Bapak yang ke 2 tentang jumlah kecelakaan kerja di tambang. Tanggapan saya ada 2 yaitu:

1. Mungkin saat ini sebagian besar perusahaan tambang telah meningkatkan standar keselamatan kerjanya, sehingga kecelakaan kerja dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.

2. Saat ini banyak perusahaan tambang yang melakukan kegiatan di lapangan dengan menggunakan jasa perusahaan lain (outsourcing pada perusahaan jasa -kontraktor- pertambangan).

Kegiatan yang di outsource kan tersebut biasanya sangat banyak mulai penggalian, peledakan, pengangkutan, pengolahan bahkan sampai pada penyediaan makanan buat para pekerja.

Point saya adalah apabila terjadi kecelakaan kerja di areal tambang tersebut, maka pekrja yang mengalami kecelakaan tersebut statusnya adalah pegawai perusahan jasa -kontraktor- pertambangan sehingga yang terbebani kewajiban adalah perusahaan kontraktor tersebut.

Tanggapan 2 – agung.p.djatmiko@conocophillips

Bapak/Ibu Yth.,

Di salah satu fasilitas LQ Offshore kami direncanakan utk menambah kapasitas AC agar suhu ruangan bisa bertambah dingin. Dengan pertimbangan biaya dan waktu pelaksanaan yg lebih bagus, ada usulan untuk memasang AC split tipe ceiling. Pertanyaannya, barangkali di antara Bapak/Ibu ada yang tahu di standar apa yang boleh/tidak memperbolehkan jenis AC ini dipasang di offshore facilities.

Tanggapn 3 – Djayaputra.Kunarta@Halliburton

Pak Agung,

Kalo engga salah AC nya harus suitable untuk Class I Div 2 Area Class.

Apa ada AC Split type yang memenuhi persjaratan seperti ini?

Dari sisi Electrical, kita biasanya refer ke Hazardous Area classification drawings untuk memilih equipment.

Tanggapan selengkapnya :