UBD adalah suatu teknik pemboran dimana tekanan hidrostatik lumpur pemboran lebih kecil dibandingkan tekanan formasi. Sehingga sewaktu melakukan pemboran tersebut akan ada influx dari formasi. OBD adalah kebalikan dari UBD, dimana tekanan hidrostatik lumpur pemboran lebih besar dibandingkan dengan tekanan formasi. Sehingga akan ada filtrat lumpur bor yang masuk ke formasi. Differential pressure yang biasanya digunakan adalah 100-200 psi. Untuk UBD kita harus mempunyai densitas lumpur yang lebih rendah dari pada air (= 8.33 ppg). Hal ini bisa dilakukan dengan menginjeksikan nitrogen.

Tanya – Allo, Paulus T

Apa sih yg dimaksud dgn under-balanced drilling dan over-balanced drilling?

Kapan kita menggunakan under-balanced dan kapan menggunakan over-balanced?

Apa pertimbangannya?

Tanggapan 1 – Fitrah Arachman

Pak Paulus,

Saya punya tulisan yang saya peroleh dari Milis migas ini juga tentang UBD.
Saya lupa siapa yang menulis. Kalau tidak salah ini dari Pak Doddy Samperuru.
Mungkin Bapak bisa membacanya untuk lebih jelasnya.

Sekedar sebagai review singkat dari saya,

UBD adalah suatu teknik pemboran dimana tekanan hidrostatik lumpur pemboran lebih kecil dibandingkan tekanan formasi. Sehingga sewaktu melakukan pemboran tersebut akan ada influx dari formasi. OBD adalah kebalikan dari UBD, dimana tekanan hidrostatik lumpur pemboran lebih besar dibandingkan dengan tekanan formasi. Sehingga akan ada filtrat lumpur bor yang masuk ke formasi. Differential pressure yang biasanya digunakan adalah 100-200 psi. Untuk UBD kita harus mempunyai densitas lumpur yang lebih rendah dari pada air (= 8.33 ppg). Hal ini bisa dilakukan dengan menginjeksikan nitrogen. UBD kita gunakan jika tekanan formasi terlalu rendah, atau kita tidak ingin terjadi lost circulation dalam pemboran. Selain itu juga UBD bisa meminimalkan damage akibat filtrat lumpur pemboran jika kita menggunakan teknik OBD. Ini tentu cocok untuk payzone, karena kita tidak mau merusak reservoir. Apalagi jika kita membor horizontal.

Tanggapan 2 – Harry Eddyarso

Over-balanced drilling dilakukan sebagai bagian primer dari well control, dimana hydrostatic head dari lumpur bor yang digunakan dapat menahan / mengatasi tekanan formasi sehingga ‘kick’ atau bahkan ‘uncontrolled blow out’ dapat dihindari selama operasi pengeboran dilakukan. Kekurangan dari over-balanced drilling antara lain:

– formation damage, yang disebabkan oleh lumpur pengeboran, sehingga mengurangi atau bahkan menghalangi laju alir fluida pada saat sumur ditest atau diproduksi.

– memperlambat drilling penetration rate, karena drill cuttings cenderung ngumpul di bottom hole dan lambat naik ke atas waktu ngebor dan sirkulasi.

– pada saat mata bor menembus lapisan yang mempunyai low formation pressure, loss circulation problem akan mudah terjadi. Apalagi dengan tambahan (ECD = equivalent circulating density) yang terjadi pada saat ngebor dan sirkulasi. Loss circulation akan tambah parah jika pressure yang terexposed di bottom hole melebih fracture pressure dari formasi/ lapisan yang bersangkutan. (Bila mata bor menembus high/abnormal formation pressure zone, aliran fluida dari formasi akan terjadi atau kick. Kalau ini terjadi, barulah Blow Out Preventer atau BOP system atau secondary well control diaktifkan).

Dalam hal under-balanced drilling (dengan lumpur bor yang ringan, foam, atau gas, etc), hydrostatic head dari fluida pengeboran sengaja dibuat lebih rendah dari formation pressure, sehingga fungsi well control tidak lagi menggunakan hydrostatic head dari lumpur bor, namun digunakan ‘rotating head’ untuk mengontrol aliran dari formasi ke permukaan(controlled and closed circulating system). Under-balanced drilling ini biasanya digunakan untuk jenis2 formasi yang rentan terhadap formation damage yang disebabkan oleh lumpur bor, dan atau dilakukan untuk menambah drilling penetration rate.