Kami sedang melakukan FS untuk suatu plant project. Sebagai media pendingin pada heat exchanger salah satunya kami akan menggunakan air laut. Yang ingin saya tanyakan adalah berapa maksimum temperature air laut yang diperbolehkan untuk dikembalikan ke laut menurutPERATURAN PEMERINTAH.

Tanya – Huyon Shef huyon@styrindo

Bapak Bapak yth,

Kami sedang melakukan FS untuk suatu plant project. Sebagai media pendingin pada heat exchanger salah satunya kami akan menggunakan air laut. Yang ingin saya tanyakan adalah berapa maksimum temperature air laut yang diperbolehkan untuk dikembalikan ke laut menurut PERATURAN PEMERINTAH. Mohon bantuannya jika Bapak ada yang tahu.

Catatan: Peraturan pemerintah untuk waste water maksimum temperaturnya adalah 38degC. Apakah sama juga untuk sea water return?

Terima kasih atas bantuannya.

Tanggapan 1 – Ikhsan@asc

Dear Pak Huyon Shef,

Kebetulan saya bekerja di lokasi Anyer-Cilegon (PT.ASC) , untuk ketentuan Temperatur max. limbah cair & air laut yg boleh dibuang ke laut adalah 40 oC dengan refferensi :

1. Untuk air laut yg dibuang kembali ke laut : Kep.Walikota Cilegon No:6 tahun 2002

2. Untuk limbah cair (titik pengukuran di Final outlet) : Kep.Walikota Cilegon No : 658.31 tahun 2003

Note : Tetapi yang Bapak sampaikan temperatur maximum limbah cair ke laut 38 oC apa nggak keliru (…..no berapa peraturannya).

Tanggapan 2 – Huyon Shef@styrindo

Untuk Pak Ikhsan.

Terima kasih atas informasinya.

Sorry Pak, setelah saya konfirmasi ke KLH serang ternyata memang benar maksimum temperature limbah cair adalah 40degC Kep-51/MENLH/10/1995. Tapi yang dianjurkan oleh pemerintah Serang adalah paling tinggi 38degC. Karena ini sudah clear maka sebaiknya topic untuk Maximum Sea Water Return Temperature ditutup saja. Terima kasih sekali lagi.

Untuk Pak Putu,

Terima kasih atas informasinya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu untuk seismic coefficient (SC) saya tanyakan di KMI-Banten mailis karena data yang diperlukan adalah sebagai reference. Seperti kita ketahui Banten terletak pada garis batas Zona-3 (SC = 0.2~0.25) dan Zona-4 (SC = 0.1) untuk itu saya ingin tahu Zona mana yang banyak dipakai untuk mendisain konstruksi pabrik2 yang berada di wilayah Banten. Tapi sampai saat ini baru Pak Putu yang meresponnya. Mungkin rekan2 didaerah Banten lainnya bisa memberikan informasi mengenai desain pabriknya dan saya tunggu. Atau mungkin rekan2 migas yang lain pernah mendisain pabrik di wilayah Banten juga saya harapkan infonya.

Tanggapan 3 – Ikhsan@asc

Dear Pak Huyon,

Saya hanya menambahkan informasi dari rekan saya Pak Putu Mudhita mengenai seismic coefficient di wilayah Banten .
Berdasarkan document IPAL PT.ASC (sekitar tahun 1996) tertulis mengenai ‘Numerical coefficient for seismic load) sbb :

a. Untuk Buildings & Structure, yg dipakai Zone 4 (refferensi : Indonesian Seismic Design Code, 1981)

b. Untuk Towers, Vessels, Tanks,Rotating equipment adalah 0.1 (hanya pada posisi horizontal)

Mungkin documentnya sudah ada yg baru, tetapi jika belum ada bisa memakai data2 diatas sebagai refferensi. Jika ada refferensi lain, saya juga ingin mengetahuinya.

Tanggapan 4 – Huyon Shef @styrindo

Terima kasih Pak Ikhsan,

Pabrik 1 dan Pabrik 2 kami juga menggunakan design 0.1 atau Zone-4. Tapi waktu itu saya tidak terlibat dalam project2 tersebut dan saya tidak tahu team project yang lalu mengambil reference dari mana. Sebab setelah saya tanyakan ke BMG Serang ternyata Banten berada diantara Zona 3 dan Zona 4 sehingga saya ingin membandingkan dengan Pabrik2 lain di wilayah Banten mereka pakai Zona yang mana. Info tersebut akan menjadi pertimbangan bagi kami untuk memilih Zona yang akan digunakan pada disain konstruksi nantinya. Untuk lebih aman memang lebih baik memakai zona-3 tapi cost impactnya besar.
Sekali lagi terima kasih.

Tanggapan 5 – errolt@technip

Rekan Migas yth.,

BSN (Badan Standardisasi Nasional) pada tahun 2002 telah mengeluarkan peraturan baru yaitu SNI 03-1726-2002 mengenai Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung yang penyusunannya diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata yang mana berarti peraturan baru ini menggantikan peraturan yang lama.

Pembagian wilayah gempa (seismic zone) dari peraturan yang baru ini berbeda sama sekali dengan peraturan yang lama, yaitu pada peraturan lama wilayah gempa 6 adalah wilayah yang mempunyai risiko gempa yang paling kecil dan wilayah gempa 1 adalah wilayah yang mempunyai risiko gempa yang paling besar, pada peraturan yang baru ini adalah kebalikannya yaitu wilayah gempa 6 adalah wilayah yang mempunyai risiko gempa yang paling besar dan wilayah gempa 1 adalah wilayah yang mempunyai risiko gempa yang paling kecil.

Perubahan lain adalah dalam formulanya, yaitu Peraturan lama yang cenderung mengikuti New Zealand Code, formula gaya geser dasar akibat gempa (untuk statik ekuivalen) adalah V = (CIK)Wt sedang peraturan baru yang cenderung mengikuti UBC 97, formula gaya geser dasar akibat gempa (untuk statik ekuivalen) adalah V = {(C1.I)/R}Wt.

Untuk detailnya silahkan membaca peraturan baru yang tersebut diatas.