PD meter cukup reliable untuk digunakan sebagai custody meter untuk solar (dengan asumsi liquidnya bersih). untuk masalah kompensasi Temperature, pada PD Meter biasanya juga dipasang ATG (Atomatic Temperature Gravity, terpisah dari PD Meternya). ATG ini yang akan distandarisasi dengan jadual tertentu oleh Goverment.
Kalau standard pakai API MPMS Chap. 5 sect. 2 ….cmiiw, kecuali clientnya punya standart sendiri.

Tanya – Ratih Kusumawati

Dear Rekan2 Mailist

Mohon pencerahan untuk metering (PD meter) pada solar (custody transfer) apakah ada standart khusus yang digunakan di indonesia (pertamina)?

Megingat perbedaan temperature sangat berpengaruh terhadap volume dari solar?

Terima kasih sebelumnya atas informasi yang diberikan.

Tanggapan 1 – Triez

Ibu Ratih,

Ada,bu..Sebenarnya bukan hanya Solar, mungkin PKS ( Premium, Kerosine, Solar ) atau others ada standart khusus dari pertamina,klo mau merefers ke Pertamina standard,tapi kalau tidak ada mending ibu liat di API MPMS 5 sec. 5.1 klo tidak salah,karena pertamina standard sendiri mengacu pada API.

Saya pernah lihat di database migas indonesia juga ada, lebih simple dan pemilihan dimana kita harus pake PD dimana harus pake Turbine.

Coba aja diliat2 dulu2,bu..Pak budhi lengkap dech refrensinya :).

Tanggapan 2 – Ratih Kusumawati

Ibu Triez

Terima kasih masukkannya bu…

Sekarang ini client saya menggunakan Turbin meter u/ custody meternya, namun ada kendala di temperature. Ketika dia loading truck dari Depo pertamina temp solar 42 C, namun ketika sampe di . SPBU temp turun menjadi 30 C (60 KM), dari perbedaan temp tersebut pasti volumenya berkurang, jadi SPBU rugi karena proses jual beli dlam volumetric. untuk kasus seperti ini, apakah ada standart temperature tertentu yang dijadikan acuan, karena setahu saya, di DEPO hanya ada turbine meter tidak ada kompensasi temperature. Apakah bisa untuk kasus seperti ini Pihak DEPO dan SPBU menggunakan temperature reference tertentu?

Tanggapan 3 – Triez

Ibu Ratih,

Mohon maaf sebelumnya..tapi saya bukan ‘BU’ tapi ‘PAK’ ato ‘MAS’ 🙂

Setahu saya klo di depot masih pake standard ref. densitu 15 Derajat C, untuk konversinya

sendiri ada di Tabel 52,53,54,56,57 ASTM IP D.1250.

Mohon klo ada yg lebih update.

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 4 – Ratih Kusumawati

Mas WW

Pernah menggunakan Coriolis mass flow untuk aplikasi solar?

kalau menggunakan Coriolis mass Flow untuk perhitungan volumetric,
temp di setting brp?

Tanggapan 5 – Si_WW

Kabar baik bu.

Untuk penggunaan coriolis guna custody transfer solar aku belum pernah tahu, kalo menurutku terlalu mewah he he he, tapi juga tergatung cliennya sih.
coriolis sepertinya tidak mengenal setting temperatur, dia bisa menerima temp. berapa saja(sesuai spec sheetnya ya) dan kemudian mengkalkulasi ke satuan volumetric/d /h (kalo yang ini mungkin ada yang bisa nambahin, monggo….)

Untuk masalah beda suhu penjualan karena transfer, mungkin bisa mengkaji kembali sales agreement nya, pada suhu berapa solarnya terkirim, dengan point penjualan di meter custody produsen ato pada meter kustomer. seharusnya hal seperti itu sudah diatur pada awal awal pembuatan sales agreement nya.

Tanggapan 6 – Weby

Mbak Ratih,

Wah wah wah… jual beli bahan bakar minyak hari gini kok ga pakai temperatur standar ini sama juga bohong mbak. Turbine meter mah cuma mengukur volume dalam keadaan aktual (operating condition) dan tidak langsung jreeeng jadi standar volume. Seharusnya dihitung dalam temperatur standar (15 degC atau 60 degF, tergantung kesepakatan penjual dan pembeli). Jelas saja volumenya akan menyusut atau memuai, tergantung temperatur solarnya. Biasanya orang menyebutnya faktor koreksi volume karena pengaruh temperatur. Silahkan merujuk ke API MPMS 11.1 mengenai volume correction factor dari fluida hidrokarbon. Edisi yang terbaru sudah tidak menggunakan tabel lagi, namun sudah dalam bentuk algoritma perhitungan.

Meski demikian menggunakan kompensasi temperatur ini juga tidak lantas jadi jaminan tidak ada perbedaan pengukuran volume. Perbedaan itu tetap ada lho. Pengalaman kawan saya mengawasi pembongkaran/pemuatan bahan bakar solar selalu terjadi selisih dalam volume meskipun sudah banyak faktor koreksi yang diterapkan. Yang paling konsisten sebenarnya adalah satuan berat mbak. Mau volumenya seberapa saja, beratnya tetap sama tho? Makanya sering kita dengar para pelaut kalau membicarakan jumlah bahan bakar kapal mereka dalam satuan berat alih-alih menggunakan satuan volume.

Berhubung mbak Ratih sudah nyentil2 Coriolis, sebenarnya nyambung dengan penjelasan saya di atas. Pengukuran dasar coriolis adalah pengukuran massa. Produk coriolis tertentu malah pengukuran densitas dan temperaturnya sudah embedded. Jadi bisa langsung mengukur laju alir volumetrik dalam keadaan standar (faktor koreksi bisa di set ke API MPMS 11.1) didalam transmitter-nya.

Coriolis meter adalah salah satu dari sekian banyak alternatif pengukuran. Silahkan ditimbang-timbang untung ruginya dengan alat ukur lainnya.

Demikian dari saya. Kurangnya mohon ditambahi, lebihnya mohon disusuki…

Tanggapan 7 – Si_WW

PD meter cukup reliable untuk digunakan sebagai custody meter untuk solar (dengan asumsi liquidnya bersih). untuk masalah kompensasi Temperature, pada PD Meter biasanya juga dipasang ATG (Atomatic Temperature Gravity, terpisah dari PD Meternya). ATG ini yang akan distandarisasi dengan jadual tertentu oleh Goverment.
kalo standart pakai API MPMS Chap. 5 sect. 2 ….cmiiw, kecuali clientnya punya standart sendiri.

Tanggapan 8 – Triez M

Wah,pak,klo dibilang ATG di Pertamina apalagi istilahnya digabung sama temperatur dan lainnya, tar salah2 dikira ATG ( Automatic Tank Gauging) di tanki untuk level, karena di ATG sendiri masih berhubungan sama temperature walaupun tidak langsung tapi kalkulasinya masih melihat TT . Di pertamina ATG dikenal dengan sebutan Automatic Tank gauging, jarang disebut Automatic Temperature Gravity walaupun itu ada di metering seperti yg bapak bilang.

Hanya meluruskan,pak..biar jelas saja karena yg bersangkutan berhubungan dengan Pertamina.

Tanggapan 9 – Si_WW

Matur Suwun pak atas koreksinya, mungkin di beberapa dokumen menyebutnya menjadi ATC (C for compensation).

Tanggapan 10 – suprianto suprianto

Numpang nibrung barang kali bisa share ide.

Kalu pakai corriolist saya kira terlalu mewah, apalagi kalu hanya untuk keperluan retail.

Saya kira yang ada sekarang (turbine meter) sudah cukup untuk keperluan jual beli, hanya saja masalahnya temperatur operasi yang belum dimasukan sebagai variable untuk kompensasi perhitungan volume. Bisa saja kalau mau ditambahkan P&T compensation kedalam system existing & computer akan melakukan perhitungan. Jangan -jangan memang disengaja untuk cari untung ha ha ha ha?

Sebenarnya ada cara yg paling simple yaitu dengan ditimbang (weight bridge), disamping berpatokan pada hasil pengukuran volumetrik juga ditambahkan 1 lagi dengan ditimbang, jembatan timbang sudah lazim dipakai untuk acuan jual beli.