Saya sedang mengerjakan tugas akhir dan saat ini menghadapi kebuntuan. Mohon pencerahannya. Jadi saya punya data LRUT untuk pipa API 5L grade B 30′, 8.74 mm, spiral seam. fulida yang dialirkannya produced water,jadi ini waterline. Nah yang anehnya,nominal wall thickness nya 8.74 mm,tapi di A-scan graph (hasil pengukuran LRUT)measured thickness values nya kok sampai ada yang 9mm. Pertanyaan saya: 1.kira2 apa penyebab measured thickness values bisa lebih besar dari nominal wall thickness nya; 2.karena saya mau mencoba mengaplikasikan FFS pada pipa ini,api berhubunf data tidak lengkap,bisa gak kalau Corrosion Allowance (CA)maupun FCA saya asumsikan aja; 3. sama dengan poin kedua,kira2 boleh tidak saya mengasumsikan besarnya design pressurenya.

Tanya – leo_mining

Dear anggota milis,

Saya sedang mengerjakan tugas akhir dan saat ini menghadapi kebuntuan. Mohon pencerahannya…

Jadi saya punya data LRUT untuk pipa API 5L grade B 30′, 8.74 mm, spiral seam. fulida yang dialirkannya produced water,jadi ini waterline. Nah yang anehnya,nominal wall thickness nya 8.74 mm,tapi di A-scan graph (hasil pengukuran LRUT)measured thickness values nya kok sampai ada yang 9mm.

Pertanyaan saya:

1.kira2 apa penyebab measured thickness values bisa lebih besar dari nominal wall thickness nya.

2.karena saya mau mencoba mengaplikasikan FFS pada pipa ini,api berhubunf data tidak lengkap,bisa gak kalau Corrosion Allowance (CA)maupun FCA saya asumsikan aja.

3. sama dengan poin kedua,kira2 boleh tidak saya mengasumsikan besarnya design pressurenya.

Mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – farabirazy albiruni

Mas Leo,

Gelombang apa yang anda pakai untuk LRUTnya? Lamb wave (longitudinal & flexural) ato SH (torsional) wave?

Berapa frekuensinya transducernya dan tipe apa transducernya (PZT ato MsSR)?

Apakah anda sudah punya dispersion curve untuk material yang anda teliti?

FYI, LRUT menggunakan guided wave dan bukan bulk wave, dimana sifat guded wave (terutama lamb wave) sangat dispersive yang dipengaruhi oleh perkalian dari thickness material dan frekuensi gelombang.

Untuk dapat thickness, anda harus menganalisa menggunakan frekuensi domain seperti FFT ato wavelet hasil A scan yang diperoleh dari pengujian, kemudian dihitung phase velocity dari gelombangnya, baru nanti akan tau thicknessnya. Bila anda punya dispersion curve, anda bisa memplot hasilnya di curve tersebut untuk tahu thicknessnya.

Dengan kata lain, pengukuran thickness menggunakan LRUT tidak sesederhana bila anda menggunakan bulk wave yang merupakan point to point inspection seperti menggunakan thickness gauge UT ato flaw detector UT yang umum dipasaran.

Mudah2an cukup membantu..

Tanggapan 2 – Dwi Utomo

Mohon CMIIW ya bagi para ahli.

Kalau Pak Abhie menanggapi dari sisi UT equipmentnya, saya ingin menanggapi dari sisi thickness terukurnya (dengan asumsi LRUT sudah terkalibrasi dengan baik, penggunaan alat sudah tepat), menurut saya angka 9 mm (dgn nominal 8.74 mm, kelebihan sekitar 3%) adalah masih dalam batas wajar.
Perlu diingat, bilangan nominal thickness hanyalah penggolongan/pengelompokan standard ketebalan untuk kemudahan standarisasi produksi dan pemasaran. Dari angka nominal itu sendiri sebenarnya masih ada toleransi untuk minimum thickness yang besarnya sekitar 6% (plate) dan 12.75% (seamless pipe).
Berapa toleransi maksimum thickness? setahu saya tidak ada. Tapi secara prinsip ekonomi pastilah produsen juga tidak mau memberi thickness yang berlebihan. Kalau bisa ya pas di angka nominal, sukur2 bisa mepet di angka minimum…hehehe…

Tanggapan 3 – abdi raja

Turut menanggapi pak dwi,

Sewaktu saya ada pekerjaan untuk total di pasuruan untuk fabrication spiral seam pipe memakai Total company specSP-STR-539.
Di spec tersebut di tuliskan nominal tolerance wall thickness (WT) shall be -5%,+10%.jadi produk tersebut tidak boleh kurang dari 5% dan lebih tebal dari 10% juga tidak diperbolehkan (mandatory).
untuk spiral seam pipe di manufacture dari HRC atau Hot Roll Coil,jadi memang memungkinkan ketidak seragaman WT bisa terjadi.
Menanggapi kebuntuan data anda pada tugas akhir,coba konsultasi dengan dosen pembimbing TA anda,jiaka dia mengijinkan dengan asumsi ya go head aja.
tapi sebelum itu coba tanya ke instansi tempat anda TA,masak sih mereka tidak punya design pressure untuk instalasi waterline nya.saya kira pasti ada.
Untuk CA nya coba minta millcert dari pipe API 5L nya saya kira ada disitu datanya.

Tanggapan 4 – leo_mining

Terimakasih.Senang sekali bisa mendapatkan pencerahan dari para Ahli.

Mungkin saya ceritakan singkat tema TA saya terebih dulu:

Jadi saya ingin membandingkan antara metode FFS dengan metode FOSM. jadi disitu fokus saya memang lebih ke perbandngan metodanya bukan ke nterpretasi A-scan nya.Data2 yang saya dapat memang tidak lengkap,bisa dikatakan minim,karena saya tidak langsung berada di lokasi,melainkan hanya diberikan data yang berupa:

1.A-scan graph

2.Temperatur operasi

3.Tekanan operasi

4.Lamanya operasi

5.foto anomali

6. equipment test details

selebihnya saya menghitung sendiri ataupun asumsi.

Menanggapi Pak Abhie,

frekuensi transducernya bervariasi dari 20-80 kHz,jenisnya PZT. kemudian dispersion curve nya tidak ada. Mode gelombang yang diaplikasikan torsional wave.
jadi yang tertera di measured wall thickness itu ada 4 orientasi arah untuk satu tes poin.arah jam 3,6,9,12.sedangkan satu tes poin itu bisa mempunyai coverage length sampai dengan 80 meter. Apakah measured wall thickness itu merupakan representasi wall thickness untuk satu tes poin itu,atau hanya data untuk satu titik saja?

Menanggapi Pak Dwi,

Yang saya tangkap CMIIW,measured values thickness itu merupakan nilai yang terukur pada saat inspeksi,kalau nilainya sudah 9 mm lebih pada saat inspeksi,bagaimana cara kita mengetahui nilai ketebalan awalnya sebelum terkorosi ya Pak?bisa diketahui gak ya?

Menanggapi Pak Abdi,

Jadi saya mendapat data ini dari senior yang berbaik hati memberikan datanya kepada saya,sedangkan saya benar2 tidak tahu kondisi lapangannya seperti apa.Untu design pressure nya saya memperhitungkan dengan cara = minimum test pressure : 1.25
saya lihat di standar ASME B.31.4 design pressure bisa ditentukan dengan cara seperti itu.Tapi saya belum tau juga boleh tidak seperti itu.kemudian untuk CA nya Pak,saya tidak punya datanya juga,jadi masih mencari standar CA untuk pipa yangoperasinya sejenis dengan data saya.oiya untuk bimbingan dengan dosen saya memang berencana untuk berkonsultasi kalau sudah benar2 mentok pak..hehe..tapi sebelum itu ingin mendengar terlebih dulu pendapat2 ahli dan praktisi seperti Bapak ini…:).

Terimakasih banyak. Mohon pencerahannya lebih lanjut.InsyaAllah sangat bermanfaat untuk saya.

Tanggapan 5 – farabirazy albiruni

Mas Leo,

Kalo melihat dari range frekuensi transducernya, sepertinya T(0,1) (Torsional Mode Order 1) yang digunakan sebagai gelombang ujinya yang sifatnya tidak dispersive. Gelombang ini punya kelebihan yaitu lebih mudah diinterpretasi dan memiliki velocity yang konstan dengan perubahan thickness dan frekuensi PZT selama pengujian yaitu sebesar velocity transversal bulk wavenya (ct = sqrt (G/rho)). Simplenya, hasil pengukuran thikcness anda punya toleransi kesalahan +/- 5 % (saya bisa jelaskan angka +/- 5 % dari mana kalo anda punya dispersion curve untuk material pipa yang anda teliti).

Seperti yang sudah saya singgung di email sebelumnya, sifat guided wave adalah global inspection dan bukan point to point inspection. Nilai thickness yang anda peroleh ya nilai sepanjang length coverangenya (80 meter). Saya gak tau apakah metode inspeksinya pulse echo ato through transmission, karena ada perbedaan dalam interpretasi group velocity dari A-Scan anda dengan mempertibangkan lokasi dan posisi transducer selain juga ada kompensasi di time delaynya (karena menggunakan PZT instead of nickel coil dengan MsSR).

Mengenai hasil pengukuran yang lebih dari thickness desain pipa (dengan kata lain, pipa dalam kondisi baru) itu hal yang biasa karena memang ada toleransi seperti yang sebutkan oleh rekan2 lain. Yang jadi masalah kalo pipa yang anda teliti sudah beroperasi selama 20 tahun, namun hasil pengukuran nya lebih dari thickness awalnya. kalo yang ini bisa saya katakan kesalahan ada di teknisi dan engineer LRUTnya yang sebenrnya gak paham dengan metode ini, terutama mengenai pemilihan mode gelombang yang terbaik dalam pengujian karena LRUT jauh lebih kompleks dibandingkan bulk wave yang sudah established dalam dunia inspeksi.

Tanggapan 6 – Dwi Utomo

Mas Leo,

Perlu diperhatikan, jarang sekali (untuk tidak menyebutkan ‘tidak mungkin’) terjadi penipisan dinding pada system perpipaan itu seragam, semua titik sama rata. Internal thinning sangat tergantung pada konfigurasi system perpipaan/pipeline (lurus2 saja, banyak belokan, naik-turun, dll.), jenis korosi apa yang terjadi (pitting, general corrosion, erosion-corrosion, erosion, WPC, dll), inhibitor yang dipergunakan dan efektivitasnya, dlsb. Ditambah lagi external thinning yang jga harus diperhitungkan.

Tidak jarang terjadi, hasil inspeksi menunjukkan bahwa suatu pipa sudah sangat tipis bahkan bocor di suatu titik, sementara di area downstream/upstreamnya masih sangat bagus, dgn ketebalan seperti baru.
Saya tidak menafikkan kemungkinan terjadinya kesalahan pemakaian alat atau kompetensi operator dan data interpreter LRUT yang kurang, itu mungkin (dan mengingat kompleksnya teknik LRUT, sangat mungkin) terjadi. Tapi juga bukan suatu hal yang mustahil, pada titik yang terbaca setebal 9 mm itu memang tidak pernah termakan korosi.

Untuk keperluan evaluasi Fit For Service, saya pikir tidak semua data thickness measurement perlu dipakai. Mungkin beberapa titik yang paling buruk/paling tipis saja yang diperlukan. Kebocoran di satu titik saja akan menjadikan pipeline/piping sytem yang dievaluasi menjadi unfit for service.

Untuk data awal sebelum terkorosi, kecuali anda punya data baseline inspection, saya sarankan pakai angka nominalnya saja, dengan data 9 mm itu dianggap sebagai anomali dan tidak perlu dipakai.