Saya ingin meneliti tentang faktor risiko pada tabung gas LPG 3 kg. saya mau tanya, buku atau referensi apa saja yang dapat membantu penelitian saya???

Tanya – Dani A. Silalahi

Saya Dani, mahasiswa K3 UI, ingin meneliti tentang faktor risiko pada tabung gas LPG 3 kg. saya mau tanya, buku atau referensi apa saja yang dapat membantu penelitian saya???
terima kasih..

Tanggapan 1 – Pala

Dani,

Resiko akan terjadi ledakan pasti ada walaupun pembuatannya sudah memenuhi sarat, karena tabung tersebut,selalu ber pindah2 dari satu ke lain orang. dan orang2 awam tentu tidak mengerti safety.
saya tidak tahu apakah ada pengecekan berkala dari pihak yg berwenang, sejak tabung tersebut di produksi.
tentu banyak sekali faktornya:

1.ketebalan platenya.

2.internal weldingnya.

3.Valve connectionnya(yg diatas).

4.Handling, impact yg di bolehkan sewaktu pengiriman dlm keadaan berisi.

5.Pemadam api jenis apa harus ada di rumah seandainya tiba2 api keluar dari valvenya.

referensinya:

1.spesifikasi waktu pembuatan.

2.Standard atau Codenya saya kurang tahu, karena terlalu kecil, kalau tanki besar bisa mengacu API 650.

mungkin ada kawan2 yg expat dan pernah mengerjakannya, dapat sharing di sini.

Tanggapan 2 – Rachman Ardiansyah

Dani,

Untuk design tabung LPG tersebut, mungkin lebih cocok mengacu ke ASME VIII, tentang pressure vessel.

Tanggapan 3 – j_tia_19

coba buka di www.pertamina.com/konversi. disitu dimuat hal2 ttg tabung lpg 3 kg. di bagian FAQ disitu mencantumkan standar safety tabung lpg yg merujuk pada SNI nomor sekian. mungkin bisa jadi referensi.

Tanggapan 4 – Crootth Crootth

Dani,

Sebagaimana saya bilang, sewaktu kuliah tamu di FKM, sabtu 2 minggu lalu, menghitung resiko itu sebenarnya mudah, yakni, Risk = Consequence x Frequency.

Di buku manapun, rumusnya akan sama.

Consequence? bisa dihitung dengan software yang njelimet, atau dengan menggunakan rumus rumus dalam buku CCPS, AIChE – Guidelines for Chemical Process Quantitative Risk Analysis, 2000 yang lebih mudah dimengerti.

OK, coba saya bantu dengan menghitungnya melalui PHAST software, hasilnya:

CASE 1: Jika Tabung LPG 3 kg itu pecah total:

– Menghasilkan panas radiasi BLEVE sebesar 19 kW/m2 pada jarak 1 m (kemungkinan mati mendadak 6%)

– Menghasilkan panas radiasi BLEVE sebesar 9.5 kW/m2 pada jarak 9 m (kemungkinan mati mendadak 1.2%)

CASE 2: Jika tabung itu pecah pada ‘kepala’ nya (dengan ukuran lubang 20 mm):

– Menghasilkan panas radiasi Jet Fire sebesar 15 kW/m2 pada jarak 6 m (kemungkinan mati mendadak 2%)

– Menghasilkan ledakan dengan overpressure sebesar 0.052 bar pada jarak 3.5 m (kaca pecah)

– Flash Fire bisa melingkupi hingga 5.2 m dari tabung (kemungkinan mati karena Flash Fire ini sangat bervariasi, namun TNO menyarankan bahwa minimal luka bakar derajat dua bisa dialami orang yang berada di dalam wilayah flash fire ini).

Berbeda metode pasti akan berbeda hasil kalkulasinya, misalnya

Menggunakan rumus dalam AIChE-CCPS- CPQRA untuk case 2 menghasilkan radiasi sebesar 5.2 kW/m2 pada jarak 6 m (bandingakan dengan 14 kW/m2 dengan menggunakan PHAST).

Yang mungkin perlu usaha adalah menghitung frekuensi.

Yang paling canggih adalah kalau Sdr Dani rajin mengkliping berita ledakan di koran-koran atau di Internet. Dari situ bisa Sdr Dani asumsikan misalnya:

Kejadian di koran hanyalah 5% dari seluruh kejadian yang ada. Katakanlah dalam setahun ada 2000 peristiwa kebocoran elpiji yang ada di koran. Sementara dari info Pertamina misalnya di dapatkan angka peredaran tabung LPG 3 kg adalah 40 juta tabung, maka frekuensi kejadiannya adalah:

banyaknya kasus per tahun = 2000/5% = 40000 kasus

Jika dianggap satu kasus hanya berlaku untuk satu tabung, maka

Frekuensi kejadian tangki meledak = 40000 / 40 juta / tahun = 1 x 10E-03 / tahun

Dari Frekuensi kebocoran ini kembangkanlah Event Tree Analysis:

1 x 10E-03/tahun —> BLEVE (6%) —> 1 x 10E-03/tahun x 6% x 6% –> 3.6 x 10E-06/tahun

1 x 10E-03/tahun —-> Jet Fire (12%) —> 1x10E-03/tahun x 12% x 2% –> 2.4 x 10E-06/tahun

1 x 10E-03/tahun —-> Flash Fire (10%) —> 1x10E-03/tahun x 10% x 6% –> 6 x 10E-06/tahun

Aggregat Risk = 1.2 x 10E-05/tahun (berada pada wilayah TOLERABLE if ALARP, jika memakai standard HSE UK).

tentu saja perhitunagn anda tidak akan seperti di atas, akrena datanya anda harus cari sendiri… sebagai mahasiswa anda harus bersemangat mencari ilmu bukan hanya menunggu orang lain memberi tahu anda, karena disitulah esensi ‘BELAJAR’.

contoh yang saya berikan hanya untuk membuat anda bersemangat, bahwa menghitung Risk itu sesungguhnya MUDAH, yang lebih susah adalah mengkomunikasikan Resiko!!

Tanggapan 5 – Dani Silalahi

Kpda mas Darmawan,

trima kasih mas atas pencerahannya. sya sekarang sudah mulai sangat terbantu dgn jwban yang mas berikan.

brarti, sya harus menghitung dengan menggunakan Quantitative Risk Analysis.
oya, mas blg klo dpt menggunakan rumus dari CPQRA – AIChe thun 2000. sya punya yg thun 1994 edisi ke2..

apakah buku itu sama mas dgn edisi thun 2000..?

klo untuk perhitungan frekuensi, apakah juga terdapat di buku tersebut..?
atau ada referensi khusus tentang hal tersebut..?

dan untuk konskuensi, dari kasus yang saya kumpulkan dari surat kabar, terlihat bahwa bnyak kecenderungan ledakan tersebut hasil dari gas yg terdispersi ke luar..
brarti, sya dapat menghitung seperti yang mas gharonk ceritakan…?

oya,untuk software PHAST, bisa diperoleh dimana mas..?

sekali lagi terima kasih mas Darmawan atas infonya..
sya akan infokan perkembangan terbaru dari penelitian saya dan saya berharap diskusi ini bisa terus berlanjut..
Thanx….

Tanggapan 6 – Eko Poerwanto

Mas Dani,

perkenan saya menjawab pertanyaan anda.

Untuk pertanyaan software PHAST di dpt dari mana? klo anda rajin,browsing di internet ada kok yang ngeshare secara gratis,tapi saran dari saya sich sebaiknya anda JANGAN menggunakan software ini untuk penelitian anda karena nanti akan terbentur dengan licensi.

Klo mau yang freeware alias GRATIS dan pakai aja ALOHA ( silahkan cari via google ).

Untuk tambahan terakhir dari saya perkaya diri anda dengan jurnal2 ilmiah.

Mungkin untuk jawabab lebih detailnya Cak Garonk bisa menjelaskannya :), moggo cak waktu dan tempat saya persilahkan,hehe…

Tanggapan 7 – Crootth Crootth

Dani,

Jangan sekali kali menggunakan software jadi seperti PHAST, tanpa megerti permasalahannya secara detail.

Filosofi perhitungan jauh lebih penting dari software software itu.

Software sejati hanyalah mesin / logic solver yang fungsinya hanya memudahkan, diri kita inilah yang lebih penting dari software tersebut.

Saran saya, gunakan perhtungan manual, karena anda masih mahasiswa… jika sudah menguasai benar perhitungan manual, hal itu akan lebih mudah.

Tanggapan 8 – Dani Silalahi

mas Darmawan, untuk standard HSE UK bisa dicari atau didapatkan dimana…?

Tanggapan 9 – Henry Krisyanto

Brother Dani,,,

bener juga tuch dengan apa yang dikatakan oleh Abang-abang senior kita….

Tadinya untuk skripsi, aku juga mau pake software untuk ukur F&EI…tapi, engineer di kantor bilang: ‘ketika jadi mahasiswa, jangan pake software dulu alasannya supaya sense of calculation kita bisa dilatih dan dipertajam (ini yang paling penting)’. Lagipula, dalam skripsi penggunaan Software dapat dilakukan jika kita punya license untuk menggunakannya…

Oke Bro, selamat berjuang..