Select Page

Seperti diketahui PTK 007 berorientasi pada harga termurah. Mungkinkah kita dapat produk /service dengan kwalitas baik ? Misalnya mau beli motor atau mobil , karena tidak boleh menunjuk merk maka hanya dibuat spesifikasinya saja missal mobil /motor sekian cc. Ternyata mobil JIANGLING termurah , sedangkan penawar Toyota / Honda kalah. Pilih JIANGLING ? Apa JIANGLING produk terbaik. Contoh di permigasan banyak sekali tapi tidak etis kalau di sebutkan. Terus bagaimana kalau bukan yang termurah diterapkan ? Services / produk nasional yang biasanya lebih murah apa dikeokkan ?

Pembahasan – ‘Sulistiyono’@bwpmeruap

Seperti diketahui PTK 007 berorientasi pada harga termurah. Mungkinkah kita dapat produk /service dengan kwalitas baik ? Misalnya mau beli motor atau mobil , karena tidak boleh menunjuk merk maka hanya dibuat spesifikasinya saja missal mobil /motor sekian cc. Ternyata mobil JIANGLING termurah , sedangkan penawar Toyota / Honda kalah. Pilih JIANGLING ? Apa JIANGLING produk terbaik. Contoh di permigasan banyak sekali tapi tidak etis kalau di sebutkan.

Terus bagaimana kalau bukan yang termurah diterapkan ? Services / produk nasional yang biasanya lebih murah apa dikeokkan ?

B.Tanggapan 1 – Robbin Gunawan

Dear pak,

Sedikit menambahkan, dalam procurement team, biasanya ada klasifikasi tambahan dalam spek tersebut, memang tidak menyebutkan brand, tapi setidaknya karakter dari parts tersebut akan ditekankan pada kriteria bid parts dan angka yang di quote tidak jauh dari oe nya facility owner.
Jarang sekali saat ini saya temukan penguncian spek pada oil and gas company, kalo memang ada kita bisa complain hal ini ke team manager procurement tersebut. Lain cerita jika sudah bpo price agreement atau direct appointment. Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – mbatack

Justru itu kendala utamanya ya pak Sulis.
Sebetulnya memang competitiveness-nya yang kita cari, tetapi kalau terus ngawur banting harga, ya user sendiri yang sengsara akhirnya.
Kenapa misalnya, dalam PTK-007 kita tidak bisa menyebutkan ‘harga termurah dan WAJAR’.

Tanggapan 3 – Riyan Permadi

Tanggapan 4 – Dirman Artib

Sudah saatnya kita tak terlalu berorientasi murah, karena ‘hazard efek’ dari harga murah tersebut adalah tekanan kepada hal-hal yang sangat-sangat strategis bagi si penyedia jasa/produk :

1. Budget untuk training akan tertekan, mgkn zero

2. Budget untuk R&D, study, lesson learnt, innovation akan tertekan, mgkn jadi zero

3. Budget untuk sucession plan akan tertekan.

4. Insentive, bonus karyawan akan tertekan, potensi customer dissatisfaction, karyawan keluar-masuk, memicu high cost for recruitement, supervisor pusing, moral turun, daya saing lemah.

5. Budget untuk peningkatan kesejahteraan (welfare) ‘beyond of safety’ akan tertekan, tunjangan kesehatan, menginap di hotel murah, kalau perlu 1 kamar 3 orang, biaya laundry tak disediakan, googles buram masih dipakai, gloves robek masih, ok, kabel pututs disambung dan ditutup isolasi, etc.

Tapi di sisi lain kita juga tak rela membiayai mahal- mahal para bule-bule penjual omong kosong yang tak punya value. Saatnya kita mengidentifikasi dan mendefinisikan apa yang kita perlukan.
Mungkin memasukkan item-item overhead cost spt. training , mempekerjakan dan melatih fresh graduate, lesson learned, performance insentive adalah hal-hal yang tidak dibebankan kepada cost of production of supplier/service provider. Owner mesti mengambil porsi tanggung jawab agar strategic partnership dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional serta membangun human capital serta kesetimbangan di antaranya akan tetap mempertinggi daya saing nasional. Sudah saatnya regulator merasa ikut bertanggung jawab jika misalnya ada perusahaan nasional sektor migas baik besar atau kecil yang terbunuh, atau rugi besar dalam project migas atau bahkan hanya jalan di tempat alias frustrasi untuk meningkatkan daya saingnya dgn perusahaan asing atau tidak bisa expansi ke international market. Adakah lembaga yang membantu memfasilitasi ini ?

Saya baru saja kembali dari konferensi yg disponsori oleh department industri dan perdagangan Internasional Malaysia 2 hari lalu. Program-program insentive serta langkah-langkah mereka dalam meningkatkan daya saing sektor swasta nasional patut ditiru. Rencana serta implementasi rencana yang terukur, serta mampu dievaluasi akan membawa misi Malaysian 2020 kepada arah yang benar, atau mampu diarah-ulang jika salah. Issue yg menonjol bagi mereka adalah populasi, selain daripada masalah populasi yang jauh lebih kecil dari Indonesia, juga ada issue tentang jumlah perempuan lebih daripada laki-laki, dan trend bahwa partisipasi perempuan yang tertiary education (sarjana) dalam menaikkan GDP mengalami penurunan. Ini disebabkan berbagai hal seperti issue-issue seputar perkawinan, kelurga, melahirkan, masalah anak dll. Mereka sedang memeras otak untuk mensiasati hal-hal ini dgn cara mengidentifikasi pekerjaan yang cocok buat karakter perempuan Malaysia agar merek bisa boosting dari middle income, menjadi high income country.

Share This