Untuk beralih ke oil n gas kemungkinan income turun dari sebelumnya, jadi lebih menitik beratkan gaji atw terjun ke oil n gas-nya. Kalo menitik beratkan pindah jalur, kemungkinan tetap menerima walau income turun tetapi nantinya berharap lebih professional untuk mendapatkan salary lebih tinggi bahkan tertinggi dalam sejarah pengalamannya bekerja (tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai pegangan, bergantung skill, professionalisme dan keadaan yang lain…tetapi rata-rata demikian adanya).

Tanya – uci20032000

Milister,

Sy ingin menambahkan sdkit lagi tentang fenomena pekerja non migas yg ingin ke migas.

Memang beberapa perushaan lebih memilih fresh grad karena salary sangat negotiable dan lebh mudah dibentuk.

Utk yg sudah terlanjur di bidang non migas dan ingin ke migas, belum tentu salary nya mahal. Jadi maksud sy seharusnya yg mau me rekrut tanya dulu ke pelamar yg berasal dari non migas berapa yg diminta gaji nya. Mungkin terkadang recruiter sudah ber asumsi pasti pelamar dari non migas ini minta gaji besar karena pengalamannya. Padahal blm tentu demikian. Bahkan ada yg demi ke migas, rela turun gaji.

Tanggapan 1 – Urip Sedyowidodo

kenapa disebut ‘pindah jalur’?

itu mungkin berarti: Pindah Jenis Industri nya.

tapi kalau berpindah2 kantor dengan berganti2 jenis Industri nya, ada 2 pengertian lagi:

1. tetap spesialisasi ( contoh: tetap pada fungsi Finance Accounting; tetap sebagai engineer bidang maintenance )

2. pindah spesialisasi ( contoh: dari Warehousing ke Sales Support; dari Manufacturing-QC ke HSE)

Yang terkait no.1, bisa dikatakan tidak ‘pindah jalur’, karena ybs berdedikasi thd ‘profesi’ tetapnya dimanapun, positifnya:

a. gaji bisa naik di tempat baru

b. pengalaman bertambah luas

Yang terkait no.2, bisa dikatakan masuk kategori ‘pindah jalur’, positifnya:

a. pengalaman bertambah luas

b. menemukan spesialisasi yg lebih pas di tempat baru

Tanggapan 2 – Bambang Supriyadi

Saya sependapat, bahwa untuk beralih ke oil n gas kemungkinan income turun dari sebelumnya…

jadi lebih menitik beratkan gaji atw terjun ke oil n gas-nya….

Kalo menitik beratkan pindah jalur, kemungkinan tetep menerima walau income turun tetapi nantinya berharap lebih professional untuk mendapatkan salary lebih tinggi bahkan tertinggi dalam sejarah pengalamannya bekerja (tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai pegangan, bergantung skill, professionalisme dan keadaan yang lain…tetapi rata-rata demikian adanya).

Namun tidak bisa dipermasalahkan juga jika menitik beratkan income, bisa jadi karena tanggungan hidup sekarang memang sudah tinggi, dan income pertama yang lebih rendah di tempat kerja oil n gas tidak mencukupi untuk tanggungannya yang sekarang ini…sehingga menunggu dan terus menunggu untuk mendapatkan income pertam di oil n gas yang sama atw lebih tinggi dari income saat ini.

Mohon ma’af jika tidak berkenan, ini hanya opini saya sendiri yang pernah mencicipi rasanya mendapatkan income yang turun drastis saat pertama kali terjun di oil n gas company.

Tanggapan 3 – harry alfiyan

Dear Kang Uci,

Saya merasa sependapat dengan pandangan seperti ini, karena banyak faktor pendorong pekerja non migas ingin pindah jalur ke migas, tidak mesti salary. Meskipun tidak munafik bahwa salary dibutuhkan untuk penunjang kehidupan. Atau dengan kata lain, masing-masing orang mempunyai rencana jangka panjang dan jangka pendek dalam karir dan kehidupan. Saya pribadi berpendapat bahwa setelah selesai kuliah hingga umur 30 itu saatnya mencari pengalaman sebanyak-banyaknya (gaji urusan ke-13), 30 tahun hingga 40 tahun (membangun pondasi bagi karir), 40 keatas (insyaAllah menikmati hasil kerja bersama keluarga). Mudah-mudahan ini masih bisa saya pertahankan hingga sekarang dan nanti…

Tanggapan 4 – Eko Drajat, Nugroho

Mungkin topik ini tdk akan ada habis nya dibicarakan di sini dan sdh berulang kali jd topik hangat.

Pada intinya jangan pernah putus asa utk mencoba dan mencoba lagi …. melamar dan melamar lagi. Banyak yg berhasil setelah lamaran yg ke 1000x, dan banyak yg putus asa setelah gagal yg ke 999x .

Beberapa sharing dg kawan sekitar dan kawan maya didapat bbrp kisah sbb:

– Teman saya si A 3 tahun bekerja di perusahaan sepatu, kemudian bisa masuk ke Kontraktor Sipil 2 tahun kemudian berhasil masuk ke KPS besar dan sukses berkarir di sana.

– Sementara si B temen dekat juga, pengalaman 2 tahun di garmen, 3 tahun kontraktor EPC Migas …… trus ke KPS …………

– Si C (kenalan) 12 tahun di Mining, trus ke KPS ……….

– Si D (info dr teman) 6 tahun di otomotip, 2 tahun di EPC Migas, skrg masuk ke KPS besar juga ………….

– Si E (kenal dekat) 2 tahun di KPS besar ……. resign ……. masuk ke Otomotip …… dan berjaya di sana ………..

– Saya sendiri 7 tahun di Elektronik, 4 tahun di EPC dan alhamdulillah sdh berjalan tahun ke-5 di KPS ………

Dengan segala persyaratan teknis yg ada di setiap lowongan, biasanya membuat gentar atau minder, namun di balik itu semua pastilah akan selalu ada peluang, akan selalu ada faktor X yg menyertainya …………. dan akan jatuh kepada yg bener2 mau berusaha.

Saya yakin banyak lagi yg seperti saya kalau mau sharing di sini ………….

Semoga berhasil ……..

Tanggapan 5 – Agus Setiawan Wahyu Wibowo

Dear Pak Eko,

Seperti nya topic loncat profesi memang selalu menarik..apalagi kalo tujuannya adalah ke MIGAS…

Hmm..dari sharing bapak dibawah ini seperti untuk menuju ke KPS(Oil Coy) cenderung musti lewati yang namanya EPC ya pak?

Nyari ilmu sebanyak2 nya di EPC.. baru ke KPS…

Untuk pola dari NON MIGAS LANGSUNG ke MIGAS (KPS) sepertinya hanya dengan keberuntungan yg cukup..tentu pengalaman dan latar belakang pendidikan yang mumpuni…

Demikian. Terimakasih.

Tanggapan 6 – yudi

Pak Agus, pengalaman bergabung di 3 EPC company (2 local, 1 international), teman-teman saya yang resign kebanyakan memang pindah ke Oil Company.

Beberapa kasus teman yang pindah ke KPS, karena waktu di EPC dia ikut project untuk membangun platform di KPS yang bersangkutan jadi waktu wawancara dia sudah tahu dengan ‘basic design’ dari project / platform tersebut.