Balon meledak ini sering terjadi karena ketidak-tahuaan user dalam menggunakan gas untuk mengisi balon. User lebih suka memakai gas Hidrogen (H2) yang sangat mudah terbakar dibanding dengan memakai gas Helium (He). Selisih harga yang jauh berbedalah yang menyebabkan user sering kali memilih Hidrogen dengan mengesampingkan faktor keselamatan. Setahu saya asosiasi produsen gas di Indonesia (Samator, BOC, UAP, AL dll) sudah melarang penjualan Gas Hidrogen untuk balon udara. User yang minim pengetahuan tentang aspek resiko dan keselamatan hanya memperhitungkan faktor harga ketika memilih Hidrogen. Ini yang menjadi masalah.

Pembahasan – Ahmad Mujib

Balon raksasa yang meledak di Jl Jenderal Sudirman, Minggu (4/10)

Minggu, 4 Oktober 2009 | 14:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Awalnya, syuting iklan Telkomsel itu berlangsung lancar. Ada dua versi iklan yang syutingnya dilaksanakan di kawasan Jl Jendral Sudirman, Jakarta, Minggu (4/10), yaitu versi anak muda dan orangtua. Rumah produksi pembuat iklan menyediakan dua jenis bola, besar dan kecil.

Hoki, salah seorang pemain yang terlibat dalam pembuatan iklan ini, menuturkan, bola merah yang kecil digunakan untuk pembuatan iklan versi anak muda. Sementara, yang besar untuk versi orang dewasa. ‘Kalau saya (ikut pembuatan iklan) yang anak muda. Berhasil,’ tutur Hoki yang ditemui di RS Pusat Pertamina. Ia tidak ikut menjadi korban.

Menurut Hoki, pengambilan gambar pagi tadi adalah pengambilan gambar kedua dari iklan yang melibatkan sekitar 300 figuran dan 10 orang pemeran utama. Usai pengambilan gambar untuk versi anak muda, dilanjutkan dengan versi orang tua.

‘Jadi kan bola diturunin dari atas (fly over), terus di bawah talen (pemain) seperti main voli. Syuting pertama gagal, kelewatan bolanya. Terus ditarik lagi bolanya. Kegesek aspal. Syuting kedua gagal lagi. Nah, pas ketiga meledak. Keluar gas biru, bukan api. Sepertinya gas di dalam balon memuai karena tertekan,’ tutur Hoki.

Gas biru yang keluar dari dalam balon lantas melukai sejumlah pemain yang sedang mengelilingi bola. Mereka mengalami luka bakar. Tercatat 49 orang terluka dan dirawat di RS Mintoharjo dan RS Pusat Pertamina. Sebanyak 15 orang harus dirawat inap karena mengalami luka bakar serius.

C12-09

Dapatkan artikel ini di URL:

http://www.kompas.com/read/xml/2009/10/04/14251748/

Syuting.Pertama.Gagal…Kedua.Gagal..Ketiga.Meledak

Tanggapan 1 – Akh. Munawir

Klo mau aman Gas-nya pake Nitrogen donk..

Tanggapan 2 – ahmadrs@technip

itu gas biru bukannya artinya apinya biru (i.e. hidrogen terbakar)?

Tanggapan 3 – Wisnu Purwanto

Beritanya kurang jelas,

Namun kalau boleh menebak – kemungkinan mereka mengisi balon dengan H2 agar bisa terbang.

Kalau di isi nitrogen bolanya tidak bisa terbang karena perbedaan density dengan udara (+/- 70% N2) yang sangat kecil.

Nampaknya ketika terjadi gesekan dengan aspal timbul percikan api karena listrik static yang menyebabkan balon pecah dan gas terbakar.

Kalau nggak ada ignition biar H2 ngga akan meledak/terbakar.

Untuk lebih aman sebaiknya sih pakai He – kalau banyak yang bocor paling suaranya jadi cempreng semua.

Tanggapan 4 – Onei Drive

Setahu saya hydrogen itu hanya kebakar sebentar tapi meledak keras…

Kalau api biru dari balon kemungkinan besar dari gas Helium yang terbakar karena terkena loncatan listrik statis.

Tanggapan 5 – Heppy Siswantadi

Klo pke nitrogen mungkin ga bisa terbang pak, di atmosfer ini saja nitrogennya sudah 80%.

Tanggapan 6 – Akh. Munawir

Infonya mmng ga komplet,

Dari berita sebelumnya, ada komentar bahwa balon meledak karena bergesekan dengan Aspal jalan .. saya membayangkan balonnya mmng bukan untuk diterbangkan tetapi ‘dimainkan’ di ground level.
Ya udah tau klo diisi N2 ga bisa terbang….but not flammable I mean.

Tanggapan 7 – Rawindra Sutarto

jangan2 balon tsb diisi gas karbit …. seperti amunisi meriam bumbung kita dulu di kampung, murah meriah tapi heboh.

Beberapa thn y.l. juga terjadi kecelakaan fatal balon gas di dekat sekolah (daerah Tanah Kusir?). Penampilan si tukang balon, bersepeda dgn sepasang botol gas 25kg di boncengannya sangat berkesan bagi anak2 SR jadul.

Semoga musibah tsb tidak berulang. Di mana kita bisa mendapat info hasil investigasi pak pulisi ? Kan perlu lesson-learnt, tidak sekedar mendengar korban telah dirawat, digantirugi dengan wajar berikut permintaan maaf panitia balon.

Tanggapan 8 – Nur H

Kejadian seperti ini sering terjadi karena ketidaktahuaan user dalam menggunakan gas untuk mengisi balon.
User lebih suka memakai gas Hidrogen (H2) yang sangat mudah terbakar dibanding dengan memakai gas Helium (He).

Selisih harga yang jauh berbedalah yang menyebabkan user sering kali memilih Hidrogen dengan mengesampingkan faktor keselamatan.
Setahu saya asosiasi produsen gas di Indonesia (Samator, BOC, UAP, AL dll) sudah melarang penjualan Gas Hidrogen untuk balon udara.

User yang minim pengetahuan tentang aspek resiko dan keselamatan hanya memperhitungkan faktor harga ketika memilih Hidrogen. Ini yang menjadi masalah.