Ada pompa air, casingnya mengalami pitting, sehingga setiap 6 bulan harus di rekondisi.
Data air-nya pH = 4,5; turbidity = 15 NTU; Suspended solid 13 ppm, TDS 1626 ppm, Conductifity 3170 us/cm; Cloride 850 ppm; Hard ness 310. Dari data diatas tolong dong bantu, kira-kira penyebab terjadinya pitting dari segi ketahanan material terhadap kondisi fluida seperti tersebutl, selain kondisi aliran fluida seperti kavitasi dll. Mat casing yang dipakai cast iron ASTM A 48 CLASS 30. Pola operasi kontinyu, pitting terjadi menyebar hampir diseluruh bagian casing. Servicenya raw water dari sungai. Impeller nggak pitting dan material impeller adalah bronze.

Tanya – Sabar P. Simatupang

Halo rekan-rekan milis Migas,

Disini saya forward email dari teman saya. Mohon masukan dan solusi dari rekan-rekan.

Bantu dong:

Ada pompa air, casingnya mengalami pitting, sehingga setiap 6 bulan harus di rekondisi.
Data air-nya pH = 4,5; turbidity = 15 NTU; Suspended solid 13 ppm, TDS 1626 ppm, Conductifity 3170 us/cm; Cloride 850 ppm; Hard ness 310. Dari data diatas tolong dong bantu, kira-kira penyebab terjadinya pitting dari segi ketahanan material terhadap kondisi fluida seperti tersebutl, selain kondisi aliran fluida seperti kavitasi dll. Mat casing yang dipakai cast iron ASTM A 48 CLASS 30. Pola operasi kontinyu, pitting terjadi menyebar hampir diseluruh bagian casing. Servicenya raw water dari sungai. Impeller nggak pitting dan material impeller adalah bronze.

Tanggapan 1 – Sianturi, Benny

Pak Sabar,

Pompanya jenis sentrifugal closed impeler, Pak? Kalo iya, besar kemungkinan karena kavitasi dan turbulensi yg terlalu sering di ujung impeler dan casing. Coba cek plant desainnya, Pak, mungkin ada yg perlu dibenahi di sisi suctionnya dan pemilihan pompa (speed). Trus, di sisi suction sebelum pompa ada filter? Lumpur dan kavitasi bisa mengikis material casing. Impeler tidak pitting karena putaran impeler menuntun air masuk dan dipusat putaran impeler cenderung vacum. Kevakuman ini menarik air utk tetap kontinyu mengalir, jadi air tidak sempat turbulen di impeler, alirannya akan laminer. Perlu data tambahan utk analisa detail.
Demikian pendapat saya.

Tanggapan 2 – Hari, Suprayitno (Supraco)

Sudah cukup diulas oleh pak Benny. Tapi supaya lebih lengkap nanti analisanya oleh bapak2 yang ahli baik secara mekanis maupun prosesnya, harap dicantumkan juga operating condition-nya:

<> Ukuran suction pipe

<> flow rate

<> suction lift/pressure/head

<> temperatur

<> piping configuration-nya (sudah disinggung oleh pak Benny)

Tanggapan 3 – M Arif Ansori

Saya sependapat dengan pemikiran P Benny, karena Pitting yang terjadi pada pompa bapak tersebut cenderung akibat mekanik yang disebabkan oleh kavitasi.

Coba recheck terhadap :

1. NPSHA & NPSHR-nya

2. Posisi Eccentric Reducernya di suction pump (kalau ada) dan kemungkinan instalasi pipa suction yang memungkinkan adanya kantong-kantong udara disepanjang line suction.

3. Pengamanan di suction pump terhadap kotoran/benda asing yang memungkinkan terjadinya penyumbatan di line suction, sehingga akan meningkatkan Pressure Drop di Suction dan menurunkan NPSHA-nya. Akibat akhir adalah terjadinya kavitasi.

4. Kalau perbedaan elevasi air sungai (pasang surutnya) terlalu jauh dariwaktu ke waktu (musim ke musim) sehingga jarak permukaan air sungai ke Center Impeller berubah-ubah, chek NPSHA-nya pada kondisi extrim atau alternative lain adalah memasang pompa pada Floating fondasi (base plate) diatas sungai sehingga jarak suction pompa tetap terjaga (kalau memungkinkan)

5. Dari segi material, memang umumnya material yang bapak sebutkan adalah umum dipakai untuk pompa river water, sehingga kecenderungan terbesar adalah terjadinya kavitasi pada pompa.
Demikian sedikit tambahan.