Menarik memang membicarakan maintainability sejak fasa desain atau malah saat mau masuk constructability & installation. PDMS mungkin salah satu software yg dapat membantu permasalah seperti ini, walau dengan CAD biasa juga bisa dilakukan jika si engineer cukup jeli dan paham prinsipnya. Dalam dunia process safety dan HSE, ada teknik evaluasi facility siting dan layout, biasa diaplikasikan untuk calon fasilitas jadi, tentu saja khusus urusan mobilisasi, transportasi, dan instalasi dapat dirangkum dalam constructability review. Jika cukup waktu dan biaya, mungkin HFE (Human Factor Engineering) dapat sekaligus dilakukan, agar seleksi ruang, luas, bentuk fasilitas, area kerja, termasuk keperluan ruang escape dan rescue sesuai dengan prinsip2 dasar ergonomic. Namun setidaknya prinsip/spesifikasi ergonomic (safety in design) yang umum sebaiknya dipraktekkan untuk fasilitas baru ini untuk menghindari rework yang tidak perlu.

Tanya – Aan Sugeng Ananto

Mohon sharing apakah ada perusahaan lokal atau expert lokal yang pernah melakukan study mintainability & operability.
Tapi yang dimaksud bukan RAM Study loh.

Barangkali ada di antara rekan-rekan yang tahu kepada siapa atau
perusahaan mana saya bisa bertanya untuk study maintainability &
operability terhadap new oil/gas processing facilities.
Dan barangkali ada yg tahu juga mengenai sofware yg biasa dipakai untu study ini apa?

Atas bantuan informasi dan sharngnya diucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya.

Tanggapan 1 – tanos frank

Mungkin yang dimaksud RCM?… Realibility Centred Maintenance programme yang mengacu pada SAE ?.. . SAE JA 1011 atau JA 1012?… kalau industry mungkin cukup SAE JA 1011. kalau ini dimaksud bisa kami berikan alamatnya.

Tanggapan 2 – Alvin Alfiyansyah

Dear Mas Aan,

Sebaiknya dibuat study integrated yang melibatkan expert operasi dan maintenance baik dari sisi listrik, rotating, static, proses/facility, instruments, dll.
Expert yang anda temui mungkin hanya akan mampu membuat System Operating Guideline (SOG) dari fasilitas proses oil & gas yang anda maksudkan sebagai bagian dari study yang dimaksudkan, SOG ini bisa jadi guideline SOP, Operating Instruction, Maintenance Manual yang lebih detail kemudian.
Namun untuk membuat operating manual, maintenance manual diperlukan interferensi dan rujukan dari dokumen vendor masing-masing unit peralatan yang dimaksudkan dan hal ini biasanya kemudian akan diintegrasikan dengan system asset maintenance di perusahaan anda.
Selain itu detail Standard Operating Procedure (SOP) dari masing-masing unit peralatan yang dimaksud-pun perlu dibuat dan diverifikasi bersama oleh tim di perusahaan anda yang bersifat lintas disiplin.

Saran saya, jangan juga malu bertanya pada tetangga perusahaan lain yang punya pengalaman di unit alat/operasi spesifik yang mungkin saat ini expert internal perusahaan belum banyak tahu/belum punya detail experience, karena hal ini akan jadi sumber ilmu yang sangat berguna. Hal ini pernah saya sarankan dilakukan untuk project terakhir yang dieksekusi di tempat kami, it works well.
Oiya, PSSR dan Operation Readiness review sudah dilakukan belum utk projectnya agar perspective tim operasi, maintenance vs project team pasti satu arah sampai proyek berjalan dengan lancar ?

Utk software banyak expert system/corporate asset maintenance disini yang bisa bercerita baik ttg SAP, JDE, dll. yang terhubung dengan system asset management, RCM dan hal lainnya.
Saya kira teman2 yang berpengalaman sebagai operation engineer dan project engineer untuk capital project pasti bisa share pengalaman-nya lebih detail. Saya hanya menulis berdasar pengalaman mengawal project HSE utk sebuah capital project sebelumnya.

CMIIW, dan mohon koreksinya.

Terimakasih & Wass,

Tanggapan 3 – Alvin Alfiyansyah

Mas Aan,

Mungkin saya sedikit kurang paham maksud pertanyaan anda – mohon maaf, yg lebih anda perlukan adalah study berkaitan persiapan masa konstruksi, instalasi, hook-up, commissioning alias fasa 4 sebuah proyek pada umumnya atau sudah mau masuk tahap operasi / fasa 5 sebuah proyek ?
Jika anda masih di fasa 3 dan mau masuk fasa 4:konstruksi, hook-up, commissioning sebuah proyek maka yang lebih anda perlukan adalah constructability review dimana sisi transportasi, mobilisasi, SIMOPS, cost, hook up & cara konstruksi yg efektif dan efisien akan dibahas disitu – dalam hal ini operatibility dan maintenanability ke depannya bagi fasilitas tsb.-pun akan dilihat terutama untuk system & equipment2 yang kritikal; saya kira utk tahapan ini banyak Project Manager yg experience serta kawan2 EPCI company yang dapat membantu anda. Tentu saja seleksi & risk review hal tersebut perlu dilakukan terutama jika ada metoda instalasi/konstruksi yang spesial yang anda akan lakukan.
Sedang jika anda sudah masuk fasa 4 dan persiapan masuk tahap 5 : operasi, maka mungkin hal yang saya tuliskan sebelumnya dapat membantu anda.

Saya kira lebih banyak expert disini yang dapat membantu anda. CMIIW.

Tanggapan 4 – Dirman Artib

Bidang Operability and Maintainability study adalah bidang keahlian khusus di KL masih dikuasai para ‘orang puteh’. Kebetulan sebuah project yg ada scope Operability and Maintainability study nya, kami sub-cont kan ke sebuah anak perusahaan Shell (yg ada merek ‘solution’ di belakang namanya itu lho). Tapi pada umumnya bidang jasa study ini masih dikuasai ‘Orang Puteh’, di KL belum ada lokal provider, walaupun ada merek lokal resourcenya tetap tentara bayaran ‘Orang Puteh’. Feeling saya di Jakarta juga belum ada lokal resource bidang ini.

Kalau mau tahu beberapa nama company yg punya kapabilitas ini, silahkan hub saya lewat japri, tapi pasti bukan lokal.

Tanggapan 5 – dimastri

Pak Dirman,

kl saya ndak salah anak perusahaan shell yg pake merek solutions itu melakukan study semacam ini jg kadang dibantu software yg sebenernya dijual dipasaran ya, pak? seperti SPARC & TARO. Jd sebenernya bukan mainan baru, dan saya rasa di jakarta jg ada konsultan yg bermain di bidang ini. atau kalau tidak coba lari ke kampus2.

Tanggapan 6 – ROSES-Man

Pak Dirman,

Wah pak, jangan gitu dong…. kok kesannya merendahkan ya? sudah banyak kok perusahaan konsultasi di bidang ini yang made in indonesia sendiri. buktinya di proyek shell, ada import dari indonesia….. Di Indonesia memang tidak begitu terlihat karena proyek2 di bidang ini masih sangat sedikit sekali, bahkan banyak perusahaan yang memang belum sadar apa itu maintainability dan operability…..

*importnya dari kantor saya loh pak……

Tanggapan 7 – Dirman Artib

Wah saya ikut senang pak jika memang ada Indonesian organisation dan resource yang capable di area seperti ini.
Untuk pengalaman saya ini (projectnya masih live), sewaktu kita lihat di dalam Shell supplier list, nggak ada merek local (atau Indonesia Jakarta). Kalau ada merek kita, ya saya usahakan paling tidak RFQ, jelek-jelek saya kan masih punya Jakartaeisme (kalaupun bukan nasionalisme).

Btw.

Kalau tidak keberatan, boleh dong saya di japri tentang info kompetensi dan kapabiliti perusahaan Pak ROSES. Mana tahu ada resource yang saling melengkapi. Sudahkah listed in Shell Supplier List? or PSC Malaysia lainnya spt. ExxonMobile? Petronas? Murphy Oil? KPOC? Nippon Oil? PCPP?

Oh ya…..HFE (Human Factor Engineering) juga kita susah nyari subcont, di KL hanya 1, itupun orangnya juga 1.

Tanggapan 8 – ROSES-Man

Memang secara terpisah, maintainability lebih baik ditinjau pada saat phase desain. oleh karena itu banyak software CAD yang memberikan bantuan apakah peralatan tersebut masuk dalam kategory maintainability. apalagi di pengalaman kerja saya terdahulu, yang tidak seperti fixed plant… yang mungkin masih mudah untuk melakukan modifikasi. namanya maintainability menjadi salah satu bagian penting. jangan sampai peralatan penting yang harus segera direpair, menjadi pekerjaan buang waktu karena posisinya yang susah atau karena alasan-alasan lainnya. tapi kalau plantnya sudah berdiri, kita masih bisa kan melakukan analisis maintainability ini walaupun ya cost-nya pasti besar sekali, belum termasuk cost karena hilangnya produksi ketika plant harus shutdown untuk modifikasi tersebut. saya kira dengan banyaknya metode analisis, hal tersebut dapat dilakukan sehingga dapat dilakukan improvisasi maintenance.

Yang ada di dalam benak saya adalah adakah industri di indonesia (apa saja) yang aware terhadap hal ini?

Tanggapan 9 – Alvin Alfiyansyah

Mas ROSES,

Menarik memang membicarakan maintainability sejak fasa desain atau malah saat mau masuk constructability & installation. PDMS mungkin salah satu software yg dapat membantu permasalah seperti ini, walau dengan CAD biasa juga bisa dilakukan jika si engineer cukup jeli dan paham prinsipnya.

Dalam dunia process safety dan HSE, ada teknik evaluasi facility siting dan layout, biasa diaplikasikan untuk calon fasilitas jadi, tentu saja khusus urusan mobilisasi, transportasi, dan instalasi dapat dirangkum dalam constructability review. Jika cukup waktu dan biaya, mungkin HFE (Human Factor Engineering) dapat sekaligus dilakukan, agar seleksi ruang, luas, bentuk fasilitas, area kerja, termasuk keperluan ruang escape dan rescue sesuai dengan prinsip2 dasar ergonomic. Namun setidaknya prinsip/spesifikasi ergonomic (safety in design) yang umum sebaiknya dipraktekkan untuk fasilitas baru ini untuk menghindari rework yang tidak perlu.

Jika sudah masuk fasa konstruksi, setidaknya ergonomic review/inspection perlu dilakukan ulang sebagai celah melihat kekurangan instalasi terutama berkaitan dengan problem daily maintenance / operation yang tidak perlu terjadi; risk dan mitigasinya disesuaikan dengan kekurangan yang terlihat. Perlu detail run through facility utk ergonomic inspection misal mereview letak valve, handlenya, etc. agar mudah dirawat, diinspeksi, dll.
Menarik melakukannya langsung apalagi harus menimbang hal apa yang mesti diperbuat sebagai mitigasinya karena applied ergonomic berarti human factor approach. Untuk fasilitas existing memang biaya review dan perubahannya menjadi sangat besar, karena itu perlu dipertimbangkan area mana saja yg mungkin diubah dan diperbaiki sesuai kaidah ergonomic.

Dalam dunia manufacturing, saya pernah baca artikel bahwa Toyota melakukan effort luar biasa untuk kaidah safety dan ergonomic bagi pabriknya (ngga tahu bagi pabrik yg ada di Indonesia ya…???), mereka menamakannya sebagai Implementation of Safety Assurance Network.
Saya kira untuk berbagai fasilitas baru – sudah ada yang mengaplikasikan dan aware terhadap hal ergonomic ini, hal-hal kecil di lingkup perusahaan pernah saya lakukan sendiri sebagai internal assessor.

Tanggapan 10 – Roslinormansyah

Pak Dirman yang selalu Art,

HFE memang rumit dari sisi metodology, saya pernah mendengar tim FKM UI pernah develop ini karena ada 1 mahasiswa S-2 OHS yang thesisnya mengenai ini.

Tanggapan 11 – Akh. Munawir

Untuk new facility project, di phase Engineering ada yang namanya HAZID workshop yang salah satu scope-nya adalah me-review Layout. Selain mengenai Escape Scenario biasanya input untuk Operability & Maintability Aspect pun masuk kedalam considerationnya.
Selain itu, rutin setiap ada perubahan/modifikasi diadakan 3D Design review (dgn PDMS Software) untuk memastikan bahwa All layouts are completely OK.