Karena coriolis meter adalah mass flowmeter, tera harus dilakukan dengan alat tera massa. Menggunakan volumetric master meter kurang menghasilkan tera yang baik. Pengalaman saya, kita melakukan tera secara batch padasuatu tanki timbang (massa). Fluida untuk tera tidak harus menggunakan fluida yang sama seperti pada proses, bisa menggunakan air pada suhu ambient, karena coriolis force yang dihasilkan adalah karena massa yangmengalir pada coriolis tube dan tidak dipengaruhi fluida, dan juga coriolis meter mempunyai temperature sensor untuk kompensasi. Kalau mau lebih tepat dan yakin, tera dilakukan pada operating temperature proses dengan fluida yang mempunyai flashpoint diatas kondisi tera.

Was : Process Meter

Pembahasan – Waskita Indrasutanta

Saya perjelas saja, yang dimaksud ‘bubling’ dibawah adalah ‘flashing’.

Seperti kita ketahui, Coriolis Meter tidak bisa melakukan pengukuran (terutama non-homogenous) 2-phase flow (liquid & gas); maka dari itu sepanjang coriolis tube tidak boleh terjadi flashing (untuk liquid) atau kondensasi (untuk gas).

Untuk liquid, syaratnya adalah menghindari terjadinya flashing sepanjang coriolis tube. Jadi sebetulnya persyaratan pressure drop diperhitungkan dengan memperhatikan flash point, P dan T dari liquid yang diukur. Karena coriolis tube umumnya mempunyai line size lebih kecil dari pipa, maka pada outlet dari coriolis meter, liquid akan mengalir dari line size kecil ke line size besar dan timbul venturi effect yang bisa mengakibatkan flashing. Hal ini perlu kita perhitungkan dalam merancang aplikasi coriolis meter. Untuk aplikasi gas, kondensasi bisa terjadi pada inlet coriolis meter.

Jadi, menurut saya persyaratan pressure drop rendah tidak menjamin keberhasilan aplikasi coriolis meter. Misalnya saja aplikasi untuk liquid dengan flash point sangat rendah (seperti liquid CO2), flashing tetap saja terjadi; begitu ada flow (pada ambient temperature), maka flashing akan terjadi. Obatnya, kita bisa memasang back pressure regulator pada downstream meter untuk mempertahankan tekanan diatas flashpoint, dibantu dengan thermal insulator atau cooler untuk mempertahankan temperature dibawah flashpoint. Memasang pompa pada downstream meter juga bisa menyebabkan flashing; jadi, transfer pump harus dipasangkan upstream dari meter.

Menggunakan 2 buah coriolis dengan kapasitas 50% secara parallel, menurut saya tidak memecahkan masalah flashing. Kalau kita analisa per individual meter, flashing tetap saja terjadi. Kalau targetnya adalah untuk pressure drop yang lebih rendah (karena keperluan proses), bisa saja kita menggunakan satu unit corilis meter dengan size lebih besar, atau tipe dengan pressure drop rendah (straight tube, atau single Omega / spiral). Pemasangan 2 atau lebih coriolis meter secara paralel, umumnya digunakan apabila kapasitas coriolis meter (dengan kapasitas paling besar) tidak mencukupi, seperti yang terpasang pada Paraxylene plant di Pertamina UP Cilacap.

Tanggapan 1 – Cahyo Hardo

Betul Pak Waskita,

Di lapangan biasanya coriolis dipasang sebelum LCV supaya tidak terjadi flushing, tapi memasang pompa di downstream meter coriolis bisa menyebabkan flashing???

Bukankah pompa juga alergi terhadap flashing sehingga salah satu persyaratannya adalah NPSH available yang harus dipenuhi. Artinya, jikalau pompanya didesain bener, berarti juga tidak akan terjadi flashing di meter coriolis?

Jadi Pak Waskita, saya tidak mengerti hubungannya memasang pompa di dowsntream meter bisa menyebabkan flashing di meter?

Kalau bubbling disamakan dengan flashing, bagaimana fluida yang banyak mengandung dissolve gas, apakah berarti tidak cocok menggunakan coriolis?

Tanggapan 2 – Waskita Indrasutanta

Pak Cahyo benar bahwa pompa alergi flashing, dan design pompa yang benar memperhitungkan hal ini. Sayangnya, designer pompa belum tentu memperhatikan flashing yang mungkin terjadi pada coriolis meter pada upstream pompa, karena venturi effect seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Jadi orang instrument-lah yang harus memperhatikan hal ini. Kalau aplikasi adalah untuk air (water) pada suhu ambient (30 degC), kemungkinan flashing kecil. Perhatikan kata ‘bisa’ (pada penjelasan sebelumnya), dan ‘mungkin’ pada penjelasan diatas.

Justru perbedaan antara ‘bubling’ (homogenous gas bubbles) dan ‘flashing’ itulah yang saya perjelas disini. Dissolve gas (artinya tidak berubah phasa) tidak mempengaruhi pengukuran coriolis meter; homogenous gas bubbles bisa mempengaruhi pengukuran coriolis meter terutama pada cairan dengan viskositas rendah; partially filled coriolis tube pasti akan memberikan hasil yang kacau. Intinya, pada 2-phase (cairan & gas) flow, cairan akan memberikan hammer effect pada coriolis tube, sehingga coriolis force tidak bisa dibaca oleh sensor. Pada cairan dengan homogenous gas bubbles, selama tidak terjadi hammer effect, coriolis meter bisa dipergunakan. Keunggulan coriolis meter dibanding volumetric meter lainnya, gas bubbles yang mempunyai massa kecil, tidak terukur sebagai mass flow, sedangkan pada volumetric flowmeter akan terukur sebagai volume dari product yang diukur.

Tanggapan 3 – Arev Amir

Pak Cahyo,

Coriolis punya aplikasi yang paling luas dibanding semua flowmeter yang ada manapun, jadi kalau kita bicara kasus test separator (crude), pda Coriolis juga tidak ada persyaratan harus 1 psi, yang penting ‘sebaiknya’ dibawah flashing point, namun flashing point sampai toleransi tertentupun masih dapat diterima. Untuk kasus Conoco permintaan 1 psi adalah dari orang proses untuk perhitungan overall sistem. Karena tidak ada standard flashing point pada crude, maka informasi flasihing point dari orang proses diperlukan, agar dapat didisain coriolis dng press drop dibawah falshing point.

Pada dasarnya saya sependapat dng pak Waskita, cuma ada klarifikasi sedikit. Paralel coriolis di pilih karena tidak ada alternative yang lebih besar (ini termasuk keterbatasan coriolis), dan tujuannya untuk memenuhi persayaratan process. Walau kita tetap mesti mempertimbangkan akurasi pada ‘under flow’ dimana didapat press drop sangat rendah, karena turndown ratio coriolis yang lebar, maka masih dapat dioperasikan pada level ini.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: