Mungkin rekan2 di sini sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ASTM, API, DNV, dll.
Semua standard tersebut datangnya dari negara luar yang memang kualitas regulasi mereka tidak perlu lagi kita pertanyakan. Tapi pernah kah rekan2 sekalian berpikir bahwa bagaimana dengan standar bangsa kita sendiri seperti SNI, standar BKI, dll. Pernahkah rekan2 sekalian menggunakannya secara langsung ?

Pembahasan – didin afandi

Selamat Sore rekan2 senior,

Mungkin rekan2 di sini sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ASTM, API, DNV, dll.
Semua standard tersebut datangnya dari negara luar yang memang kualitas regulasi mereka tidak perlu lagi kita pertanyakan.

Tapi pernah kah rekan2 sekalian berpikir bahwa bagaimana dengan standar bangsa kita sendiri seperti SNI, standar BKI, dll. Pernahkah rekan2 sekalian menggunakannya secara langsung ?

Hal ini terkait dengan pekerjaan saya saat ini. Pihak kami akan mengadakan kapal untuk maintenance pipa offshore. Kebetulan saya termasuk dalam tim pembuatan spesifikasi kapal yang akan ditenderkan. User kami ingin agar standar mengacu pada Australi saja, karena mereka terkenal dengan teknologi perkapalannya. Padahal negara kita kan juga punya BKI yang dapat menjadi acuan. Cuman, melihat seringnya terjadi kecelakaan kapal di perairan kita, para user memandang lebih baik mengacu pada standard internasional saja.

Sebagai putra bangsa, tentunya kita juga ingin punya standard yang mendunia, seperti JIS, DNV, dll. Mungkin kalau kita punya seperti itu, namanya : ISI = International Standard of Indonesia.

Tanggapan 1 – eko prasatiyo

betul itu bro,

klo g salah politeknik manufaktur rata-rata menggunakan standar nasional untuk ukuran
klo kecelakaan kapal saya rasa bukan dari kesalahan desain, tp dari standar penggunanya yg g memenuhi standar itu sendiri betul tidak?
mohon koreksinya.

Tanggapan 2 – Deni Shidqi K.

Saya rasa agak sulit ya klo sudah masuk dunia komersial biasanya tergantung ‘request’ costumer pake standar apa nya. for instance yang pasti secara kualitas dan teknis kita bisa pertanggungjawabkan aja….baik dari sisi parameter, prosedur, dll hal-hal teknis lainnya. at least klo saat ini costumer dari luar blm ada yang trust dengan standar kita (SNI ato BKI), setidaknya perusahaan anda bekerja tetap bisa mendunia dulu deh dengan bisa mengakomodir standar manapun…apalagi nanti pake standar sendiri (SNI ato BKI)…bgtu…

Tanggapan 3 – Dirman Artib

Pak, SNI itu juga di adopt dari ASTM, ASME dan API serta ISO.
ISO standard diadop banyak dari DIN dan BS.

Hanya JIS yg saya tidak tahu darimana di adopt.

Sebaiknya idea untuk mempunyai standard Indonesia yang kan dirujuk industri dunia disudahi saja, karena dunia semakin menjadi global. TC ISO dan TC API pun sudah bekerjasama untuk membuat serta menyatukan bbrp standard. Saya pikir lebih baik Indonesia berusaha dan mendorong untuk memasukkan para profesional dan intelektualnya ke TC TC tsb. agar kepentingan nasional Indonesia juga bisa diakomodir.

Kalau memang mau bikin standard sendiri, nanti kita kayak makhluk dari planet lain.

Tanggapan 4 – elwin.rachmat@total

Untuk peralatan migas, sebenarnya hanya ada satu standar internasional yaitu ISO dimana Indonesia adalah salah satu anggota aktifnya.
SNI adalah standar nasional untuk Indonesia, seperti ANSI untuk USA, BS untuk UK, AFNOR untuk Perancis dan lain-lain.
Sementara ASTM, ASME dan API adalah standar industri untuk USA.

Banyaknya jenis atau asal dari standar mungkin cukup membingungkan. Namun semua itu tidak perlu menjadi dilema bila diterapkan dengan baik sesuai dengan apa yang dirumuskan pada masing-masing standar.

Keinginan untuk mengembangkan SNI juga sah saja apakah itu melalui adopsi (dan seleksi tentunya), perubahan standar yang sudah dikenal, ataupun dengan membuatnya sendiri (walaupun hanya sedikit, SNIpun memiliki beberapa standar hasil karya putra bangsa sendiri). Dalam mengembangkan SNI lazimnya beberapa hal penting berikut menjadi pertimbangan.

1. Meningkatkan mutu barang (dan jasa) untuk kepentingan HSE.

2. Melindungi produsen dari persaingan yang tidak sehat.

3. Melindungi konsumen akan kegunaan dan mutu barang.

Bagi anggota milis yang tertarik untuk menjadi anggota perumus SNI sektor migas, dapat menghubungi saya untuk disampaikan kepada Ditjen MIGAS – Subdit Standarisasi yang mengkoordinasikan standarisasi peralatan migas dengan BSN dan ISO.
Biasanya pada awal tahun Ditjen MIGAS melakukan perekrutan yang terbuka bagi para ahli/profesional yang dengan sukarela menyumbangkan pikirannya untuk dapat merumuskan SNI dan melakukan pembahasan ISO.
Untuk standar migas ada 7 subkomite teknis yang dapat diikuti kegiatannya, yaitu:

1.Subkomite pipeline/piping

2.Subkomite semen/lumpur pemboran

3.Subkomite pemboran dan produksi

4.Subkomite casing & tubing

5.Subkomite peralatan proses

6.Subkomite anjungan dan struktur lepas pantai

7.Subkomite umum (korosi, manajemen mutu dan lain-lain)