Residual stress (tegangan sisa), bisa terjadi pada semua material (metal, polymer, ceramic dan juga composite). Adapun residual stress umumnya disebabkan oleh 3 hal yaitu : Thermal action (contoh welding, heat treatment atau flame cutting process), Mechanical action ( rolling, grinding, shoot peening, dll) atau Chemical Action (corrosion, coating, plating. dll). Residual stress sebenarnya ada yang menguntungkan dan juga ada yang merugikan, tergantung dari arah, besar dan tipe tegangannya. Misalnya untuk proses ‘shot peening’ pada permukaan material akan menghasilkan residual stress compressive yang menguntungkan dalam meningkatkan ketahanan material terhadap fatik. Tetapi sebaliknya ada juga yang merugikan, misalnya residual stress akibat panas (thermal) dari proses welding, menyebabkan material hasil las mengalami distorsi (buckling) bahkan keretakan. Oleh sebab itu material hasil lasan umumnya dilakukan stress-relief dengan PWHT, bila material yang dilas cukup tebal dan nilai CE-nya tinggi.

Tanya – anjay_boy

Rekan-rekan,

Saya pernah membaca sebuah artikel ilmiah mengenai masalah tersebut di atas yang dilakukan pada komposit dengan menggunakan X-Ray dan Neutron, yang menjadi pertanyaan saya adalah:

1. Apakah ada material / bahan lain selain komposit yang di jadikan media sebagai analisa, misalnya pada aplikasi untuk pengelasan pipa, uji material crack atau ada aplikasi terbaru yang pernah ada.

2. Kegunaan daripada Residual Stress tersebut apa dan apakah ada artikel lain mengenai Residual Stress yang menggunakan X-Ray atau Neutron yang dapat saya peroleh lagi.

Terima kasih atas pencerahannya.

Tanggapan – winarto@eng

Dear Pak I. Andy,

Mengenai residual stress (tegangan sisa), bisa terjadi pada semua material (metal, polymer, ceramic dan juga composite). Adapun residual stress umumnya disebabkan oleh 3 hal yaitu : Thermal action (contoh welding, heat treatment atau flame cutting process), Mechanical action ( rolling, grinding, shoot peening, dll) atau Chemical Action (corrosion, coating, plating. dll). Residual stress sebenarnya ada yang menguntungkan dan juga ada yang merugikan, tergantung dari arah, besar dan tipe tegangannya. Misalnya untuk proses ‘shot peening’ pada permukaan material akan menghasilkan residual stress compressive yang menguntungkan dalam meningkatkan ketahanan material terhadap fatik. Tetapi sebaliknya ada juga yang merugikan, misalnya residual stress akibat panas (thermal) dari proses welding, menyebabkan material hasil las mengalami distorsi (buckling) bahkan keretakan. Oleh sebab itu material hasil lasan umumnya dilakukan stress-relief dengan PWHT, bila material yang dilas cukup tebal dan nilai CE-nya tinggi.

Ada beberapa metoda (cara) untuk mengukur residual stress di dalam material yaitu al: (a) hole-drilling method; (b) layer removal method; (c) sectioning method ; (d) X-ray diffraction (XRD) method; (e) neutron diffraction method, (f) ultrasonic method; (g) magnetic method. Masing-masing metoda ada kelebihan dan kekurangannya dan semua metoda tersebut dijelaskan dalam buku ‘Handbook of Measurement of Residual Stresses’ edited by Dr. Jian Lu, published by The Fairmont Press, Inc, 1996.

Mengenai paper residual stress dalam file pdf bisa anda download dari home page Departemen Material University of Cambridge di alamat sbb:

http://www.msm.cam.ac.uk/phase-trans/2001/stress1.html

Demikian penjelasan tentang residual stress, semoga bermanfaat.