Engineering work harus dilaksanakan oleh sebuah team yang memiliki kompetensi teknis dan management yang baik. Kemampuan management mungkin tidak terlalu sulit. Develop experties membutuhkan waktu yang cukup lama dan harus sistematis karena dibutuhkan simultant effort untuk membuat orang ‘kerasan’ sebagai ‘tukang’ di mana ‘tukang’ tersebut harus bisa keep update knowledge mereka melalui On Job Experience, training yang terarah, aktif terlibat dengan komunitas bidang yang digeluti terutama dalam skala yang lebih internasional (bukan jago kandang) dan yang paling penting lagi kesejahteraan (penghasilan dan appresiasi) terhadap para ‘tukang’ ini bisa sejajar (kalau perlu lebih) dari yang terlibat di jajaran management.

Tanya – Rudianto Rimbono

Mohon share pengalaman dari kawan2 anggota milis, khususnya dari PSC dan konsultan engineering.

Pada tahun2 belakangan ini kiprah dari temen2 konsultan engineering nasional spt-nya sdh tidak terlalu menggigit.
Banyak konsultan nasional yg gugur pada praqualifikasi dari tender proyek2 design (FEED) offshore platform, baik wellhead platform ataupun production platform.
Koq sepertinya kita balik ke era awal 80-an, padahal pada era 90-an sdh banyak konsultan nasional yg bisa mengambil peran.

Mohon masukkan & sumbang saran.

Tanggapan 1 – pudjo sunarno

Pak Rudi,

Apa yang anda tulis mengenai kemampuan konsultan engineering nasional pada khususnya dan project management pada umumnya benar sekali dan perlu dipikirkan bersama untuk merubah kondisi tersebut.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebenarnya yaitu dari sisi Pemberi Kerja, sisi Pembuat Aturan dan dari sisi Konsultan Nasional itu sendiri.

Apabila ketiga komponen itu ‘MAU’ memajukan konsultan nasional maka saya yakin. Peranan Konsultan Nasional bisa lebih ditingkatkan.

Kebetulan hampir 15 tahun saya mengamati hal ini.

Tanggapan 2 – eko.pramono@exxonmobil

Benar sekali. Tambahan satu lagi : Peran Assosiasi Konsultan Nasional (Inkindo ??) dan assosiasi lain yg terkait (Gapenri, Gapensi, etc.).

Tanggapan 3 – G, Edwin Dewayana

Mas Rudy,

Masukan ke Mas Rudy ini sebaiknya japri atau di-posting ? Saya kawatir kalau diposting kadang-kadang menimbulkan salah pengertian meskipun maksudnya tadinya positif.

Tanggapan 4 – Arief Rahman T

Pak Rudianto,

Menurut saya yang namanya engineering work harus dilaksanakan oleh sebuah team yang memiliki kompetensi teknis dan management yang baik. Kemampuan management mungkin tidak terlalu sulit, lha wong orang Indonesia paling suka kalau disebut sebagai jajaran ‘management’. Kemampuan engineering yang menurut saya gampang-gampang susah !!

Develop experties membutuhkan waktu yang cukup lama dan harus sistematis karena dibutuhkan simultant effort untuk membuat orang ‘kerasan’ sebagai ‘tukang’ di mana ‘tukang’ tersebut harus bisa keep update knowledge mereka melalui On Job Experience, training yang terarah, aktif terlibat dengan komunitas bidang yang digeluti terutama dalam skala yang lebih internasional (bukan jago kandang) dan yang paling penting lagi kesejahteraan (penghasilan dan appresiasi) terhadap para ‘tukang’ ini bisa sejajar (kalau perlu lebih) dari yang terlibat di jajaran management.

Teman saya (bukan saya lho …) pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja di sebuah contractor yang terlibat sebagai MAIN contractor untuk proyek besar dan menjadikan Contractor International sebagai partner dengan tujuan transfer of technology. Penunjukan contractor local ini tentu saja dengan campur tangan ‘pemerintah’. Argumentasi dipermukaan-nya sangat valid :
That’s the only way to gain experience and transfer of knowledge and to compete with international contractor !!!

Sayang seribu sayang, opportunity yang demikian bagus dari pemerintah dijalankan tidak sebagaimana semangat awalnya. Karyawan yang sudah sudah mulai gain experience ini tidak lagi di maintain secara layak dan dianggap sebagai ‘asset’ perusahaan. They just an ordinary engineer and not deserve a better appreciation !!! Paling-paling yang dapat reward jajaran ‘management’.
Kenapa terjadi ?? Karena perusahaan punya asumsi bahwa masih ada ribuan engineer baru di luar yang siap menggantikan mereka kalau mereka keluar. And that’s what happen. Tidak ada target yang bisa dibaca secara riil bahwa contractor nasional/lokal punya keseriusan untuk compete. Mereka tidak merasa bahwa knowledge dari experience tersebut sebagai asset. Buktinya, begitu knowledge itu sudah terbawa keluar bersama sang karyawan perusahaan-nya cuek-cuek aja kok. Business as usual.

Kemana para engineer tersebut pada keluar ?? Ke contractor lain yang bisa menawarkan gaji ‘sedikit’ lebih tinggi walaupun experience yang akan dia dapat mungkin jauh lebih buruk. Ini kan ironis. Atau yang paling popular ke PSC yang gajinya jauh lebih baik.

Kalau hari-hari ini Gapensi, Ikatan Kontaktor Nasional atau apapun namanya mencoba menaikkan issue ini sebaiknya mereka mengaca terlebih dahulu pada diri mereka sebelum teriak ke sana kemari atas nama NASIONALISME.

Mesti ada parameter yang terukur untuk memvalidasi claim (terutama dalam waktu berapa lama dan kemampuan seperti apa yang harus dicapai) bahwa tujuan-nya untuk memberdayakan konsultan/kontraktor local.

Dan terakhir sekali, jangan menganggap bahwa penawaran kontraktor/konsultan lokal lebih murah dari International Contractor/Consultant mesti membayar karyawannya jauh lebih murah !!! Kenapa ??? Biar angin yang menjawab. Ha .. ha … ha …

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: