Saya ingin bertanya tentang Flare. Salah satu requirement spec untuk flare (sumbagsel) adalah bahwa system penyalaan flare harus dapat dioperasikan secara otomatis. Yang saya tanyakan: 1. apakah ini berarti bahwa flare harus dapat melakukan re ignition sendiri secara otomatis jika terjadi flame out?; 2. Jika ya, bagaiman caranya? (sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya baik dari buku atau pun quotation vendor).

Tanya – kuswidya@ikpt

Selamat siang,

Saya ingin bertanya tentang Flare :

Salah satu requirement spec untuk flare (sumbagsel) adalah bahwa system penyalaan flare harus dapat dioperasikan secara otomatis. Yang saya
tanyakan:

1. apakah ini berarti bahwa flare harus dapat melakukan re ignition sendiri secara otomatis jika terjadi flame out?

2. Jika ya, bagaiman caranya? (sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya baik dari buku atau pun quotation vendor)

3. In case terjadi flame out, kemudian flare langsung secara otomatis melakukan re ignition, apakah ini tidak berbahaya jika belum diketahui penyebabnya?

4. Jika Flame Front Generator (FFG) Flare dan Burn Pit jadi satu. maksudnya 1 FFG digunakan untuk penyalaan flare dan burn pit, bagaimana filosofi operasinya jika otomatis pak?
Terima kasih atas perhatian dan pencerahannya…

Tanggapan 1 – Cak Weby

Dear members,

Saya coba jawab sepengetahuan saya saja ya (karena hanya pernah berurusan dengan yang tipe exciter/electric, bukan FFG) .

1. ‘Penyalaan otomatis’

Mungkin kalau yang dimaksud adalah ‘penyalaan kembali secara otomatis’ memang disediakan fasilitasnya. memang betul namanya re-ignition.

2. Teknis penyalaan

Diujung flare tip terdapat thermocouple yang akan mendeteksi temperatur di flare tip, kita bisa mengubah setting temperatur di control panel-nya flare stack. Logikanya, kalau api di pilot-nya mati (tertiup angina kencang misalnya) tentu saja temperaturnya akan menurun. Ketika temperatur yang dideteksi thermocouple dibawah setting temperatur, maka mode penyalaannya akan ke re-ignition mode dan mulai menginisiasi api.

Ada semacam ‘kekurangan’ akibat sifat termokopel itu sendiri, yaitu dia mempunyai semacam time lag untuk mendeteksi temperatur. Ketika api mati, tidak serta merta temperatur akan langsung turun dan turunnya temperatur yang dideteksi termokopel pun perlahan-lahan. Jadi ada selisih waktu antara matinya api dan berpindahnya mode ke re-ignition mode. Setting temperatur ini juga harus dipertimbangkan lagi dengan karakteristik sensor temperaturnya.

3. Flame out

Re-ignition ini tidak terjadi secara terus menerus, (ini sepengetahuan saya lho) ada batas waktunya dan bisa kita setting juga, katakan 10 menit. Lewat dari waktu yang telah disetting, mode re-ignition-nya akan mati, dan tidak ada penginisiasian api sama sekali. Teknisi bisa mengecek kalau ada sesuatu, kemudian menyalakan pilot-nya dalam manual mode.

Ketinggian dari flare stack kan juga ada hitungannya, harusnya ketika pilot mati dan ada gas yang kebetulan lagi nyembur, begitu gas tsb ada disekitar permukaan tanah, LEL-nya mencukupi untuk tidak menghasilkan api. Tapi kalo yg terakhir ini saya kurang pasti benar, maklum baru curi2 dengar aja dari vendor, mohon koreksinya dan pencerahannya juga dwong.. 🙂

4. Burn pit dan Flare jadi satu

Wah yang ini saya belum pernah tahu. Ada yang bias bantu kasih info?

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – fendro saleh

Selamat malam, saya ingin coba menjawab semoga dapat membantu.

1. apakah ini berarti bahwa flare harus dapat melakukan re ignition sendiri secara otomatis jika terjadi flame out?

I know something about this but I am not a specialist.

There is a way to check if the the pilot burner flame is still burning. They use a thermocouple close to the flame to measure the temp.

As you know a thermocouple give a electrical signal in Volts related to the temperature at the thermocouple.

There may be other sensors for checking the flame on yes or no.

2. Jika ya, bagaiman caranya? (sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya baik dari buku atau pun quotation vendor)

3. In case terjadi flame out, kemudian flare langsung secara otomatis melakukan re ignition, apakah ini tidak berbahaya jika belum diketahui penyebabnya?

No if there is no flame the ignition starts immediately to re ignite.

In some cases the ignition is constantly working on 4 different spark plugs . For safety reasons.

The longer you wait with the reignition the more dangerous it will be.

Makin lama makin berbahaya.

4. Jika Flame Front Generator (FFG) Flare dan Burn Pit jadi satu. maksudnya 1 FFG digunakan untuk penyalaan flare dan burn pit, bagaimana filosofi operasinya jika otomatis pak?

I think FFG is a electronic ignition system and burn pit is a pilot burner (small flame which is always burning with a separate supply of gas LPG bottle).

I Indonesia the flares in the oilfield are using gas bottles .The weak point is : People can steal these bottles and the flare is not working.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Kalau udah gagal semua, sementara pihak production minta Flare segera dikomisioning?
Ya udah pakai panah api aja ala penyalaan api PON…. Yihaaaa (sambil berlalu siul siul belagak gak tahu) , meleset paling paling alang alang kebakar… hahahaha…

Tanggapan 4 – Sang A, Fathahillah

Mau yang agak keren dikit ?

Pake flare gun/shot gun. Jamin idup lagi….dari jarak yang relative jauh…..