Indonesia sebagai negara kepulauan tergede di dunia & kebutuhan akan energi yg selalu meningkat mengharuskan penjelajahan pencarian hidrokarbon semakin difokuskan ke laut dalam. Pencarian, pengujian, pengangkatan & pengolahan hidrokarbon dari laut dalam sangat-sangat menantang, dalam semua disiplin & bidang. Dari sisi pemboran & konstruksi sumur juga fasilitasproduksinya

Pembahasan – El Mundo

Please Comment

Adik2 mahasiswa yg tertarik utk study oil & gas terutama di lepas pantai, sebaiknya (disarankan) mulai memfokuskan ke teknologi explorasi dan exploitasi di laut dalam. Ada beberapa faktor yg mendorong saya utk mennyampaikan hal ini:

1. Kemungkinan penemuan lapangan/cadangan di laut dangkal semakin kecil.

2. Cadangan terindikasi di laut dalam terutama di Indonesia bgn timur, maupun dibelahan dunia lainnya masih banyak yg belum di kembangkan

3. Explorasi/Exploitasi migas diperairan (dangkal) Indonesia sudah memasuki hampir setengah abad (Unocal di Kalsel,sejak 1960 an) sama tuanya dgn Shell, Exxon, atau Chevron jg melakukan explorasi/exploitasi di Gulf Mexico dan North Sea. Kenyataannya sampai saat ini kita belum mengusai teknologi dengan benar pengembangan lapangan di laut dangkal. Tak ada satupun karya kita di bidang tsb, selain hanya menikmati teknologi bangsa lain, yang datang ke sini dan menjadikan ladang2 lepas pantai di teluk Jakarta atu delta Mahakan sebagai laboratorium. Lembaga pendidikan tinggi kita spt ITS dan ITB dengan disiplin Kelautan hanya terpaku pada hal2 yg tradisionil, seperti kapal, fixed platform dsb. Laboratorium hydrodinamika (BPPT) kita seperti menara gading, pajangan dan impotent. Sampai saat ini kita masih bertanya bagaimana mendesign Platform/jaket, bagaimana kita menginspeksi marine growth atau submarine pipe line dsb..

Saya sarankan utk semua yg bekepentingan (MIGAS/BPMIGAS/LEMIGAS/BPPT/LIPI/BKI/ITS/ITB etc etc, bahu-membahu, menguasai teknologi laut dalam supaya kita bisa menjadikan cadangan2 sebagai kejayaan industri kita.

Marilah kita memperbayak diskusi tentang penguasaan laut dalam, terutama untuk menghadapi exploitasi Chevron, Talisman di selat Makassar atau Inpex di Tanimbar.!

Tanggapan 1 – samperuru1

Setuju sekali. Indonesia sebagai negara kepulauan tergede di dunia & kebutuhan akan energi yg selalu meningkat mengharuskan penjelajahan pencarian hidrokarbon semakin difokuskan ke laut dalam.

Pencarian, pengujian, pengangkatan & pengolahan hidrokarbon dari laut dalam sangat-sangat menantang, dalam semua disiplin & bidang. Dari sisi pemboran & konstruksi sumur juga fasilitas produksinya, ada tulisan pendek yg pernah saya buat & dimuat di situs alumni angkatan:
http://www.mesin89itb.net/2008/05/penambangan-hidrokarbon-di-laut-dalam-frontier-terbaru-industri-perminyakan/

Jangan kuatir, tulisan itu dikemas secara populer, tidak terlalu teknikal seperti tulisan jurnal SPE misalnya. It’s a good reading for the students.

Tanggapan 2 – Dirman Artib

Apa ya yang harus didiskusikan dari Deepwater Development ?

Maksudnya supaya nggak liar kesana-kemari.

Mungkin bisa dimulai dari aspek-aspek project, seperti concept dan teknologi platform/facility yang mungkin digunakan untuk Deepwater.
kan tersedia pilihan mulai dari FPSO, TLP, Semi-sub, dll. Kalau TLP mungkin bisa diperkecil apakah tipe StarSea, Moses, Classical TLP, dll.

Dan kemudian khusus naval architect dan tendon engineeringnya.

Lalu nanti boleh pula diobrolin Flowline dan Riser yang juga cukup menantang dari aspek design/engineering, lalu masuk phase fab/const/installation nya.

Dari aspek Project Management, boleh juga membahas aspek commercial dan cost aspect.

Lebih menarik sekali jika ada diskusi tentang Project human Resources, karena di area ini kita mulai terkena sengatan jiran yang sudah mulai di depan dalam hal SDM ini.
Contoh, project FEED Malikai Deepwater yang sekarang berjalan, dimotori oleh JV AMEC dan MMC (local co.) adalah salah satu misi jiran mempersiapkan SDM mereka, agar di masa yad, lokal SDM akan lebih besar peranannya. Lalu company EPC lokal pun tak ketinggalan dalam misis project ini. Dgn jelas2 Supermajor Shell menyebutkan nama perusahaan lokal yang akan diangkat kompetensinya lewat project ini.
Bagaimana Garuda ?

Tanggapan 3 – iwan aryawan

Sabar pak Dirman, lagi asyik nih…;-))…biarkan kita ngobrol ngalor ngidul dulu pak, seperti ngobrol di warung kopi. Atau kalau pake istilah kerennya ‘brain storming’. Saya senang melihat animo yg cukup tinggi dari teman2 semua akan teknologi laut dalam ini.

Untuk masalah floating platform concept, silahkan tambahkan perbendaharaan perpustakaan kita di milist ini. Kirim lewat pak Budhi. Kita sempet membentuk forum floating platform. Tapi sayang karena kesibukan masing-masing, programnya agak tersendat-sendat. Walaupun begitu, kita sempat ngadain seminar dadakan di ITB bulan Juli yg lalu. Mudah2-an temen2 yg berada di Indonesia bisa lebih aktif lagi untuk mengadakan forum2 diskusi seperti ini. Pak Jamsir, pak Murdjito, dll, mudah2-an bisa menyisihkan lebih banyak waktu untuk kegiatan forum ini. Masih banyak yg perlu dibenahi, termasuk masalah regulasi.

Untuk masalah software, saya liat pak Uci sudah punya list yg banyak. Sementara itu, pak Murdjito bersama ITS-nya juga banyak berpengalaman dalam hal analysis menggunakan state-of-the-art software seperti Orcaflex, AQWA, dsb. Mungkin juga mereka sudah mahis menggunakan fully coupled analysis software seperti Winpost/Charm3D, Rifflex dan deepC.

Mungkin pak Eko Djatmiko dan temen2 di ITS bisa memberikan kita informasi lebih lengkap tentang program laut dalamnya, seperti yg pak Ika kemukakan. Mudah2-an banyak yg berminat untuk menggeluti bidang ini.

Insya Allah saya akan share, sebisa saya, pengalaman teknologi laut dalam di Gulf of Mexico (GoM) dan North Sea. Perlu diketahui masing-masing lokasi mempunyai keunikan sendiri2. GoM dengan hurricane dan loop-currentnya. Sementara West of Shetland (juga North Sea) sangat terkenal dengan ombak yg ganas (tinggi gelombang bisa mencapai 35 meter, 100-yr return period). Bandingkan dengan perairan Indonesia yg cuma beberapa meter saja. Tapi Indonesia juga mempunyai keunikan tersendiri seperti earth quake, Tsunami,dsb.

Kita membutuhkan seorang figur seperti bapak milist kita pak Budhi yg pantang menyerah untuk memajukan kemampuan bangsa kita dalam industri migas ini. Pak Budhi, apa kabar?

Tanggapan 4 – uci20032000

Kalo aqwa sudah dikuasai di ITS, bolehkah ITS bekerja sama dgan KMI mengadakan kursus aqwa dgan biaya yg mudah terjangkau. Sy sendiri jg blum bisa aqwa dan pingin belajar.

Salah 1 yg user friendly adalah seasoft, cuma output hanya berupa angka2 saja. Jalan dalam dos mode. Kita harus plot sendiri hasilnya. Tapi pembuat software ini tdk menjual software nya hanya menyewakan melalui internet. Biaya sewa min 6 bulan seharga 9k USD. Ada modul ship sim utk 1st order wave slowsim utk 2nd ord. Ada TLP sim, semisim, discsim, moorsim. Sangat user friendly. Pembuatnya namanya Dr.Richard Hartman. Dia tdk menjual karena takut dibajak. Hehehe.

Tanggapan 5 – Budhi Swastioko Suryanto

Mas Iwan, terima kasih juga saya ucapkan ke anda yang telah mengorbankan waktu cutinya sehari di Indonesia untuk berbagi pengetahuan mengenai deepwater dan floating platform sewaktu KMI Goes To ITB, 26 Juni 2009. Pada seminar ini ada beberapa engineer Indonesia selain Mas Iwan Aryawan – yaitu sdr. Ato Suyanto dan Bobby Weliyanto – yang menyumbangkan pengalamannya sewaktu ikut proyek laut dalam di luar negeri. Dan dari data pribadi anggota milis, ada puluhan anggota kita yang terlibat aktif dalam pengembangan teknologi laut dalam di luar negeri, antara lain : Malaysia, Afrika Selatan, Aberdeen, Hpuston, GoM, dll. Jadi dari segi SDM, kita sudah mampu.

KMI senang bisa ikut berkontribusi dalam pengembangan teknologi laut dalam, karena trend pencarian minyak di Indonesia di waktu mendatang memang mengarah ke laut dalam. Untuk Teknik Kelautan ITB, saya lagi bernegosiasi dengan ketua panitia agar memasukkan agenda deepwater pada event Oceanovolution Dec 2009. Dengan Teknik Kelautan UI, kita coba mendatangkan kembali President IMAREST Prof Choo ke Indonesia. Dengan Teknik Kelautan ITS, nanti saya bicarakan dengan Pak Murdjito. Saya juga kemarin sudah berbicara dengan penulis Buku Pintar Migas Indonesia “Teknologi dan Instalasi Subsea” yang akan meng-update tulisannya dengan data terbaru.

Oh ya, saya sudah menambahkan softcopy presentasi “Subsea Construction Projects”.

Silahkan download dari URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=311&Itemid=42

1. Concept Selection for Deepwater Development

2. Floating Platform Regulatory Requirements

3. International Safety Management Code – Article

4. International Safety Management Code – Edisi 2002

5. International Safety Management Code – Presentation

6. Potret Kondisi Kelaikan Sebagian Besar Kapal-Kapal Indonesia

7. Schiehallion Risers Project

8. Subsea Construction Projects

Tanggapan 6 – Ika Prasetyawan

Setahu saya AQWA belum dikuasai FTK ITS. Software ini sangat mahal harganya jadi agak susah di-‘gerilya’. Kami sedang usahakan bersama dengan Prof Eko BJ dan Pak Murdjito untuk sharing knowledge AQWA. Kalo ndak salah, malah Cak Iwan Aryawan yang jago AQWA dulu pernah dipakai untuk simulasi turret mooring heading analysis. Betul Cak?

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: