Select Page

Listrik adalah kebutuhan pokok dalam kehidupan, penggerak roda ekonomi, semoga petinggi2 RI dalam mengambil kebijakan lebih mengutamakan rakyat bukan mudah disetir sekelompok pemodal besar untuk kepentingan bisnis mereka seperti petinggi2 penegak hukum yang disetir sekelompok pengusaha korupsilah yang merendahkan martabat bangsa kita, dan juga menyebabkan kesengsaraan sebagian besar rakyat kita, mulailah memerangi korupsi dari diri kita sendiri.

Pembahasan – Paulinus STG

Rabu, 18 November 2009 | 19:38 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Pusat atau Hipmi Pusat Erwin Aksa Mahmud mendesak pemerintah menghentikan ekspor gas agar produksi gas bisa dioptimalkan untuk menutupi kebutuhan energi dalam negeri. Krisis energi yang berbuntut pada pemadaman listrik antara lain merupakan akibat langsung dari mengalirnya produk gas ke luar negeri.

‘Mengalirnya ekspor gas ke luar negeri adalah salah satu pangkal masalah krisis energi. Indonesia punya banyak pembangkit listrik tenaga gas, tetapi karena minimnya stok gas dalam negeri, akhirnya penggunaan bahan bakar beralih ke solar yang harganya jauh lebih mahal ketimbang gas,’ ujar Erwin Aksa saat dihubungi dari Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/11) petang.

Erwin mengingatkan, jika pemerintah tidak segera mengambil kebijakan yang konkret dan ekstrem di bidang energi, maka krisis listrik akan terus berlarut-larut. Risikonya, pertumbuhan ekonomi akan terhambat. Sebab, terpukulnya dunia usaha tak hanya melemahkan laju investasi, tetapi juga menghambat penyerapan tenaga kerja.
‘Selama ini, ekonomi Indonesia terbukti memang bisa bertumbuh dalam situasi krisis. Tetapi apa artinya ekonomi tumbuh 6-7 persen seperti yang ditargetkan pemerintah jika itu tak berkualitas atau memberi efek bagi masyarakat luas?’ paparnya.

Lebih jauh tentang kebijakan di bidang energi, Erwin berharap agar pemerintah, DPR, PT PLN menata ulang pembiayaan kelistrikan supaya efisien dan lebih kondusif bagi pihak swasta. Pada sisi lain, pemerintah juga perlu menata ulang regulasi pengelolaan ladang-ladang gas dalam negeri sehingga tidak semata bertumpu pada pihak asing.

———————————–

Ini namanya pemikiran sederhana dan Tepat !!! Permasalahan dijawab dengan apa pokok permasalahannya …

Ntah apa yg ada dikepala Dirjen migas dan petinggi2 negara ini ..

Klo masalah keuangan, harus dicari jalan keluar yg lain .. bukan malah mempersulit dengan manambah masalah …

klo kita expor kita dapet duit .. tapi kita mesti impor lagi … sama2 gas pulak .. dan harganya bisa jadi lebih mahal … Ada ada saja …

Gituuu aja kok repooooott !!!

Iya boss LNG Regasification Tj Priuk udah tahap tender EPC ..

Sebenarnya PLN secara mandiri sudah pernah merilis ide yg sama, bahkan sudah survey gephysical di awal 2005. Tapi kandas lagi.Semoga lancar sampe jadi .. semoga yg kali ini lancar sampai jadi.

Tapi tetap yg saya tahu intake gasnya akan impor juga seperti dari Qatar dll.

Itu yg saya khawatirkan .. isu keuangan dan investasi ini sepertinya akan terus berulang dan berulang. Sekarang mungkin ngomongnya nantikan ada gas field yg lain, tapi pas nanti bikin yg baru menghadapi hal yg sama dan jadinya diexport lagi … Kita tunggu saja .. asal jgn sampe nunggu gas habis, baru deh bikin gas plant untuk kebutuhan dalam negeri =).

Karena percuma, walaupun sudah punya Gas Plant tapi klo untuk diexpor juga… Bontang dan sekitarnya saja sudah pupus berharap untuk tidak kena pemadaman bergilir …. apalagi pedalaman papua ato nusa tenggara … Jadi apa yg salah … ckckck.

Jadi memang harus bikin keputusan yg berani ambil resiko ato extrem.

Saya pernah dengar akan dibentuk Induk BUMN semacam Holdingnya .. mungkin Holding company ini kelak bisa menggalang dana besar untuk proyek2 mega .. jadi kita gak selalu tgt ama investor luar … Jadi bisa menggalan dana yg boss paparkan.

Fakta bahwa yang punya uang yang menentukan.

Tanggapan 1 – Rikrik Gantina

Dear All,

Saya ikutan ingin menggambarkan keadaan (bukan untuk membela BUMN lho,… he he he, soalnya banyak email ttg energi terakhir2 ini),
semoga tidak bikin lieur.

3 BUMN (PLN & PGN & Pertamina) membentuk Join Venture (JV), sejauh ini sangat concern akan masalah ini,

saat ini JV sedang dalam tahap awal (dlm stage baru mau design, step paling awal) untuk memenuhi kebutuhan energi di pulau Jawa (jika mungkin, listrik bisa dikirim ke Bali atau sisi dekat lainnya, detailnya orang PLN yang mengetahui).
Untuk Sumatra ada juga rencana untuk Belawan, tapi masih lebih awal lagi stage-nya saat ini (November 2009).
Pemenuhan akan menggunakan LNG (theoritically merupakan fasilitas regasifikasi LNG pertama di Indonesia paling tidak untuk pemenuhan listrik).

Kalau lantas ada pertanyaan kenapa Gas?

Kenapa LNG?

Mungkin singkatnya begini:

Cina (sebelumnya Jepang) maju, karena industrinya bisa bersaing,
teknologi ~ tinggi, harga affordable (~mobil jepang vs mobil eropa atau mobil amrik, atau tekstil cina vs tekstil eropa atau malah vs tekstil Indonesia,.. . pernah tanya kenapa pabrik tekstil di Bandung kalah sama tekstil cina?,… semoga CNG bisa jalan & affordable),
cina, jpg, bisa maju karena mereka menggunakan gas
(dari dulu jpg ada kontrak dgn bontang, ada fasal yg menyebutkan kalau pasokan LNG dari bontang ada masalah, pemerintah Indonesia harus bontang-banting, … ttg hal ini perlu tulisan khusus dan orang petrokimia yg lebih tau)
sekarang cina juga dah pesan untuk dapat LNG dari Indonesia yg menyebabkan harganya katanya murah (sehingga saling lempar kesalahan antar SBY, Mega, DKK,… bisa di cek di berita koran yg lalu)

http://www.jatam. org/content/ view/869/ 21/

http://www.tempoint eraktif.com/ hg/nasional/ 2007/06/28/ brk,20070628- 102758,id. html

Indonesia, setelah Bontang atau Total Tunu dan sekitarnya dah menunjukan penurunan produksi gas/LNG-nya (ktnya Pearl Oil mau masuk Bontang tp perlu sekitar 2 atau 3 tahun lagi), baru mikir untuk LNG receiving terminal,
tapi beruntung, Indonesia gasnya masuk sepuluh besar dunia, masih banyak, kira-kira dengan laju pemakaian skrg, terindikasi perlu ~113 tahun untuk menghabiskan cadangan yg ada/skrg ada, kalau ada yg baru berarti nambah (tapi note, pemakaian selalu naik juga, kali lbh cepat habisnya),
harus hati-hati, anak cucu mau ngapain,
jgn sampai perioda orba yg manis, tp pahit buat generasi berikutnya, seperti pihak PLN sekarang, harus bijak dlm menggunakan resources.

Masih banyak rencana LNG plant (tempat bikin LNG) baru, karena gas Indonesia banyak,
seperti untuk donggi, masela, tangguh 2,… etc, bisa di cek di berita koran luar atau dalam negeri,
dari sekian LNG plant (dan sangat besar lho dibandingkan luar negeri pun,… jgn compare sama Qatar tapinya) itu,
hanya beberapa (paling tidak ada 2 rencana LNG regas terminal) yang akan dibuat.

LNG Plant = tempat untuk membuat LNG

LNG regas terminal = tempat untuk membuat LNG jadi gas dan bisa digunakan

Antar kemampuan membuat LNG tidak sama dengan menggunakan LNG sangat menyedihkan,
volume pemakain LNG jomplang dibanding penggunaan LNG,
kalau di cek di google, volume production LNG Indonesia sangat besar, tapi volume penggunaan LNG di Indonesia susah dicari,… kenapa?

Intinya kita terlambat menggunakan gas,… memang iya.

Akhirnya mirip jadi pelayan orang asing dari kekayaan dlm negeri,
singapur gak punya LNG plant tapi sekarang sudah dlm rencana membuat LNG regas unit, ktnya 2012 mau selesai,… he he he.

Secara general, kenapa gas bisa dilihat dari kasus Cina dan Jepang,
secara harga:

perkiraan kasar (semoga tidak salah tulis), jika resources ini dipakai PLN
urutannya: Gas (~ Rp. 200-400) < Batubara (~ Rp. 480-700) < solar (~ Rp. 1200/Kwh), lebih jelas kan kenapa harus gas. dari dulu jepang suka pakai gas, sampai buat masela pun, mereka mau tanam modal (tapi kyknya produk LNG-nya kali ada deal khusus, saya gak bisa cerita untuk hal ini)

http://www.lngpedia .com/inpex- maselaabadi- 196-bln-lng- plant-approved/

Pertanyaan berikutnya,

kanapa harus LNG?

Untuk jarak kurang dari 1000 km, gas lewat pipa bisa tidak ekonomis,
proyek SSWJ (mungkin total capex sktr 2 trilyun rp) contohnya menggunakan pipa, karena jarak < 1000 km, dan terbukti masih kurang gas, msh butuh lbh banyak, jika yang perlu Jawa tapi ngambil dari (contohnya) diluar kisaran 1000 atau malah 2000 km, harus ada metoda lain, dgn LNG gas dikirim jarak jauh bisa ekonomis.

Selain LNG ada metoda lain, tp LNG lebih ekonomis, perhitungan/ gambaran lebih lanjut bisa dilihat lewat google.
Karena itu LNG perlu.
Kalau ada pendapat, sebaiknya PLN menggunakan gas, berdasar hal diatas, saya mah setuju aja,
kenapa gak dari dulu? gak tau kenapa pastinya.
Kalau Gas di ekspor (seperti PGN yg ekspor gas ke sgpore),
mungkin karena pihak luar lebih siap memakai gas,… kita memang terlambat, mungkin begitu intinya,
dan untuk pendapatan negara, daripada gak dipakai di dlm negeri (asmusi yg kurang tepat kyknya untuk saat sekarang).

Masalah lain:

Realisasi pemakaian gas untuk local (ada peraturan prioritas konsumsi gas untuk pasar domestik) tidak mudah,
contohnya jika investor diminta menanam modal,
mereka mungkin ada syarat kalau produk dibeli mereka,… ngadepin yg ginian gimana? gas buat lokal dipaksakan? emang mudah minta mereka tanam modal LNG Plant dan gak dusah beli?

Penyelesaian?

Untuk pemasangan LNG Plant kalau dilihat di berita ttg masela ~ $19.6 billion ~ 20 Trilyun rupiah kali ya (pusing nolnya banyak)?

dari mana uangnnya?

kita kembali ke isu:

Bank di Jakarta Tampung 48% Dana Masyarakat Indonesia:

Tiga provinsi mencatat dana masyarakat yang sangat mencolok ketimbang 30
provinsi lainnya yang jumlahnya di atas Rp 100 triliun. Ketiganya adalah:

1. DKI Jakarta sebesar Rp 816,096 triliun

2. Jawa Timur sebesar Rp 177,187 triliun

3. Jawa Barat sebesar Rp 143,251 triliun. Propinsi lain banyak juga, jangan salah, antara 29-80 trilyun deposit bank-nya, uang ini semua pada tidur,… kyk wakil rakyat,…

(http://www.thejakartapost. com/news/2009/10/ 03/getting- hang-job. html ).

mungkin skema bisa begini:

Bank besar (Bank Mandiri, Bank BNI,…) bikin join venture seperti 3 BUMN diatas membuat skema pemodalan,
kita berhenti jadi pengemis kaya tapi yg dilecehkan,. .. memang pantas dilecehkan oleh pihak luar negeri.

Bank yg menampung uang itu yang yg memodali instalasi plant.

Kasarnya, jepang aja mau tanam modal,… kitanya kemana aja?

ABN Amro mau kerja sama shell,… skrg kita tau shell seperti apa,… gak ngurusin sea food kerang cumi goreng,… shell ngurusin minyak dunia,… malah bisa bikin kasus ambalat,.. dah saking besarnya shell.

Uang tidur tadi buat BLBI fase 3?

Sesudah century ada bank apa lagi yg harus diurus agar tidak ada gonjang ganjing finansial (kalau kata P Wapres http://www.suarapem baruan.com/ index.php? detail=News&id=11682)?

emang gonjang-ganjing energi gak kalah seru?

Kemana aja para buaya? pada bawa golok (mirip Jaka Sembung?)?

Siapa yang salah? Jawab sendiri,… siapa yg milih DPR, MPR dan Presiden dari dulu sampai sekarang,… kita sendiri kan?

jadi yang salah kita sendiri,… bukan Pak Mantri,..
apalagi Pak Mantri di kampung taunya kesehatan doang.

Atau tetap menghutang membuat wibawa pemerintah semakin hancur?

bayar utang perkepala lebih dari 106 juta?

http://batampos. co.id/Opini/ Opini/Utang_ Menjajah_ Indonesia. html

emang 106 juta gampang untuk tiap 220juta penduduk? Jual apalagi coba hitung,… jual gas, minyak, jual diri,… bisa 106 jt?

Atau pakai nuklir,… mirip Iran?

Lieur kan jadinya?

Terimakasih atas perhatiannya

Tanggapan 2 – Paulinus STG

Iya boss LNG Regasification Tj Priuk udah tahap tender EPC ..
Sebenarnya PLN secara mandiri sudah pernah merilis ide yg sama, bahkan sudah survey gephysical di awal 2005. Tapi kandas lagi.Semoga lancar sampe jadi .. semoga yg kali ini lancar sampai jadi.

Tapi tetap yg saya tahu intake gasnya akan impor juga seperti dari Qatar dll.

Itu yg saya khawatirkan .. isu keuangan dan investasi ini sepertinya akan terus berulang dan berulang. Sekarang mungkin ngomongnya nantikan ada gas field yg lain, tapi pas nanti bikin yg baru menghadapi hal yg sama dan jadinya diexport lagi … Kita tunggu saja .. asal jgn sampe nunggu gas habis, baru deh bikin gas plant untuk kebutuhan dalam negeri =)

Karena percuma, walaupun sudah punya Gas Plant tapi klo untuk diexpor juga… Bontang dan sekitarnya saja sudah pupus berharap untuk tidak kena pemadaman bergilir …. apalagi pedalaman papua ato nusa tenggara … Jadi apa yg salah … ckckck

Jadi memang harus bikin keputusan yg berani ambil resiko ato extrem.

Saya pernah dengar akan dibentuk Induk BUMN semacam Holdingnya .. mungkin Holding company ini kelak bisa menggalang dana besar untuk proyek2 mega .. jadi kita gak selalu tgt ama investor luar … Jadi bisa menggalan dana yg boss paparkan.

Fakta bahwa yang punya uang yang menentukan.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan yang diambil pada bulan November 2009 dari diskusi Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut:

Share This