Select Page

Secara global, ada aturan di maskapai khususnya di International Flight sperti, Emirates, SQ, Qatar, dsb kalau Ibu hamil diperbolehkan untuk terbang diatas usia 28 minggu dan dibawah usia 32 minggu (skitar 8 bulan) harus ada surat dokter yang menunjukkan kalau kondisi ibu dan kandungan sehat dan kuat. Diatas 32 minggu biasanya maskapai penerbangan tidak mau menerima lagi karena tidak mau mengambil resiko.

Tanya – Pahotan Antonima Sinaga

Dear milister,

Saya berencana melakukan perjalanan udara pekanbaru – jakarta bersama istri yg sedang mengandung. Mohon sharing informasi ttg keselamatan penerbangan bagi wanita hamil. Saya sudah tanya maskapai, tapi mereka hanya meminta surat keterangan ‘layak terbang’ dari dokter spesialis, tanpa menjelaskan apa2 saja resikonya. Alasannya, itu kebijakan maskapai… udah, titik.
Saya tidak keberatan bila harus periksa dokter utk mendapatkan surat ijin tersebut. Tapi sebagai calon penumpang, saya merasa berhak mendapat informasi mengenai resikonya. Mohon tanggapan rekan2. Oya, bila jadi terbang, kandungan istri insyaAllah akan berumur 7 bulan 3 minggu.

Tanggapan 1 – Pahotan Antonima Sinaga

dear Pak Ari Widodo

sekedar berbagi pengalaman.

saya pernah melakukan perjalanan yang sama dgn bapak untuk anak saya yg kedua

Jakarta ke Pekan Baru dan Pekan baru ke jakarta.

memang maskapai hanya merekomendasikan surat dari dokter

kandungan istri saya saat itu 6 bulan.

kami masih melakukan perjalanan naik mobil lagi ke Dumai selama 6 jam

dan saya masih membawa anak umur 2 tahun..reportnya bukan main

puji Tuhan selama penerbangan tidak ada masalah

dan anak saya lahir dengan sehat 3 bulan kemudian.

demikian semoga bermanfaat terima kasih.

Tanggapan 2 – ‘riepxplorer@gmail.com’

Pak Ari,

Saran saya penerbangannya di tunda dulu hingga anak lahir dan sampai umur 6 bulan. Kondisi dan kekuatan manusia beda2. Utamakan keselamat dan masa depan Istri dan Anak anda.
Otherwise jika terjadi sesuatu anda akan menyesal seumur hidup.
Bukan nakut2in, cuman kalo saya sendiri saya gak mau ambil resiko untuk orang2 yang saya cintai. Terkadang kita secara gak sadar egois hanya untuk kepentingan diri sendiri. Hanya contoh kecil, saya melihat di mall ada anak bayi yang tergesa2 masuk ke ambulan, karena kontaminasi udara yg menyebabkan problem pada pernafasannya. Selidik py selidik itu bayi baru umur 1 minggu sudah di ajak jalan2 ke mall. Itu hanya di mall pak. So mau salahkan siapa kalo sudah begitu, bukan?!
Maaf pak agak menggurui, hanya suggest soalnya saya agak aktif di organisasi pembela hak2 anak2 :).

Tanggapan 3 – ari widodo

Dear rekans,

Terima kasih banyak atas semua sharing pengalaman dan pengetahuan utk hal ini. Hny dlm wkt beberapa menit, byk respon yg masuk. Saya sudah telpon berkali2 ke beberapa maskapai, tapi tidak ada yg memberi alasan jelas..
To be honest, saya menyerahkan urusan ticketing pada rekan di perusahaan. Saya baru sadar setelah tiket di-issued. Utk penerbangan jkt-pekanbaru mungkin akan saya tunda karena saat itu umur kandungan 7 bulan 3 minggu, dan saya sependapat dgn rekan2 bhw itu beresiko. Klo penerbangan pekanbaru-jkt sepertinya terpaksa harus dijalankan mengingat kondisinya sangat mendesak. Mau lewat jalan darat, istri saya pernah punya masalah dgn ginjalnya (pernah dioperasi krn ada batu di saluran masuk ginjal), tidak boleh terlalu lama dalam keadaan duduk. Perjalanan darat pekanbaru – jkt bisa hampir 2 hari 2 malam. Memang sih, bisa mampir2 ke jambi dan palembang. Saya akan diskusikan lagi dgn istri saya.

Khusus utk pak Sariep,

Saya sangat berterimakasih atas ‘warning’nya. Justru karena saya mengutamakan keluarga itulah makanya saya cari2 info dari milis kita ini. Karena saya yakin para anggota milis kita sangat konsen dgn safety. Bisa saja saya cari dokter yg bersedia membuat umur kandungan lebih muda agar diijinkan terbang, tapi saya berkeinginan kuat utk tidak melakukan itu.
Pihak maskapai tidak memberikan alasan jelas pak. Pokoknya minta surat ijin dokter, udah beres. Saya koq merasa maskapai hanya mencari celah aman saja. Kalau terjadi apa2, yg kena nanti dokternya. Padahal bisa saja control system di pesawat tidak bekerja dg baik sehingga terjadi pressurized, terus klo dokternya yg disalahkan, walah, kasihan tho…

Btw, utk kasus2 khusus, misal kehamilan udah 9 bln dan terpaksa keluar negeri krn emergency case, kira2 fasilitas apa saja yg disediakan oleh maskapai? Apa mungkin maskapai tetap berkeras hati menolak utk menerbangkan? Gk mungkin tho lewat jalan darat atau laut?
Just curious to ask…

Tanggapan 4 – Elly Hanna Novianna

Dear Pak Ari,

Sekedar share, beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan udara dalam keadaan hamil.

Sejauh ini tidak ada masalah dengan kandungan saya (saya terbang dalam usia kehamilan 6 bulan, dan sekarang 7 bulan).

Menurut saya pribadi, yang lebih menghambat adalah ketidaknyamanan pada ibu..

Ibu hamil pada dasarnya sering ke kamar kecil. Hal yang sulit dilakukan di dalam cabin pesawat dalam kondisi perut gendut.

Keseimbangan ibu hamil tidak begitu baik. Ditambah ruang gerak yang sempit. Lengkaplah sudah..

Perubahan tekanan ketika take off dan landing.

Saya tidak tahu, apakah hanya saya, atau semua merasakan, perut tiba2 menjadi penuh gas.. dan lagi2 hal ini tidak nyaman.. Seatbelt yang harus dipakai, menambah ketidaknyamanan..

Ketidaknyamanan terakhir adalah ketika turun dari pesawat dan harus berjalan kaki menuju pintu keluar. Rasanya berat sekali, karena secara tidak sadar semua orang (termasuk suami) akan berjalan dengan speed yang cukup tinggi..

Jadi, saran saya, bapak tanyakan kepada istri, apakah dia memang siap melakukan penerbangan.

Kesiapan mental ibu menurut saya yang paling penting.

Ketika memang tidak ada pilihan lain selain terbang, silahkan saja dilakukan dengan berkonsultasi dengan dokter sebelumnya..

Tanggapan 5 – Rhenda Mukti

Dear Pak Ari,

Saya hanya mau sedikit sharing pengalaman untuk menjawab pertanyaaan di statement terakhir :

Btw, utk kasus2 khusus, misal kehamilan udah 9 bln dan terpaksa keluar negeri krn emergency case, kira2 fasilitas apa saja yg disediakan oleh maskapai? Apa mungkin maskapai tetap berkeras hati menolak utk menerbangkan? Gk mungkin tho lewat jalan darat atau laut?
Just curious to ask…

Secara global, ada aturan di maskapai khususnya di International Flight sperti, Emirates, SQ, Qatar, dsb kalau Ibu hamil diperbolehkan untuk terbang diatas usia 28 minggu dan dibawah usia 32 minggu (skitar 8 bulan) harus ada surat dokter yang menunjukkan kalau kondisi ibu dan kandungan sehat dan kuat. Diatas 32 minggu biasanya maskapai penerbangan tidak mau menerima lagi karena tidak mau mengambil resiko.

Pengalaman saya dulu, waktu itu istri saya terbang dari Jerman ke Jakarta dengan usia kandungan 31 minggu dengan Emirates, sebelum terbang dia disarankan untuk disuntik sama dokter untuk mencegah tekanan2x yang ada slama terbang. Memang agak riskan, tapi saya juga tidak ada pilihan lain karena visa tinggal juga sudah mau habis.
Alhamdulillah, selama kurang lebih 12-14 jam perjalanan, sampai di Jakarta dengan selamat. Dan keesokan hari langsung diboyong ke dokter kandungan untuk dicek lagi kondisi bayinya. Alhamdulillah lagi ternyata janin sehat walafiat.

Info dari pramugari (teman saya), khususnya untuk SQ, apabila terjadi sesuatu slama terbang (misalkan lahir di pesawat). Mereka sudah ditraining khusus untuk menangani kasus kayak begini. Enaknya lagi, katanya anak yang lahir di pesawat SQ sendiri akan diberikan fasilitas terbang gratis dengan SQ sampai umur tertentu.

Kesimpulannya ya tetap prioritaskan safety and health. Kalau tidak terpaksa atau kepepet seperti saya, jangan ambil risiko untuk terbang diatas umur 28 minggu.
Kalau memang tidak ada jalan lain, Insya Allah, jangan putus untuk berdoa untuk mendapatkan perlindungan-Nya.

Mudah2xan sharing saya bisa bermanfaat. Terima kasih.

Share This