Kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam: 1. Kelas A: Bahan mudah terbakar padat bukan logam (kertas, plastik, kayu, pakaian sejenisnya) – Alat pemadam menggunakan air; 2. Kelas B: Bahan cair mudah terbakar (bensin, solar, minyak tanah sejenisnya)- Alat pemadam menggunakan bahan kimia kering (CO2, busa); 3. Kelas C: Listrik bertegangan tinggi dan bahan gas (gas alam, gas LPG)- Alat pemadam menggunakan bahan kimia kering (CO2); 4. Kelas D: Logam mudah terbakar, magnesium, alumunium, kalium, dll- Alat pemadam menggunakan alat pemadam spesial.

Tanya – Cahyo Laksono Hadinoto

Selamat Siang Rekan2 Migas Indonesia,

Mau numpang tanya, jikalau terjadi kebakaran yg ditimbulkan oleh bahan bakar Solar, tipe fire extinguisher apa yg kira2 paling tepat untuk diaplikasikan?

Apakah sistem hydrant (air) cukup efektif untuk aplikasi?

Mohon informasinya, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Tanggapan 1 – Eko Prasetyo

Pak Cahyo,

Seingat saya dry chemical atau kalo kecil karung basah, kalo air malah tambah gede apinya, CMIIW.

Tanggapan 2 – sayid@asmo

Pak Cahyo, besar apinya seberapa? Kalo kecil diguyur pakai air (bukan hydran) juga sangat-sangat efektif. Kalau api besar, FE tunggal pasti sangat-sangat tidak mempan karena kemampuannya yang terbatas.
Dan kalau kebakarannya murni kebakaran solar ataupun material kelas B lain menggunakan Air ‘bisa lebih membahayakan’.
Fungsi air dalam terknik pemadaman api adalah menghilangkan unsur panas. Dengan teknik yang tepat AIR juga bisa digunakan untuk mengghalangi O2.
Paling tepat menggunakan Foam, CO2, dan DC yang berfungsi memutus makanan api, O2.

Attachment : ATT00506

Tanggapan 3 – David Atmodjo

Nyumbang ide saja,

Mungkin yg paling tepat adalah FX dengan agent Foam (AFFF). Dry chemical juga bisa diaplikasikan.

Tanggapan 4 – David Atmodjo

Maaf ada yang terlewat,

Kalau pemakaian Hydrant air sepertinya malah membahayakan (tidak direkomendasikan).

Tanggapan 5 – Rahadian Saja

coba lihat di www.fireserviceplus.com

Tanggapan 6 – Akh. Munawir

Pak Cahyo,

Kalau Water Hydrant (Water Extinguisher) fungsinya hanya akan mendinginkan tank/vessel/equipement dan tidak effektif memadamkan diesel fuel pool fire, karena air lebih berat dari diesel fuel maka ketika disiramkan justru ‘menyelam’ dibawah diesel fuel dan tidak memutus rantai dari segitiga api.

Oleh karena itu, direkomendasikan untuk menggunakan Fire Extinguisher dengan kelas B, sebagai contoh anda bisa menggunakan 3% AFFF Foam Solution Extinguisher.
Lalu tinggal memilih berdasarkan Philosofi pemadamannya, apakah menggunakan Portable FE, atau Wheeled FE atau Fixed FE.

Walaupun singkat tetapi semoga membantu,

Tanggapan 7 – ido

Mas Cahyo, nambain pak Munawir,

Kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam:

1. Kelas A: Bahan mudah terbakar padat bukan logam (kertas, plastik, kayu, pakaian sejenisnya)

Alat pemadam menggunakan air

2. Kelas B: Bahan cair mudah terbakar (bensin, solar, minyak tanah sejenisnya).

Alat pemadam menggunakan bahan kimia kering (CO2, busa)

3. Kelas C: Listrik bertegangan tinggi dan bahan gas (gas alam, gas LPG).

Alat pemadam menggunakan bahan kimia kering (CO2)

4. Kelas D: Logam mudah terbakar, magnesium, alumunium, kalium, dll.

Alat pemadam menggunakan alat pemadam spesial

Tanggapan 8 – A.E. Nugrahadipura

Menambahkan saja, refer ke NFPA 11 dan 30.

Tanggapan 9 – Cahyo Laksono Hadinoto

Terima kasih kepada Rekan2 Migas Sekalian yg telah memberikan penjelasan2 secara detail.

Dari input2 yang telah disampaikan, secara ringkas saya bisa menyimpulkan bahwa halnya penggunaan Sistem Hydrant (air) tidaklah dianjurkan untuk pemadaman kebakaran akibat bahan bakar Solar. Salah satu cara yg baik untuk menanggulangi kebakaran tersebut adalah penggunaan pemadam api (Apar) Kelas B yg biasanya berupa foam ataupun bubuk kering.
Concern atau yg menjadi pemikiran saya selanjutnya adalah, jikalau kita akan meng-install Tank Storage (solar) dengan kapasitas 300.000 – 500.000 liter, kira2 berapa besar kita harus mempersiapkan Alat Pemadaman Kelas B tersebut? atau mungkin sistem pengamanan apa yg musti dipersiapkan disana? Standard apa yg bisa menjadi acuan disini?

Mohon Informasi lebih lanjutnya,

Terima kasih dan salam hangat,

Tanggapan 10 – sayid@asmo

Pak Cahyo, boleh tau type tank AST / UST? Jika berencana mempersiapkan emergency preparedness, scheme yang disusun untuk kedua type pasti berbeda.
Untuk preparedness & respond kebakaran, pada prinsipnya FE hanya hanya digunakan untuk pemadaman awal. Menurut pemahaman saya, FE CO2 > 50 Kg / Foam > 30 Kg (kelas diatas 40 B CMIIW), cukup. Untuk pemadaman lanjut, harus dipersiapkan emergency preparedness dengan memanfaatkan damkar kawasan setempat.

Tanggapan 11 – Akh. Munawir

Menggunakan Damkar setempat bisa saja, tapi perlu diinspeksi dulu tuh apa yang mereka punya dan apa yang mereka bisa.
Cek juga lokasi Damkar setempat lokasinya jauh atau tidak, berapa lama after dicalling mereka bisa datang? apakah jalanan dari Damkar ke site kita lancar,?

Apa mereka juga punya Foam Extinguisher yang banyak seperti kebutuhan kita, atau malah cuma punya-nya cuma Water Extinguisher doank.

So, be carefull

Tanggapan 12 – Ranggi Ragatha

Halo Pak, wah kalau ini sih udah kerjaan Safety Engineer, mungkin yang udah NFPA Certified bisa bantu. Kalau saya sebagai orang biasa ikut nambahin saja.

Untuk tambahan, Silahkan refer ke :

NFPA 14 untuk instalasinya

ANSI/UL 8 1995 untuk kualifikasi foam-nya

Untuk documentnya tanya saja sama Mbah Google, banyak versi gratisnya kok.

Tanggapan 13 – Roslinormansyah

Mbak Rara dan mas Cahyo

Sedikit koreksi aja ya…yang betul itu NFPA 16….Klo NFPA 14 itu untuk standpipe dan jose. Mungkin juga sekalian ngintip NFPA 30. Paling bagus sih melakukan QRA dulu baru tentuin semuanya yang terkait denga Fire dan Explosion Preventive & Corrective Measures (seperti usul abah Munawir).

Tanggapan 14 – Ranggi Ragatha

Pak Rosli,

Maaf salah ketik jadinya NFPA 14 harusnya NFPA 16.

Tanggapan 15 – Akh. Munawir

Pak Cahyo,

Wah kalau dijawab semua jadi project neh…he3x.

Untuk menyelesaikan case ini, masih banyak input yang dibutuhkan dan hanya data dari kapasitas tank tidaklah cukup,

Contoh input yang dibutuhkan dari seorang Safety engineer sbb:

1. Berapa kapasitas tank? dan berapa jumlahn tank?

2. Apakah ada Bund yang mengelilingi tank? berapa tingginya dan berapa besar kemampuannya menahan tumpahan diesel?

3. Apa saja type FE yg akan digunakan? dan berapa banyak? bagaimana Operationnya?

4. Tumpahan akan di drain kemana? it’s normally open drain atau closed drain?

5. Bagaimana Prevailing Wind-nya?

6. Apakah ada access untuk kendaraan roda empat ke lokasi?

7. Bagaimana Access FE dari luar bund menuju dalam bund, apakah ada access ramp?

selebar apa ? bagaimana slope-nya?

8. Bagaimana keyplan-nya?

.

.

dll.