Select Page

Produksi dari lapangan gas Abadi / Masela adalah 4.5 MTPA (setara Tangguh USD 5M) selama 30 tahun dimulai dari tahun 2016. Kedalaman laut antara 400 – 800 meter. FPSOnya sendiri yang berupa LNG Plant berukuran 500 m (panjang) x 82 m (lebar), dibandingkan Belanak COPI yang panjangnya 300 m. Untuk detailnya bisa melihat dokumen ‘Development of the Abadi Gas Field’ di URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=199&Itemid=42. Disini ada juga dokumen ‘FPSO Costs Database’. Tinggal tambahkan saja biaya untuk drilling, subsea well, flowline, FPSO, dsb akan dapat diperkirakan biaya USD 19.7M kemahalan atau tidak. Ini termasuk pengembangan laut dalam lho yang penuh tantangan.

Pembahasan – Sulistiyono@bwpmeruap

Murahan Cepu development yang hanya USD 2.5 M ya ?

03 /09 /09 14:41:48

Kontan

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyebut investasi blok gas Masela di Laut Timor bakal lebih rendah ketimbang estimasi awal US$ 19,7 miliar.

Tanggapan 1 – firdauzihata

Bukannya rules of thumbnya offshore development selalu lebih mahal daripada onshore? Wajarlah kalau masela lebih mahal…

Tanggapan 2 – Sulistiyono@bwpmeruap

Setuju, memangnya sampai 8x. Produksinya berapa ?Keekonomiannya bgmn ? Kecuali alasan politis ya , untuk menunjukkan Laut Masela adalah wilayah kita.

Tanggapan 3 – firdauzihata

Mas Sulis,

Sekedar sharing pengalaman utk menjelaskan darimana 8x nya.

1. Untuk surface facilities onshore, hanya dibutuhkan wellpad dengan civil work, peralatan bisa disimpan diatas pondasi concrete atau sejenis. Berdasarkan pengalaman saya kisarannya 15-20 MUSD. Sedangkan untuk konvesional offshore (30-75 m ), 1 wellhead platform dengan jacket 4 kaki kisarannya 90-120 MUSD.
Saya kurang tahu karakteristik masela,tp kalau lebih dalam mungkin lebih mahal sebab butuh sistem wet tree, baik TLP atau sub-mersible atau bahkan subsea production system dan FPSO.

2.Untuk drilling rig berlaku perbandingan yg kurang lebih sama. Land rig biayanya 20 KUSD/day atau bisa lebih murah kalo dapet rig cina, sedangkan konvensional jack-up rig sekitar 150 KUSD/day. Biaya bisa lebih mahal kalo butuh submersible atau drill ship.

Untuk masalah ekonomian dan perkiraan produksi, mungkin teman2 EPT BPMIGAS di milist ini bisa bantu. Semoga informasi diatas dapat membantu, sebab dunia migas tantangannya semakin besar. Kita bisa berkaca pada Kasaghan dan shtoksman project yang beroperasi di suhu -15 derajat celcius atau deep offshore project di afrika barat. Thanks.

Tanggapan 4- Admin Migas

Produksi dari lapangan gas Abadi / Masela adalah 4.5 MTPA (setara Tangguh USD 5M) selama 30 tahun dimulai dari tahun 2016. Kedalaman laut antara 400 – 800 meter. FPSOnya sendiri yang berupa LNG Plant berukuran 500 m (panjang) x 82 m (lebar), dibandingkan Belanak COPI yang panjangnya 300 m. Untuk detailnya bisa melihat dokumen ‘Development of the Abadi Gas Field’ di URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=199&Itemid=42. Disini ada juga dokumen ‘FPSO Costs Database’. Tinggal tambahkan saja biaya untuk drilling, subsea well, flowline, FPSO, dsb akan dapat diperkirakan biaya USD 19.7M kemahalan atau tidak. Ini termasuk pengembangan laut dalam lho yang penuh tantangan…

Tanggapan 5 – Sulistiyono@bwpmeruap

Pak Firdauzi

Thank responsenya, memang disadari bahwa pengembangan discovery di offshore selalu lebih mahal ketimbang onshore, apalagi kalau lautnya dalam.Tentu yang 8x besarnya biaya dibanding dengan biaya pengembangan blok Cepu ada hitung2annya.Saya kurang yakin rekans BP Migas bakal muncul mengeluarkan pendapatnya di milis ini.

Tanggapan 6 – Admin Migas

Ada dilema bagi rekan-rekan BP Migas untuk bergabung dalam diskusi seperti ini, meskipun mereka memonitor diskusi ini dengan seksama. Bila sekarang Pak Sulis bekerja di BP Migas, bapak mungkin akan menghadapi dilema yang sama. Misalnya untuk diskusi gas Masela ini, BP Migas menjelaskan secara detail dan terinci mengenai kemungkinan pembangunan LNG Plant di pulau Saumlaki, percaya lah dalam beberapa bulan mendatang, pulau ini sudah banyak yang membeli tanahnya untuk spekulasi (seperti yang sudah terjadi di Cepu). Saya kebetulan tahu sedikit-sedikit mengenai hal ini karena di berbagai kesempatan selalu mengkonfirmasikan beberapa diskusi di Milis Migas Indonesia ke rekan-rekan di BP Migas. Kadangkala diskusi di balik layar ini lebih seru dari diskusi di milis.

Tanggapan 7 – Amirsyah Pohan

Bisa juga bangun FPSO for LNG/LPG .

Tanggapan 8 – Sulistiyono@bwpmeruap

Benar Pak Budhi, saya juga tidak akan mengeluarkan sembarang pernyataan atau terlibat dalam iskusi seperti ini. Oleh karena itu saya tidak yakin BP Migas akan nimbrung didiskusi ini. Selamat kepada Indonesia termasuk kita semua yang telah menemukan Masela Prospect.

Tanggapan 9 – Rovicky Dwi Putrohari

Murahan Cepu development yang hanya USD 2.5 M ya ?

Kalau Cepu murahan … (maksudte lebih murah kan ?) Kenapa mengeluh soal harga tanah yg tergusur ? Barangkali emang investasi minyak lebih murah …. ketimbang Century :).

Seringkali kita ini hanya melakukan ‘contrasting’ bukan ‘comparing’, kecenderungan mencari yang jauh berbeda ketimbang membandingkan yang setara. Problem ‘contrasting’ ini lebih sering akan menjebak dalam memutuskan ataupun dalam diskusi yang berkepanjangan. Argumentatif, tidak solutif, dan ‘wasting time’.

Kita tidak mungkin membandingkan dua hal yg sudah jelas berbeda dari sononya.

Share This